Sempat Swasembada, Luhut Ungkap Nasib Produksi Bawang Putih RI Kini

1 day ago 6
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, Indonesia sebenarnya pernah mencapai swasembada bawang putih pada tahun 1995. Namun, produksi bawang putih Indonesia terus menurun sejak tahun 2020. Untuk itu, kata dia, Indonesia harus memprioritaskan riset untuk menghasilkan varietas tanaman bawang putih yang unggul.

Hal itu terungkap dalam unggahan di akun Instagram resminya. Dalam unggahan itu, Luhut mengatakan telah berdiskusi dengan Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan pimpinan lembaga riset lainnya. Kata dia, diskusi itu membahas percepatan agenda ketahanan pangan nasional, menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto saat retret di Hambalang, Selasa (6/1/2026).

DEN, sebutnya, mendukung penguatan riset bibit bawang putih. Dengan begitu, akan mengurangi ketergantungan impor bibit dan impor bawah putih segar yang saat ini volumenya masih cukup tinggi.

"Indonesia pernah swasembada bawang putih pada 1995. Namun sejak 2020 produksinya terus menurun. Inilah mengapa kita perlu memprioritaskan varietas unggul dan riset berbasis sains," kata Luhut melalui Instagramnya @luhut.pandjaitan, dikutip Kamis (8/1/2026).

"DEN sepakat mendukung penguatan riset bibit bawang putih guna mengurangi ketergantungan impor bibit, sekaligus meningkatkan kontribusi riset bagi pertumbuhan ekonomi nasional," lanjut Luhut.

Produksi Masih di bawah Kebutuhan, Impor Tak Terhindarkan

Seperti kata Luhut, Indonesia memang benar pernah mencapai swasembada bawang putih. Pada tahun 1982, menjadi tonggak penting dalam sejarah swasembada bawang putih Indonesia.

Keberhasilan swasembada ini didukung oleh luas panen di sentra-sentra utama seperti Temanggung Jawa Tengah, Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, dan Enrekang Sulawesi Selatan. Ketiga daerah tersebut memiliki agroklimat ideal untuk budi daya bawang putih.

Namun, sejak pertengahan 1990-an, terutama setelah 1994, Indonesia mulai membuka impor bawang putih secara lebih luas, terutama dari China yang menawarkan harga jauh lebih murah. Meski begitu, produksi bawang putih nasional pada 1995 masih mencapai 152.000 ton.

Efek Krisis Moneter 1998

Dampak liberalisasi perdagangan semakin terasa setelah krisis moneter 1998, ketika deregulasi perdagangan memperbesar volume impor dan menyebabkan petani lokal kehilangan daya saing.

Akibatnya, luas panen dan produksi bawang putih nasional menurun drastis. Data menunjukkan, pada 2000, impor bawang putih sudah mencapai 174,14 ribu ton. Namun makin melonjak menjadi 587,94 ribu ton pada 2018.

Pada 2025, Kementerian Perdagangan menetapkan alokasi kebutuhan impor bawang putih sebesar 550.000 ton. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor, terutama dari China, India, Taiwan, dan Amerika Serikat (AS), mendominasi pasar bawang putih nasional saat ini.

Berdasarkan data dari Satuan Data Kementerian Pertanian (Kementan), volume impor bawang putih sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai 343.552 ton, sedikit menurun pada periode yang sama di 2024 yang mencapai 345.500 ton.

Sementara itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi bawang putih nasional pada 2024 hanya mencapai 39.438 ton. Angka ini jauh di bawah kebutuhan nasional yang mencapai lebih dari 600.000 ton per tahun, sehingga Indonesia sangat bergantung pada impor bawang putih, dengan kuota impor ditetapkan ratusan ribu ton untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Jika dihitung dari 2020 hingga 2024, produksi sempat menurun dari 2020 hingga 2022. Tercatat, tahun 2022, produksinya turun drastis menjadi 30.582 ton. Namun di 2023, angkanya mulai mengalami kenaikan menjadi 39.254 ton.

Prabowo Tak Mau Riset Berjalan Lambat

Luhut berharap pada Oktober 2026, saat Presiden Prabowo Subianto ke Tropical Science and Technology Hub 2 (TSTH2), ekosistem riset yang dibangun tidak lagi sebatas rencana. Riset yang sudah berjalan, terintegrasi, ditargetkan mulai menghasilkan dampak nyata bagi ketahanan pangan.

Selain itu, Presiden, kata Luhut, meminta agar tidak ada lagi agenda riset yang berjalan lambat dan pendekatan sektoral ditinggalkan. Karena itu, BRIN didorong mengintegrasikan seluruh kekuatan riset nasional.

"Saya mengajak BRIN mengintegrasikan seluruh kekuatan riset seperti IPB, UGM, IT Del, dan TSTH2. Jika kekuatan ini kita satukan, saya yakin lompatan besar bagi ketahanan pangan nasional bisa kita wujudkan," tuturnya.

Adapun TSTH2 disiapkan sebagai pusat kolaborasi riset nasional dengan fokus tanaman herbal dan hortikultura, didukung ratusan spesies herbal, super komputer H200 dan B200, serta mesin genomik T7 yang terintegrasi.

Dikatakan, Presiden Prabowo juga berpesan dan menekankan pentingnya membangun Genebank nasional dan seeding industry. Luhut menegaskan komitmen mendorong produksi herbal lokal dan memastikan regulasi bisa semakin adaptif terhadap inovasi.

"Saya juga meminta kepada BRIN untuk menyusun peta kesesuaian lahan terpadu agar riset lebih terarah dan siap untuk diimplementasikan," jelasnya.

Adapun konsumsi nasional pada 2020 sebesar 498,94 ribu ton, dengan kebutuhan pada 2023 sekitar 517,93 ribu ton dan proyeksi 2024 sebesar 526,77 ribu ton. Sehingga, lebih dari 90% konsumsi nasional dipenuhi melalui impor.

Pemerintah telah berupaya mengurangi ketergantungan impor melalui berbagai program, seperti penugasan wajib tanam kepada importir dan insentif budi daya di dataran tinggi.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |