Tamiang, Ratapan Kota yang Terkubur Lumpur

11 hours ago 17

“Sebaiknya bertahan saja di Langsa, kondisi Tamiang lebih parah dan mengerikan,” kata Dede Harison, jurnalis KBA.ONE, dari seberang telepon. Klik—komunikasi terputus.

BUNYI KECIL itu lalu menjadi penanda: ban Honda CR-V menggesek lumpur tebal—serrrkh… serrrkh…. Selasa malam, 2 Desember 2025, tim Jaringan Jurnalis Investigasi Sumatera (JJIS) menembus gelap jalinsum, meninggalkan Kota Langsa setelah tujuh hari “terkurung” banjir: tanpa listrik, tanpa sinyal, tanpa kabar dari dunia luar, bahkan untuk keluarga. Ramadan menggenggam kemudi. Maskur Abdulah, duduk tegang di sisi kiri. Rizaldi Anwar di kursi belakang berbisik, setengah bercanda, setengah pasrah: “Kita ini juga penyintas.”

Sepekan sebelumnya, tim JJIS tidur di mobil, berpindah-pindah mencari tanah lebih tinggi. Makan seadanya—telur ceplok, mi instan, roti yang hampir kedaluwarsa—sambil menghitung sisa air minum. Keletihan bekerja tanpa suara, tetapi membuat keputusan jadi sederhana: bertahan atau bergerak.

Langsa sempat menjadi kota yang macet, ingar bingar. Toko-toko mengatup, mesin ATM mati, pasar kehilangan nadi. Beberapa kedai ritel dijarah warga yang lapar. Antrean bensin mengular panjang; berpuluh jam. Dalam bencana, antrean BBM bukan lagi soal kendaraan, melainkan soal hidup.

Kilas baliknya bermula Rabu, 26 November 2025. Sehari sebelumnya tim JJIS berangkat dari Medan, sempat bermalam di Idi, Aceh Timur, karena badai—berniat menuju Banda Aceh—lalu “dipaksa” memutar haluan. Sepanjang perjalanan, mereka beberapa kali tertahan banjir bandang: air setinggi paha orang dewasa mengalir deras, menutup ratusan meter badan jalan. Warnanya cokelat susu, bergerak zig-zag, seakan jalan menjadi sungai dadakan.

Kamis siang, tim lolos dari empat titik paling berbahaya di Sungai Raya, 27 kilometer dari Langsa. Hujan lebat mencapai puncaknya pada satu malam ketika langit terasa membuka pintu air raksasa.

BMKG menyebut pembentukan Siklon Tropis Senyar di sekitar perairan dekat Selat Malaka ikut memicu hujan ekstrem dan angin kencang. Sungai-sungai tak sanggup menahan kiriman bah dari hulu.

Listrik Langsa padam. Telekomunikasi tumbang. Kota kehilangan cahaya dan kabar. Dalam gelap, orang-orang mengetuk pintu tetangga, meminjam senter, menumpang colokan genset. “Jaringan” yang benar-benar hidup adalah jaringan kemanusiaan.
Di sela gelap itu, antrean BBM jadi pemandangan harian. “Antrenya dari habis subuh sampai menjelang Ashar,” keluh Rizaldi, Redpel Waspada.Id.

Harga bensin eceran meroket—tembus Rp100 ribu per liter. Rahmad, jurnalis di Langsa, menunjukkan foto transaksi BBM lewat “pintu belakang” antara petugas SPBU dan pedagang eceran.

Langsa kian rapuh. Warga hidupnya mulai nafsi-nafsi. Setiap jam tanpa sinyal membuat orang mudah cemas, dan rumor banjir beredar lebih cepat daripada fakta.

Negara pun tampak serba terbatas. “Kami dan keluarga kami juga korban, Pak,” kata seorang polisi di Polsek Langsa, Kamis 27 November 2025. Ia menunjuk truk polisi yang mogok terendam di perempatan dekat SPBU. “Yang mogok itu mobil kami.”

Melihat kondisi memburuk, tim JJIS sempat berniat bergeser ke Kualasimpang jika air mereda. Namun peringatan dari Dede Harison, rekan jurnalis di Tamiang, datang lebih dulu—dan menutup telepon.

Tim berhimpun di sekitar SPBU bersama pelintas dan penyintas lain. Mereka menyaksikan air bergerak dengan cara mengerikan: pelan, pasti, dan tak bisa diprediksi. Jalan utama terendam setinggi dada orang dewasa. Kanal di Kampung Jawa jebol—“itu daerah terparah,” ujar seorang penyintas.

Truk Towing yang gagal menembus Aceh Tamiang. | Foto: Waspada.id

Lumpur mengendap di lantai rumah, perkantoran, bahkan beberapa rumah ibadah. Sumur tercemar air kotor dari hulu sungai. Kota itu lumpuh sepekan.
Menjelang siang, Kamis 27 November, banjir mulai surut. Tim JJIS bergerak ke Bukit Tinggi, perbatasan Langsa-Tamiang, sempat nginap dua malam setelah gagal menerobos banjir menggunakan truk towing. Gelombang air terlalu deras dan dalam. “Kita kembali saja ke Langsa,” kata Ramadan, Sabtu pagi 29 November 2025.

Sabtu menjelang siang, Ali Hasan Dalimunthe—kawan sesama penyintas—membawa tim JJIS ke Kantor Bea Cukai Langsa untuk menemui Irawan, temannya. Namun Irawan ternyata sedang berada di Pelabuhan Kuala Langsa. Setiba di sana, barulah tim bisa mengabari keluarga—melalui kapal patroli. Bea Cukai Langsa membuka akses internet terbatas (Starlink) di Kapal Patroli TBK 30001 yang sandar di Pelabuhan Kuala Langsa.

“Semoga ini bisa membantu dan meringankan beban psikologis korban banjir yang sudah berhari-hari tidak bisa kontak dengan keluarga,” kata Kepala Bea Cukai Langsa, Dwi Harmawanto.

Sepekan terjebak banjir di Langsa, “Kami baru melihat helikopter berputar di atas Kota Langsa pada Selasa, 2 Desember 2025, sekitar pukul 16.34 WIB,” kata Maskur Abdullah, Redpel Waspadaaceh.com—yang sejak awal tak berhenti mencatat setiap gerak peristiwa.

Melintas Tamiang: Gelap yang Lebih Pekat

Keluar dari Langsa selepas Magrib, Selasa 2 Desember, bukan berarti keluar dari bencana. Jalan lintas Langsa–Kualasimpang–Pangkalan Brandan masih menakutkan. Dari Manyak Payed hingga Kota Kualasimpang, aspal nyaris tak tampak: badan jalan terbelah, material banjir menutupinya—puing atap, bongkahan tembok, lemari, kasur, panci, mainan anak, sampai kendaraan bergelimpangan.

Di pinggir jalan, warga duduk bergerombol menyalakan api unggun dari ban bekas dan kayu sisa reruntuhan. Sebagian terbaring, pucat, berlumur lumpur, menatap jauh seolah mencari alamat yang tak lagi ada.

Sesekali ada yang menyetop mobil, meminta seteguk air atau makanan ringan, mengulurkan kotak sumbangan dari kardus mi instan. Tim JJIS membagi sisa bekal. Mereka menerimanya tanpa banyak bicara.

Saat memasuki Kualasimpang, yang pertama menyergap adalah bau menyengat: campuran air membusuk, kayu basah, lumpur yang lama mengendap—dan sesuatu yang samar, seperti aroma rumah yang baru ditinggalkan penghuninya. Ramadan spontan menyebutnya “kota zombi”. “Aku ingin menangis melihatnya,” kata Redaktur Senior Waspada.id. ini.

Namun Aceh Tamiang bukan hanya kota kabupaten. Di balik simpang-simpang jalan itu, ada kawasan yang benar-benar dilibas banjir bercampur lumpur; kabar tentang mayat-mayat bergelimpangan hadir sebagai fakta yang menutup mulut.

Aceh Tamiang berada di ujung timur Aceh. Secara administratif, kabupaten ini terdiri dari 12 kecamatan dengan ratusan desa, luas sekitar 1.956,72 km². Jalur lintas yang biasanya sibuk mengantar orang dan barang, pada akhir 2025 berubah menjadi koridor bencana.

Desa yang Hilang, Desa yang Tertimbun

Di Desa Sekumur, sejumlah laporan menyebut permukiman nyaris rata dengan tanah. Rumah-rumah tertimbun kayu gelondongan dan balok besar yang hanyut. Yang tersisa hanya masjid, berdiri sendirian di tengah hamparan kayu dan lumpur.

Di Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, foto-foto memperlihatkan warga berdiri di sisi rumah yang hancur. Jalan nasional Medan–Banda Aceh masih tergenang; kendaraan melintas pelan, banyak yang ragu, memilih bermalam di jalan. Ada kesaksian warga bertahan berhari-hari tanpa makan; air disebut mencapai beberapa meter dari badan jalan.

Di titik lain, tumpukan kayu gelondongan memutus akses antardesa—misalnya jalur penghubung Desa Tanjung Karang dan Desa Menang Gini—hingga alat berat dikerahkan untuk membuka jalan.

Nama kampung berulang di mulut warga: Pematang Durian (Kecamatan Sekerak), Pantai Cempa, Babo, Sulum. Kisahnya serupa: terisolasi, bantuan tak sebanding, orang-orang menunggu tanpa banyak kata.

Di lokasi-lokasi itu, rumah dihantam air yang membawa “barang tambahan” dari hulu: kayu gelondongan.

Di tengah situasi seperti itu, pemerintah daerah memilih bertahan. Bupati Armia Fahmi—jenderal polisi purnawirawan—tidak mengibarkan “bendera putih” seperti beberapa bupati lain. Ia menetapkan status darurat. “Pak Armia bertahan di tengah bencana bersama rakyatnya,” kata Syawaluddin, jurnalis senior, di Karang Baru, Rabu 30 Desember 2025.

“Benda Mati” yang Menjadi Senjata

Banjir bandang Aceh Tamiang menyeret perut hutan. Gelondongan kayu meluncur seperti peluru besar—benda mati yang berubah jadi senjata ketika arus memberinya tenaga. Kayu menabrak dinding, merobek pagar, memukul tiang listrik yang lemah, bahkan mengunci pintu rumah dari luar. Lumpur menyusul, menambal jalan, mengubur halaman, menutup selokan.

Presiden Prabowo sempat meninjau langsung tumpukan gelondongan yang terbawa banjir sampai ke permukiman warga. Ia berhenti di sekitar jembatan, menatap kayu, puing bangunan, dan barang rumah tangga yang terseret. Log bukan lagi seonggok bukti; ia menyimpan pertanyaan: dari mana semua kayu itu datang, dan mengapa bisa sebanyak itu?

Beberapa hari setelahnya, Bareskrim Polri menyelidiki dugaan penebangan liar di sepanjang Sungai Tamiang. Disebut ada indikasi mekanisme “panglong”: kayu dipotong, ditumpuk di bantaran, lalu dihanyutkan ketika air naik—seolah sungai dijadikan jalur angkut yang menunggu banjir sebagai kendaraan.

Di titik ini, banjir bandang terasa seperti perang yang aneh: musuhnya tak terlihat, tetapi “amunisinya” bisa dihitung dari gelondongan yang menumpuk di bawah jembatan.

Data yang Mengunci Tragedi

Laporan BNPB per Kamis 1 Januari 2026 mencatat, di Aceh Tamiang, 101 orang meninggal dunia dan 23 orang masih dinyatakan hilang. Jumlah pengungsi mencapai 262.087 jiwa. Kerusakan rumah dilaporkan 2.262 unit, termasuk 780 unit rusak berat. Dampak merambah fasilitas publik: sarana pendidikan, ibadah, perkantoran, dan fasilitas kesehatan ikut terdampak.

Di balik angka, tragedi punya wajah: seorang ibu memeluk anak sambil menatap arus sisa; seorang lelaki berdiri di depan bekas rumahnya—bukan untuk menangis, melainkan karena tak tahu harus mulai dari mana. Pada hari-hari awal, tim JJIS mencatat betapa pertolongan tak selalu bisa menjangkau semua orang. Di lapangan, “negara” akhirnya berarti perahu karet yang tiba sebelum keadaan memburuk, dan air bersih yang datang sebelum diare.

Huntara Berdiri, Luka Belum Berhenti

Awal Januari 2026, linimasa menunjukkan pergerakan konkret. Pemerintah dan BUMN membangun hunian sementara. Dalam berbagai laporan, 600 unit huntara di Aceh Tamiang dijadwalkan diserahkan kepada pemerintah daerah pada 8 Januari 2026, lengkap dengan Wi-Fi, musala, dapur umum, serta toilet dan kamar mandi.
Huntara menjawab satu pertanyaan paling dasar: orang-orang ini tidur di mana. Tetapi sesudah itu, pertanyaan lain berdiri: bagaimana orang bekerja ketika kebun, warung, dan akses jalan tertimbun? Bagaimana anak sekolah ketika kelas berubah jadi lumpur? Bagaimana rasa aman dipulihkan ketika setiap hujan terdengar seperti ancaman?

Tim pulang membawa catatan tentang manusia: kota yang mati lampu, lalu manusia mencoba menyalakan diri sendiri; desa yang hilang, lalu orang tetap memanggil namanya; dan kayu gelondongan yang datang seperti pasukan tanpa seragam—membuat kita baru menoleh ke hulu ketika hilir sudah porak-poranda.

Di Aceh, kata “perang” selalu punya auman. Banjir bandang ini terasa seperti perang tanpa musuh yang bisa ditangkap; yang bisa dipilih manusia hanya sikapnya—hadir cepat atau datang belakangan membawa alasan. Kemanusiaan diuji pada hal sederhana: sebotol air yang dibagi, jalan yang dibuka dari tumpukan kayu, dan keberanian untuk tidak mengalihkan pandang dari lumpur yang mengubur harapan.

Ketika tim JJIS meninggalkan Tamiang malam itu, CR-V masih menggesek lumpur: serrrkh… serrrkh…. Bunyi kecil, tetapi seperti peringatan yang menolak padam. Setelah air surut, yang tertinggal bukan hanya endapan di tanah, melainkan endapan di ingatan—melekat, mengeras, sulit disapu.

Secercah harapan. Huntara di Aceh Tamiang yang baru diresmikan Presiden Prabowo.

Barangkali di situlah anomali paling pekat: kita sering sibuk mencari musuh di luar, padahal yang paling merusak justru kelalaian kita sendiri—di hulu, di meja kebijakan, di ruang pengawasan—yang membiarkan hutan dirambah serampangan, lalu menghantam rumah warga tak berdosa. Yang rubuh bukan semata bangunan, melainkan rasa aman dan ratusan nyawa yang ikut terkubur lumpur pekat Aceh Tamiang.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. | Laporan RAMADAN MS, Tim JJIS.

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |