Jakarta, CNBC Indonesia - Cara masyarakat menonton sebuah tayangan, termasuk pertandingan olahraga, kini berubah drastis. Televisi dan layanan streaming memang masih menjadi platform utama untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.
Namun, makin banyak orang, terutama generasi muda, yang beralih ke media sosial untuk menonton cuplikan pertandingan, video atlet, hingga konten kreator olahraga.
Perubahan perilaku tersebut terlihat saat final NBA musim ini. Meski laga final berhasil mencatat rata-rata 20,6 juta penonton per pertandingan melalui jaringan ABC dan ESPN milik Disney, percakapan dan konsumsi konten di media sosial justru memecahkan rekor baru.
NBA mengungkapkan, seri final lima pertandingan antara New York Knicks dan San Antonio Spurs menghasilkan lebih dari 15 miliar tayangan di media sosial, hampir tiga kali lipat dibanding rekor sebelumnya yang tercipta pada 2025. Bahkan, pertandingan kelima saja mencatat lebih dari 4 miliar tayangan di berbagai platform media sosial.
Fenomena ini menjadi gambaran bagaimana liga olahraga profesional kini berlomba menarik perhatian penggemar baru, terutama Generasi Z dan Alpha, yang makin banyak menghabiskan waktu di platform digital seperti TikTok dan YouTube.
Jonathan Miller, mantan eksekutif Fox Corp. dan NBA yang kini menjabat CEO Integrated Media, mengatakan menjangkau generasi muda kini menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar pilihan.
"Menjangkau dan membangun basis penggemar olahraga dari kalangan muda merupakan prioritas utama liga. Dalam lanskap media yang semakin terfragmentasi saat ini, memiliki basis penggemar muda bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan untuk memastikan masa depan yang sehat," kata Miller, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (26/6/2026).
Orang Tak Lagi Menonton Pertandingan Penuh
Perubahan juga terlihat dari cara penggemar menikmati olahraga. Jika sebelumnya banyak orang menyaksikan pertandingan secara penuh, kini mereka lebih memilih menonton cuplikan, momen penting pertandingan, wawancara atlet, hingga konten yang dibuat kreator di media sosial.
Laporan State of U.S. Sports Viewing 2025 dari S&P Global menunjukkan sebanyak 68% penggemar olahraga masih menonton pertandingan langsung melalui televisi atau layanan streaming. Namun, 38% responden mengaku lebih sering menyaksikan cuplikan pertandingan, wawancara, dan video pendek melalui media sosial maupun YouTube. Sementara 12% lainnya aktif berinteraksi dengan akun media sosial pemain, klub, maupun liga olahraga.
Presiden IMG Global Sports Marketing, Adam Kelly, menilai perubahan tersebut merupakan evolusi cara masyarakat mengonsumsi konten olahraga.
"Yang kita lihat saat ini adalah evolusi konsumsi konten," ujar Kelly.
Data Nielsen juga menunjukkan pertandingan olahraga yang ditayangkan eksklusif melalui layanan streaming secara konsisten menarik penonton yang lebih muda dibandingkan siaran televisi konvensional.
Para pelaku industri menilai media sosial bukan pengganti televisi atau streaming, melainkan pintu masuk yang mendorong orang akhirnya menonton pertandingan secara langsung.
Senior Vice President Media Rights Consulting Octagon, William Mao, mengatakan ledakan konten olahraga di media sosial merupakan upaya perusahaan menjangkau generasi muda di platform yang memang sudah mereka gunakan setiap hari.
"Perusahaan harus menargetkan dan melibatkan demografi yang lebih muda, para konsumen masa depan, di tempat mereka berada," kata Mao.
Menurutnya, persaingan kini juga terjadi dalam perebutan hak menayangkan cuplikan pertandingan. Bahkan, negosiasi hak siar kini mencakup berapa lama sebuah cuplikan boleh tayang secara eksklusif di satu platform sebelum bisa dipublikasikan di platform lain.
Harapannya, video-video pendek tersebut mampu membangkitkan minat generasi muda untuk menyaksikan pertandingan secara penuh.
Kepala Global Sport TikTok, Rollo Goldstaub, mengungkapkan sekitar 42% pengguna yang menonton konten olahraga di TikTok kemudian melanjutkan dengan menonton pertandingan langsung melalui televisi atau layanan streaming.
"Kami bisa menjadi mitra yang mendorong nilai dari para penggemar muda dan kemungkinan lebih banyak penggemar perempuan, kelompok yang selama ini sulit dijangkau penyiar," ujarnya.
Di sisi lain, perusahaan teknologi kini tidak lagi sekadar menjadi tempat menonton cuplikan pertandingan. Mereka mulai masuk sebagai pemegang hak siar utama berbagai kompetisi olahraga.
YouTube, Prime Video, Apple, hingga Netflix semakin agresif memperoleh hak siar pertandingan dan berhasil menarik jutaan penonton.
Komisioner NFL Roger Goodell sebelumnya juga menegaskan pentingnya menghadirkan pertandingan di platform streaming yang banyak digunakan generasi muda. Sementara NBA dalam kontrak media terbarunya memilih Prime Video sebagai salah satu mitra siaran, menggantikan TNT Sports milik Warner Bros. Discovery.
Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. NBA mencatat beberapa pertandingan dengan rating tertinggi musim ini, sementara siaran Thursday Night Football di Prime Video membukukan musim dengan jumlah penonton terbesar sepanjang sejarah program tersebut.
(fab/fab)
Addsource on Google

2 hours ago
1

















































