Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menganggap, indikator kecukupan likuditas yang selama ini digunakan di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersifat ilusif. Artinya, data yang muncul tidak mencerminkan kondisi riil di sistem keuangan.
Ia menyebutkan, indikator yang terbilang ilusif dan digunakan sebagai standar dalam melihat kecukupan likuiditas di perbankan di antaranya Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD).
"Itu cenderung tidak memberikan informasi apa-apa. Selama saya di KSSK juga, lima tahun terakhir sampai sekarang selalu angkanya bagus. Padahal kadang-kadang perbankannya susah. Jadi itu ilusif, artinya menyembunyikan keadaan yang sesungguhnya," ujar Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Karena itu, Purbaya menekankan, saat ini yang digunakan Kementerian Keuangan dalam melihat kecukupan likuiditas di perbankan ialah menggunakan indikator base money alias M0.
Indikator pertumbuhan uang primer itu ia anggap lebih jelas dalam melihat kondisi likuiditas perbankan.
"Kita balik ke teori yang gampang di moneter itu kita lihat base money seperti apa, itu utama yang saya lihat yang betul-betul melihat kebijakan bank sentral di perekonomian seperti apa," ucap Purbaya.
Selain indikator base money, ia mengaku melihat langsung suara dari jajaran direksi perbankan.
"Ini saya dengerin banknya ribut atau enggak, kalau banknya ribut yasudah, tapi kalau banknya enggak ribut berarti bagus. Katanya sebelumnya kredit bank tumbuh 11,5%, tapi tadi para pemimpinan bank bilang bisa turun signifikan sekali kalau tidak diperbaiki kondisi likuiditasnya," tegas Purbaya.
Oleh sebab itu, Purbaya menekankan, dirinya telah memutuskan untuk kembali memasok likuiditas di perbankan melalui penempatan dana menganggur pemerintah di Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga akhir tahun senilai Rp 400 triliun.
"Karena ini menunjukkan kebijakan saya berpengaruh ke perekonomian, ke perbankan. Karena selama ini itu yang menopang pertumbuhan ekonomi tumbuh di atas 5,5%. Enggak disuntik, saya cuma mindahin uang saya ke sana, dari pajak, dari bond," ujar Purbaya.
"Saya manage cash supaya ketika diambil pun dia bisa cepat balik ke sistem, sehingga sistemnya enggak terganggu. Itu bukan kebijakan fiskal sebetulnya itu kebijakan moneter, tapi kita coba membantu," tegasnya.
(arj/arj)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































