6 Perang Timur Tengah di Hari Lebaran, Hari Kemenangan yang Pahit

5 hours ago 1

Amalia Zahira & Kanthi Maslikhah,  CNBC Indonesia

21 March 2026 05:31

Jakarta, CNBC Indonesia - Idul Fitri biasanya menjadi hari kemenangan bagi umat Islam di seluruh dunia. Setelah sebulan berpuasa, Lebaran identik dengan kebahagiaan mulai dari shalat berjamaah, berkumpul bersama keluarga, berbagi makanan, hingga saling memaafkan.

Namun dalam berbagai periode sejarah, hari raya ini justru datang di tengah perang dan konflik, terutama di wilayah Timur Tengah. Banyak umat Muslim harus menjalani Idul Fitri dengan hati yang berat.

Dari Palestina hingga Irak, sejarah mencatat bahwa Idulfitri kerap hadir bersamaan dengan tragedi kemanusiaan. Berikut beberapa momen ketika Lebaran harus dirayakan di tengah konflik.

1. Perang Arab-Israel 1948: Lebaran Terakhir Sebelum Nakba

Perang Arab-Israel 1948 menjadi titik balik tragis dalam sejarah Palestina. Konflik yang berlangsung pada 15 Mei 1948 hingga 20 Juli 1949 memicu peristiwa yang dikenal sebagai Nakba atau "bencana".

Sekitar 700.000-750.000 warga Palestina diusir dari rumah mereka oleh milisi Zionis. Desa-desa hancur, komunitas tercerai-berai, dan krisis pengungsi besar terbentuk. Tragedi ini kemudian diperingati sebagai "The Nakba Day" setiap tanggal 15 Mei.

Menjelang peristiwa tersebut, Idul Fitri terakhir sebelum Nakba pada 1947 sudah diliputi suasana suram. Surat kabar Palestina saat itu menulis ucapan Lebaran dengan nada penuh kecemasan:

"Para Arab Palestina merayakan kesempatan ini dengan perayaan nasib yang penuh duka, menanggung penderitaan, dan mengetahui bahwa kemenangan sudah dekat."

Bagi banyak warga Palestina, Lebaran sejak saat itu tidak lagi sekadar hari perayaan, tetapi juga pengingat kehilangan Tanah Air.

2. Perang Iran-Irak (1980-1988): Ramadan dan Lebaran Tanpa Jeda Perang

Perang Iran-Irak berlangsung selama delapan tahun dan menjadi salah satu konflik paling mematikan di Timur Tengah modern.

Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya identik dengan perdamaian justru tidak menghentikan pertempuran. Kedua negara bahkan melancarkan operasi militer bertepatan dengan awal bulan suci Ramadan.

Pada 13 Maret 1982, Iran meluncurkan serangan besar yang dikenal sebagai Operasi Ramadan, dengan empat divisi pasukan menyerang posisi Irak di dekat Basra.

erangan lain terjadi pada 1988, ketika Irak memanfaatkan momentum hari pertama Idul Fitri untuk melancarkan salah satu ofensif terbesar dalam perang tersebut.

Di kota-kota garis depan seperti Basra dan Ahwaz, pemboman bahkan terjadi saat waktu shalat. Ramadan dan Lebaran tidak membawa jeda bagi warga sipil yang hidup di bawah bayang-bayang perang.

3. Perang Teluk 1991: Lebaran dalam Suasana Duka

Perang Teluk berakhir pada Februari 1991 setelah koalisi internasional membebaskan Kuwait dari pendudukan Irak. Namun ketika Idul Fitri tiba pada 16 April 1991, suasana masih jauh dari perayaan.

Alih-alih menyambut Lebaran dengan sukacita, banyak keluarga Muslim masih diliputi kecemasan. Ribuan orang tewas selama konflik, sementara banyak keluarga tidak mengetahui nasib kerabat mereka yang berada di Kuwait maupun Irak.

Di komunitas diaspora Muslim di Amerika Serikat, suasana yang sama juga terasa. Di California Selatan, yang memiliki lebih dari 300.000 penduduk Muslim, Ramadan dan Lebaran dilalui dengan kegelisahan karena banyak keluarga belum mendengar kabar dari anggota keluarga mereka yang hilang di wilayah perang.

Bahkan setelah perang dinyatakan berakhir, ketegangan belum benar-benar mereda. Banyak warga Palestina di Kuwait menjadi sasaran kekerasan karena posisi politik Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang sebelumnya mendukung Irak.

4. Irak Pasca Invasi 2003: Lebaran dalam Bayang-bayang Bom

Setelah invasi Amerika Serikat pada 2003, Irak mengalami kekerasan sektarian berkepanjangan. Dalam banyak tahun berikutnya, Idul Fitri dirayakan dengan rasa khawatir.

Serangan bom mobil dan kekerasan sering terjadi di tempat umum seperti pasar dan taman. Banyak keluarga memilih tetap berada di rumah selama tiga hari Lebaran karena takut menjadi korban.

Masjid yang biasanya penuh saat shalat Id menjadi sepi dan silaturahmi banyak dilakukan via panggilan telepon.

Sebagian warga Irak bahkan memilih melarikan diri ke wilayah Kurdistan setiap Lebaran untuk mencari tempat yang lebih aman dari kekerasan di Baghdad atau Mosul.

5. Gaza: Lebaran yang Berulang Kali Berubah Menjadi Hari Berkabung

Di Gaza, perang yang berulang kali terjadi membuat Idul Fitri sering berubah dari hari perayaan menjadi hari berkabung.

Selama perang Gaza 2014, banyak keluarga menghabiskan hari pertama Lebaran bukan dengan bertukar hadiah, tetapi menggali kuburan para korban serangan.

Idul Fitri yang seharusnya dirayakan dengan kebahagiaan justru diliputi perasaan duka para orang tua yang terpaksa membawa anak-anak mereka ke pemakaman untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga yang terbunuh.

Situasi serupa kembali terjadi setelah konflik besar 2023-2024. Banyak warga Gaza menjalankan salat Id di antara reruntuhan masjid, sementara sebagian lainnya mengunjungi makam anggota keluarga yang gugur.

6. Perang Iran versus Israel-Amerika Serikat (AS)

Tahun ini Timur Tengah membara kembali karena perang meletus sejak 28 Februari 206. Serangan yang dilancarkan Israel vs AS tersebut membuat kawasan Timur Tengah memanas sejak Ramadan hingga Lebaran datang. 
Konflik bahkan belum mereda hingga hari ini.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |