Serangan Trump ke Venezuela Jadi Pembuka Perang Lawan Iran?

1 day ago 7
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Penangkapan paksa Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) kini memicu kekhawatiran global akan terjadinya eskalasi militer di Timur Tengah. Langkah agresif Donald Trump di Amerika Latin dinilai banyak analis sebagai pesan peringatan sekaligus pembuka jalan bagi konfrontasi bersenjata dengan Iran.

Mengutip Al Jazeera, setelah serangan tersebut, Politisi senior Israel, Yair Lapid, langsung memberikan peringatan keras kepada Iran. Ia memberikan indikasi serangan itu mungkin juga dapat terjadi di Teheran.

"Rezim di Iran harus memperhatikan baik-baik apa yang sedang terjadi di Venezuela," tegas Lapid, mengisyaratkan bahwa pola serupa bisa saja menimpa Teheran.

Operasi terhadap Maduro terjadi kurang dari sepekan setelah Trump bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pertemuan tersebut, Trump mengancam akan kembali menggempur Iran jika negara itu membangun kembali program nuklir atau rudalnya.

"Jika mereka mencoba membangunnya lagi, kita akan menghancurkan mereka. Kita akan menghancurkan mereka habis-habisan," ujar Trump.

Jamal Abdi, Presiden National Iranian American Council (NIAC), menilai penangkapan Maduro menciptakan tatanan dunia yang semakin tidak stabil. Ia memperingatkan bahwa keberhasilan operasi "penculikan" kepala negara asing ini bisa memicu Iran untuk mengambil langkah ekstrem, seperti mempercepat pengembangan pencegah nuklir guna menghindari nasib yang sama dengan Maduro.

Aliansi Teheran-Caracas dalam Bidikan

Selama ini, Venezuela dan Iran merupakan sekutu dekat yang sama-sama berada di bawah tekanan sanksi berat AS. Keduanya memiliki hubungan dagang bernilai miliaran dolar. Dengan jatuhnya Maduro, jaringan sekutu Iran kian menyusut, menyusul runtuhnya Bashar al-Assad di Suriah dan melemahnya Hizbullah di Lebanon.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka mengaitkan kedua negara tersebut. Tanpa memberikan bukti, Rubio menuduh Caracas memberikan pijakan bagi kelompok Hizbullah di Belahan Bumi Barat.

Rubio menegaskan bahwa penangkapan Maduro adalah pesan bagi semua rival Washington. "Jika Trump mengatakan akan melakukan sesuatu, dia sungguh-sungguh."

Pemerintah Iran bereaksi keras dengan menyebut aksi AS sebagai "agresi melanggar hukum" dan meminta PBB melakukan intervensi. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, membalas dengan retorika menantang.

"Kami tidak akan menyerah. Kami akan membuat musuh berlutut," tegasnya.

Minyak Venezuela sebagai "Bantalan" Perang Iran

Satu poin krusial yang disorot oleh para pengamat dan anggota Kongres AS adalah faktor ketahanan energi. Anggota Kongres dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, menyatakan bahwa penguasaan atas cadangan minyak raksasa Venezuela adalah langkah strategis untuk mengamankan pasokan energi global jika perang pecah di Teluk Persia.

Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, yang kemungkinan besar akan ditutup oleh Iran jika terjadi perang total.

Dengan mengontrol minyak Venezuela, AS dianggap memiliki "bantalan" untuk meredam guncangan pasar energi jika konflik dengan Iran meletus.

Risiko "Perang Selamanya"

Meskipun Trump menyukai operasi kilat yang menunjukkan kekuatan, seperti pembunuhan Qassem Soleimani atau serangan situs nuklir Iran Juni lalu, para analis memperingatkan bahwa mengelola Venezuela pasca-Maduro tidak akan mudah.

Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, yang kini menjadi pemimpin interim, menuduh adanya "unsur Zionis" di balik penangkapan Maduro dan menolak tunduk pada AS. Trump pun langsung mengancam Rodriguez akan membayar "harga yang sangat mahal" jika tidak kooperatif.

"Ada kemungkinan AS justru terjebak dalam upaya mengelola Venezuela sehingga tidak memiliki kapasitas untuk melancarkan perang baru dengan Iran," kata Jamal Abdi.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |