Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
04 May 2026 20:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran mulai membuka kelemahan yang jarang terlihat dari alat utama sistem senjata (alutsista) perang Washington. Rudal bisa ditembakkan dalam hitungan menit, tetapi butuh bertahun-tahun untuk menggantinya.
Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan, AS telah memakai porsi besar dari sejumlah amunisi penting dalam tujuh pekan pertama perang Iran. Untuk mengembalikan stok tujuh jenis amunisi utama ke posisi sebelum perang, AS diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga empat tahun.
Ini menjadi masalah besar karena perang sekarang tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih senjata, tetapi juga kemampuan sebuah negara menjaga pasokan amunisi.
Dalam kasus AS, perang Iran memperlihatkan bahwa industri pertahanan belum tentu mampu mengimbangi laju penggunaan rudal di medan perang.
Rudal Mahal Habis dalam Hitungan Pekan
Berdasarkan laporan CSIS, AS telah menggunakan sedikitnya 45% stok Precision Strike Missiles dalam perang Iran. Washington juga disebut telah memakai sekitar 50% persediaan Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD, serta hampir separuh stok rudal pencegat balistik Patriot.
Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya stok senjata strategis AS bisa terkuras. Dalam waktu kurang dari dua bulan, Washington sudah memakai hampir separuh dari beberapa amunisi yang selama ini menjadi tulang punggung operasi militernya.
Berdasarkan estimasi CSIS, AS juga sudah menggunakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk dari perkiraan stok sebelum perang sebanyak 3.100 unit. Tomahawk merupakan rudal jarak jauh yang bisa ditembakkan dari laut untuk menyerang target darat secara presisi.
Selain itu, AS juga menggunakan rudal JASSM untuk serangan jarak jauh dari udara. Rudal ini diperkirakan sudah terpakai lebih dari 1.100 unit dari stok awal sekitar 4.400 unit.
Tekanan lebih besar terlihat pada sistem pertahanan udara dan rudal. AS diperkirakan telah menggunakan 1.060 hingga 1.430 rudal Patriot dari stok sebelum perang sekitar 2.330 unit. Untuk THAAD, pemakaiannya diperkirakan mencapai 190 hingga 290 unit dari stok awal sekitar 360 unit.
Rudal SM-3 yang digunakan untuk mencegat rudal balistik juga diperkirakan sudah terpakai 130 hingga 250 unit dari stok sekitar 410 unit. Sementara itu, SM-6 diperkirakan telah digunakan 190 hingga 370 unit dari stok awal sekitar 1.160 unit.
Masalahnya, rudal-rudal ini bukan amunisi biasa. Patriot, THAAD, SM-3, hingga SM-6 merupakan bagian penting dari sistem pertahanan udara dan rudal AS. Senjata seperti ini mahal, rumit, dan tidak bisa diproduksi massal semudah peluru artileri atau drone.
Masalah Utamanya Ada di Waktu Produksi
Di sinilah persoalan utama AS muncul. Stok rudal bisa turun tajam hanya dalam beberapa pekan, tetapi proses pengisiannya kembali membutuhkan waktu bertahun-tahun.
CSIS memperkirakan, butuh satu hingga empat tahun untuk mengembalikan stok tujuh amunisi utama AS ke level sebelum perang Iran. Artinya, tambahan pesanan hari ini belum tentu langsung menutup kekurangan dalam waktu dekat.
Dalam artikel sebelumnya, estimasi CSIS juga menunjukkan sejumlah amunisi kunci memiliki waktu pengiriman sangat panjang. Patriot membutuhkan sekitar 42 bulan, Tomahawk sekitar 47 bulan, JASSM sekitar 48 bulan, SM-6 sekitar 53 bulan, THAAD sekitar 53 bulan, dan SM-3 IIA bahkan bisa mencapai 64 bulan.
Dengan waktu produksi sepanjang itu, tambahan anggaran pertahanan tidak otomatis menyelesaikan masalah. Pemerintah bisa menambah belanja, tetapi pabrik tetap membutuhkan komponen, kapasitas produksi, tenaga kerja khusus, dan waktu pengujian sebelum rudal bisa dikirim ke militer.
Pentagon Kebut Produksi Rudal
Tekanan terhadap stok amunisi membuat Pentagon mulai menata ulang strategi produksi rudalnya.
AS tidak hanya perlu membeli lebih banyak senjata, tetapi juga memastikan industri pertahanannya mampu memproduksi amunisi dengan laju yang lebih cepat.
Salah satu langkahnya terlihat dari pembentukan Munitions Acceleration Council (MAC). Dewan ini dibentuk untuk mempercepat produksi senjata dan memperkuat kembali stok amunisi AS yang terkuras.
Dalam dokumen anggaran fiskal 2027, MAC mengidentifikasi 14 jenis amunisi kritis yang menjadi prioritas.
Daftar tersebut mencakup 12 senjata lama yang masih menjadi tulang punggung operasi militer AS dan dua kemampuan baru yang dinilai penting untuk menghadapi ancaman masa depan.
Anggaran Naik, Tapi Tidak Instan
AS juga menyiapkan kenaikan besar dalam belanja rudal. Dalam rancangan anggaran fiskal 2027, Washington mengajukan US$70,5 miliar untuk pengadaan rudal. Angka ini melonjak 188% dibanding anggaran fiskal 2026.
Sekitar US$40 miliar atau 55% dari permintaan tersebut diajukan melalui skema reconciliation. Skema ini memberi fleksibilitas lebih besar karena dana wajib atau mandatory funding tersedia dalam periode yang lebih panjang dibanding anggaran diskresioner biasa.
Dengan skema itu, Pentagon berharap bisa menyebar penggunaan dana dalam beberapa tahun dan membuat kontrak multiyear dengan perusahaan pertahanan. Tujuannya agar produsen memiliki kepastian permintaan dan berani memperluas kapasitas produksi.
Namun, lonjakan belanja belum tentu langsung membuat stok rudal pulih. Produksi rudal canggih tetap membutuhkan rantai pasok panjang, komponen khusus, fasilitas produksi, dan tenaga kerja terlatih.
Pentagon bahkan mulai mendorong kontraktor pertahanan untuk ikut menanggung risiko. Perusahaan diminta menanamkan modal untuk memperluas kapasitas produksi. Jika target peningkatan produksi tidak tercapai, kontraktor dapat dikenai penalti.
Langkah ini menunjukkan bahwa Washington tidak lagi hanya mengandalkan pola belanja biasa. Pemerintah AS ingin memastikan perusahaan pertahanan benar-benar meningkatkan kapasitas, bukan sekadar menerima pesanan baru.
Salah satu langkah yang sudah berjalan adalah kerja sama dengan Honeywell Aerospace melalui investasi multiyear senilai US$500 juta untuk meningkatkan produksi komponen penting bagi stok amunisi AS.
Presiden Donald Trump juga meminta anggaran pertahanan sebesar US$1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027. Pentagon menyebut usulan tersebut sebagai lonjakan belanja pertahanan tahunan terbesar sejak Perang Dunia II.
Meski begitu, semua langkah tersebut tetap membutuhkan waktu. Uang bisa memperbesar kapasitas industri, tetapi tidak selalu bisa mempercepat waktu pengiriman secara instan.
Pada akhirnya, perang Iran menjadi pengingat bahwa kekuatan militer besar tetap memiliki batas. Rudal bisa habis dalam hitungan pekan, tetapi untuk mengisinya kembali, AS membutuhkan waktu hingga empat tahun.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

2 hours ago
3
















































