Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
07 January 2026 12:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2025 mencatatkan sejarah baru bagi pasar modal Indonesia. Terjadi pergeseran arus investasi yang signifikan di mana investor mulai meninggalkan saham-saham perbankan yang sedang tertekan isu perlambatan kredit, dan beralih secara masif ke sektor riil.
Saham-saham BUMN di bawah holding Danantara yang bergerak di sektor industri dasar, pertambangan, dan transportasi menjadi primadona baru. Kenaikan harga saham mereka bukan didorong oleh spekulasi, melainkan oleh perbaikan fundamental yang nyata dan dukungan kebijakan strategis oleh Danantara.
Berikut adalah analisis kinerja lima emiten dengan kenaikan tertinggi tahun ini:
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) memimpin pasar dengan kenaikan harga saham yang luar biasa hingga mencapai 222,64%. Kinerja ini didorong oleh kombinasi antara penyehatan internal dan dukungan eksternal.
Secara internal, manajemen KRAS berhasil menyelesaikan restrukturisasi utang yang membuat beban keuangan perusahaan turun drastis, sehingga neraca keuangan menjadi jauh lebih sehat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dari sisi eksternal, sentimen positif datang dari dukungan politik yang kuat. Rencana pembentukan Panitia Khusus oleh DPR RI untuk membatasi impor baja ilegal menjadi katalis utama.
Pasar menilai kebijakan proteksionisme ini akan mengamankan pangsa pasar KRAS di dalam negeri, sehingga potensi pendapatan perseroan ke depan menjadi sangat menjanjikan dan terhindar dari persaingan harga yang tidak sehat.
PT Timah Tbk (TINS)
PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan kenaikan sebesar 186,64%, didukung oleh kondisi pasar komoditas yang sangat menguntungkan. Faktor utama pendorongnya adalah terjadinya defisit pasokan timah di pasar global yang mengerek harga acuan dunia ke level tinggi. Sebagai salah satu produsen timah terbesar, TINS menikmati margin keuntungan yang tebal dari tren harga ini.
Selain faktor global, sentimen domestik juga memegang peranan kunci. Langkah tegas pemerintah dalam menertibkan pertambangan timah ilegal di wilayah Bangka Belitung berdampak positif bagi perseroan.
Penertiban ini mengurangi kebocoran cadangan timah negara dan mengembalikan dominasi suplai kepada TINS sebagai pemegang izin resmi, sehingga volume produksi dan penjualan perseroan kembali optimal.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Kinerja saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melesat 103,88% tahun ini. Daya tarik utama ANTM bagi investor terletak pada kebijakan pembagian dividen yang sangat agresif, yakni sebesar 100% dari laba bersih. Kebijakan ini menjadikan saham ANTM sebagai instrumen investasi yang memberikan imbal hasil tunai tinggi, sangat menarik di tengah ketidakpastian pasar.
Di sisi operasional, ANTM diuntungkan oleh dua komoditas andalannya: nikel dan emas. Operasional penuh fasilitas pemurnian (smelter) nikel berhasil meningkatkan nilai tambah produk ekspor perusahaan.
Sementara itu, posisi emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven) yang banyak diburu investor global turut menjaga stabilitas pendapatan ANTM, menyeimbangkan volatilitas yang mungkin terjadi di segmen nikel.
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA)
Saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berhasil bangkit dengan kenaikan 81,48%. Momentum pemulihan ini dipicu oleh kepastian masuknya suntikan modal strategis dari Danantara sebesar Rp 23,67 triliun.
Dana segar ini sangat krusial karena berhasil memulihkan struktur permodalan perusahaan yang sebelumnya negatif (defisiensi modal) menjadi positif, sekaligus menghapus risiko kebangkrutan.
Selain perbaikan neraca, kinerja operasional Garuda juga semakin efisien. Ditopang dengan mengganti pejabat internal untuk meningkatkan efisiensi kinerja perusahaan, serta manajemen kini menerapkan strategi disiplin dengan hanya fokus pada rute-rute penerbangan domestik dan internasional yang terbukti mencetak laba.
PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP)
PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) menutup daftar lima besar dengan kenaikan 43,75%. Kinerja ini menandai keberhasilan perusahaan keluar dari tekanan keuangan yang berat.
WSBP secara konsisten menyelesaikan kewajiban utangnya kepada kreditur melalui skema konversi saham, yang membuat beban utang perseroan berkurang signifikan dan ekuitas meningkat.
Fundamental bisnis WSBP juga semakin kokoh berkat perolehan kontrak-kontrak baru yang strategis. Sebagai pemimpin pasar beton pracetak, WSBP mendapatkan porsi besar dalam suplai material untuk proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pendapatan usaha yang kembali tumbuh solid meyakinkan investor bahwa fase krisis telah berlalu dan perusahaan kini berada dalam fase pertumbuhan.
Fokus pada Kinerja, Bukan Sekadar Nama
Tahun 2025 memberikan pelajaran berharga bahwa pasar saham kini bergerak sangat rasional. Runtuhnya dominasi saham perbankan dan kebangkitan sektor riil membuktikan bahwa arus uang investor selalu mengikuti perbaikan kinerja, bukan sekadar nama besar.
Saham-saham seperti KRAS, TINS, hingga WSBP bisa terbang tinggi karena fundamentalnya membaik secara nyata, baik lewat pelunasan utang maupun dukungan pasar global. Ini adalah sinyal keras bagi investor untuk mengubah strategi.
Jangan lagi terpaku pada saham "aman" masa lalu yang sedang lesu. Mulailah melirik perusahaan yang sukses melakukan efisiensi dan punya momentum pertumbuhan jelas. Ke depan, diversifikasi ke sektor industri dan komoditas adalah kunci utama untuk meraih keuntungan maksimal.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

22 hours ago
3

















































