Swasembada Pangan Dikebut, Deretan Saham Consumer Bisa Dapat Berkah

23 hours ago 8

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

08 January 2026 10:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto mendeklarasikan Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan pada 2025. Pencapaian ini dinilai dapat menjadi katalis positif bagi sejumlah saham sektor consumer yang saat ini masih diperdagangkan dengan valuasi relatif murah.

Swasembada pangan diharapkan mampu mendorong ketersediaan bahan baku yang lebih stabil, menekan volatilitas harga, serta menjaga keberlanjutan pasokan domestik. Kondisi tersebut menjadi fondasi penting bagi perbaikan margin usaha dan peningkatan kepastian bisnis emiten consumer ke depan.

Dalam sambutannya pada acara panen raya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh pihak yang terlibat.

"Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya, diundang hari ini pada acara panen raya, dan pengumuman resmi bahwa Indonesia berhasil kembali menjadi bangsa yang swasembada pangan," kata Prabowo dalam sambutan Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat (7/1/2026).

Ia menegaskan bahwa pencapaian ini harus diiringi dengan sikap kewaspadaan dan evaluasi berkelanjutan. Lebih lanjut, Prabowo menekankan potensi besar yang dimiliki Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam.

"Kita mengerti dan paham bahwa bangsa kita negara yang kaya. setelah saya dipilih dan diangkat menjadi presiden setelah saya mengambl alih pemerintah lebih paham mengerti atas kekayaan kita," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Prabowo didampingi antara lain oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta para kepala daerah, pimpinan organisasi petani, kelompok tani, dan penyuluh pertanian.

Presiden bersama jajaran terkait juga meninjau langsung aktivitas petani di sawah, mulai dari proses penanaman hingga panen padi yang telah didukung oleh penerapan teknologi pertanian modern.

Selain itu, Prabowo menyaksikan berbagai demonstrasi teknologi pertanian, seperti penggunaan drone pertanian, alat dan mesin pertanian (alsintan) otomatis, pompa air otomatis, serta pemanfaatan benih unggul dan pupuk. Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus meringankan beban kerja petani di lapangan.

Saham Consumer Masih Banyak yang Murah

Swasembada diharapkan bisa memicu pergerakan harga saham sektor consumer membaik tahun ini, karena sejak tahun lalu pergerakannya masih cenderung lambat.

Data valuasi menggunakan metrik Price to Book Value (PBV) yang dibandingkan rata-rata lima tahun menunjukkan masih undervalued, seperti PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Bahkan, saham ICBP dan ULTJ tercatat masih diperdagangkan dengan diskon lebih dari 35% dibandingkan rerata valuasi historisnya. Berikut bisa dilihat rincian valuasi saham-saham consumer yang masih murah :

Belum bergeraknya saham-saham consumer ini lebih banyak karena pasar masih berada di fase transisi. Pelaku pasar cenderung menunggu bukti nyata dari pengesahan swasembada pangan, terutama dampaknya terhadap struktur biaya produksi, kestabilan harga bahan baku, hingga daya beli masyarakat. Apalagi, tekanan margin akibat inflasi pangan dan naik-turunnya harga komoditas dalam beberapa tahun terakhir masih cukup membekas di ingatan investor.

Meski begitu, dengan status swasembada pangan yang kini sudah resmi, tahun ini berpotensi menjadi titik awal perubahan arah bagi sektor consumer. Pasokan domestik yang lebih terjaga memberi ruang bagi margin untuk bernapas lebih lega, sementara konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini, valuasi saham consumer yang masih berada di bawah rata-rata historis bisa dibaca sebagai peluang pasar yang belum sepenuhnya "ngeh" terhadap perbaikan fundamental ke depan. Seiring visibilitas kinerja yang makin jelas, bukan tidak mungkin akan terjadi penyesuaian valuasi secara bertahap.

Singkatnya, sektor consumer saat ini masih tertinggal secara harga, di saat fondasi makronya justru mulai membaik. Kombinasi inilah yang membuat sektor ini kembali menarik untuk dicermati sepanjang tahun berjalan.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |