Perebutan Pelabuhan Global Kian Sengit, Dunia Khawatir Dominasi China

1 hour ago 2

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

05 May 2026 12:27

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan global dalam menguasai pelabuhan kian memanas. Dilansir dari The Economist, dari Eropa hingga Asia, negara-negara besar berlomba memperluas pengaruh di jalur perdagangan laut.

Namun, di balik gelombang investasi ini, tersimpan kekhawatiran besar terhadap dominasi China dalam rantai pasok global.

Pusat Perebutan Pelabuhan Dimulai Dari Yunani

Port of Piraeus, Yunani merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di Eropa. China melalui COSCO telah menjadi pemegang saham mayoritas. Pelabuhan ini menangani lebih dari 4 juta kontainer per tahun.

Namun, dominasi tersebut tidak dibiarkan tanpa perlawanan. Amerika Serikat mendukung pengembangan pelabuhan di Elefsina, sementara investor Rusia dan China masuk ke Port of Thessaloniki. Di sisi lain, NATO membangun pusat logistik di Port of Alexandroupolis.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Yunani. Dari Panama Canal hingga Asia Tenggara, pelabuhan menjadi arena baru perebutan pengaruh geopolitik.

Kenapa Pelabuhan Jadi Rebutan?

Terdapat beberapa alasan, pelabuhan dijadikan rebutan oleh negara-negara besar, yaitu:

Pertama, sekitar 80% perdagangan dunia berlangsung melalui jalur laut. Ketergantungan ini membuat pelabuhan dan jalur sempit seperti Selat Hormuz dan Selat Malaka menjadi sangat strategis.

Kedua, krisis global mulai dari pandemi hingga konflik energi, menunjukkan betapa rentannya sistem perdagangan dunia. Negara-negara kini berupaya mengurangi ketergantungan pada titik-titik kritis tersebut, baik untuk alasan ekonomi maupun geopolitik.

Capex pelabuhan per tonFoto: Economist

Grafik di atas menunjukkan biaya pembangunan pelabuhan yang terus meningkat, mencerminkan lonjakan investasi global di sektor logistik.

Mengutip dari The Economist, PwC menyebutkan bahwa, total investasi infrastruktur pelabuhan diproyeksikan mencapai US$90 miliar per tahun pada 2035.

China Mendominasi Jaringan di Pelabuhan Global

China kini menjadi pemain paling agresif dalam ekspansi pelabuhan global. Perusahaan China memiliki atau berinvestasi di setidaknya 129 pelabuhan di luar negeri, dengan nilai investasi lebih dari US$80 miliar.

Banyak dari pelabuhan tersebut berada di titik strategis seperti Selat Malaka, Selat Hormuz, dan Terusan Suez, yang menjadi jalur vital perdagangan dunia.

Menurut MERICS, sebuah lembaga think-tank di Berlin, kehadiran operator China di pelabuhan dapat meningkatkan perdagangan dengan China lebih dari 20%. Namun, ekspor ke negara lain justru bisa turun hingga 19%.

Hal ini menunjukkan bahwa kontrol pelabuhan bukan sekadar infrastruktur, tetapi alat untuk mengarahkan arus perdagangan.

Network operator pelabuhanFoto: Economist

Dominasi China Melampaui Kepemilikan Pelabuhan

Yang membuat posisi China semakin sulit ditandingi adalah dominasinya yang melampaui sekadar kepemilikan pelabuhan. Di sisi perangkat keras, perusahaan China memproduksi lebih dari 70% crane bongkar muat peti kemas di seluruh dunia, serta 95% kontainer pengiriman yang digunakan dalam perdagangan global.

Di sisi perangkat lunak, pemerintah China mengoperasikan LOGINK, sebuah platform manajemen logistik yang digunakan di setidaknya 24 negara dan 86 pelabuhan.

Platform ini terhubung dengan CargoSmart milik COSCO, yang mampu melacak pergerakan sekitar 90% kapal kontainer di seluruh dunia. Amerika Serikat bahkan melarang penggunaan LOGINK pada 2023 karena kekhawatiran atas keamanan data.

Artinya, meski sebuah pelabuhan tidak dimiliki China, infrastruktur fisik dan digitalnya kemungkinan besar tetap berakar pada ekosistem China.

Perlawanan Negara Barat dan Fragmentasi Rantai Pasok

Negara Barat dan perusahaan global mulai merespons agresif. Sejak 2021, investasi non-China di sektor maritim mencapai sekitar US$140 miliar.

Perusahaan seperti Hapag-Lloyd, AP Moller-Maersk, dan CMA CGM memperluas jaringan mereka melalui akuisisi dan ekspansi pelabuhan.

Konflik di Panama Canal menjadi contoh nyata bagaimana pelabuhan berubah menjadi arena pertarungan geopolitik antara Amerika Serikat dan China. Akuisisi aset pelabuhan oleh investor Barat memicu reaksi keras dari China, bahkan berdampak pada operasional kapal dan rantai pasok global.

Dampak Perebutan Pelabuhan Global

Meski terlihat strategis, lonjakan pembangunan pelabuhan menyimpan risiko besar. Banyak proyek berpotensi tidak efisien karena duplikasi fasilitas dan over kapasitas.

Ambisi setiap negara untuk menjadi "hub logistik" global juga tidak realistis. Pada akhirnya, sebagian proyek bisa mengalami return yang rendah, bahkan merugikan pembayar pajak.

Selain itu, tekanan politik bisa memaksa perusahaan pelayaran menggunakan rute tertentu yang tidak efisien secara ekonomi meningkatkan biaya logistik dan harga barang.

Dalam jangka pendek, gangguan seperti kemacetan pelabuhan dan lonjakan tarif pengiriman masih akan terjadi. Artinya, konsumen global berpotensi menghadapi harga lebih tinggi dan keterlambatan barang, meskipun kapasitas pelabuhan meningkat.

Namun di sisi lain, persaingan yang semakin ketat juga membawa dampak positif. Pelabuhan tidak lagi bisa berperilaku seperti monopoli dan menentukan tarif sesuka hati. Mereka kini terdorong untuk memberikan layanan lebih baik dengan harga lebih kompetitif demi mempertahankan pelanggan.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |