Jakarta, CNBC Indonesia - Sinyal perubahan arah mulai terlihat dari Washington di tengah perang yang terus mengguncang Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pihaknya sedang mempertimbangkan untuk mengurangi operasi militer terhadap Iran setelah mengeklaim meraih kemenangan, meski secara tegas menolak opsi gencatan senjata.
Dalam pernyataannya pada Jumat (19/3/2026), Trump mengatakan Amerika Serikat "makin mendekati pencapaian tujuan kami saat kami mempertimbangkan untuk mengakhiri secara bertahap upaya militer besar kami di Timur Tengah." Pernyataan di platform Truth Social itu menjadi indikasi paling kuat sejauh ini bahwa Washington membuka peluang mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan.
Namun hanya beberapa saat sebelumnya, Trump justru menegaskan sikap berbeda saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih.
"Saya pikir kita telah menang," kata Trump, dilansir AFP. "Saya tidak ingin melakukan gencatan senjata. Anda tahu, Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda benar-benar sedang menghancurkan pihak lawan."
Di sisi lain, pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei justru mengeklaim negaranya berhasil memberikan pukulan telak kepada musuh. Dalam pesan tertulis untuk perayaan Nowruz, Tahun Baru Persia, ia menyebut Iran telah memberikan "pukulan yang memusingkan" kepada lawan-lawannya.
"Kita telah memberikan pukulan yang memusingkan kepada musuh sehingga kini ia mulai mengucapkan kata-kata yang saling bertentangan dan omong kosong."
Khamenei juga menegaskan bahwa persatuan internal Iran menjadi kunci.
"Saat ini, berkat persatuan khusus yang telah tercipta di antara kalian, sesama warga negara kami ... musuh telah dikalahkan," ujarnya.
Pernyataan itu muncul di tengah situasi di Teheran yang masih diliputi ketegangan. Ledakan baru dilaporkan terjadi di ibu kota Iran pada Jumat, bahkan ketika warga mencoba merayakan Nowruz.
Aktivitas belanja tetap terlihat, meski tidak seramai biasanya karena banyak warga memilih meninggalkan kota.
Serangan Meluas, Situs Suci Terdampak
Perang yang dimulai sejak 28 Februari itu terus meluas. Israel menuduh Iran menyerang situs-situs suci di Yerusalem setelah sebuah ledakan membentuk kawah di Kota Tua, dekat Masjid Al-Aqsa, Tembok Barat, dan Gereja Makam Kudus.
Di saat yang sama, ketegangan juga merambat ke negara lain. Turki mengecam serangan Israel terhadap kamp militer Suriah di wilayah selatan, menyebutnya sebagai "eskalasi berbahaya" dan mendesak komunitas internasional turun tangan.
Suriah sendiri sejauh ini relatif terhindar dari konflik langsung, meski perang telah melibatkan banyak negara di kawasan. Sementara itu, Lebanon juga terdampak serangan udara Israel yang menargetkan kelompok Hizbullah, sekutu Iran. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut lebih dari 1.000 orang telah tewas.
Jalur Energi Dunia Terancam
Di sektor energi, dampak perang semakin terasa. Iran disebut secara efektif memblokade Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia dalam kondisi normal.
Trump bahkan menyatakan bahwa pengamanan jalur tersebut bukan lagi tanggung jawab Amerika Serikat.
"Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi oleh negara-negara lain yang menggunakannya - bukan Amerika Serikat!" katanya.
"Jika diminta, kami akan membantu negara-negara tersebut dalam upaya mereka di Hormuz, tetapi itu seharusnya tidak diperlukan setelah ancaman Iran dihilangkan."
Trump juga mengungkapkan bahwa Washington sebenarnya ingin membuka dialog dengan Teheran, namun situasi saat ini menyulitkan.
"Tidak ada pihak yang bisa diajak bicara," ujarnya, merujuk pada tewasnya sejumlah pejabat tinggi Iran termasuk pemimpin sebelumnya Ali Khamenei.
Ketidakpastian Strategi Militer
Meski mengisyaratkan pengurangan operasi, Trump tidak menutup kemungkinan langkah militer lanjutan. Laporan The Wall Street Journal menyebut tambahan 2.200 hingga 2.500 marinir AS sedang dikirim ke kawasan.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pendudukan atau blokade Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, Trump menjawab singkat: "Saya mungkin punya rencana atau mungkin tidak."
Pasukan AS sebelumnya telah menyerang pulau tersebut dan, menurut Trump, "sepenuhnya menghancurkan" semua target militer di sana. Namun Washington sejauh ini menghindari menyerang infrastruktur minyak secara langsung.
Sementara itu, Iran terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk. Serangan drone menghantam kilang minyak besar Mina Al-Ahmadi di Kuwait dan memicu kebakaran yang kemudian berhasil dikendalikan.
Sehari sebelumnya, fasilitas gas alam utama di Ras Laffan, Qatar, juga terkena serangan langsung. Perusahaan energi negara Qatar menyebut kerusakan tersebut "kerusakan besar" yang berpotensi menyebabkan kerugian hingga US$20 miliar per tahun dan membutuhkan waktu 5 tahun untuk perbaikan.
(luc/luc)
Addsource on Google

4 hours ago
1
















































