Bahlil Sebut BBM Solar CN 51 untuk Industri Masih Bisa Impor di 2026

16 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah masih membuka opsi impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar tipe CN 51 yang merupakan solar berkualitas tinggi. Langkah ini dilakukan lantaran kapasitas produksi dalam negeri dinilai belum mencukupi untuk memproduksi jenis solar tersebut.

"Saya sudah perintahkan kepada Dirjen, solar itu ada dua ya, ada dua tipe ya. Tipe apa? Tipe 48 ini yang dipakai oleh umum, mobil-mobil ya mobil umum fasilitas umum, dan tipe 51. Nah tipe 51 ini adalah solar yang kualitas tinggi," kata Bahlil dalam Konferensi Pers, dikutip Jumat (9/1/2026).

Bahlil menjelaskan bahwa solar CN 51 umumnya digunakan untuk alat-alat berat yang beroperasi di wilayah dengan kondisi ekstrim, seperti daerah dataran tinggi bersuhu dingin atau kawasan pertambangan.

"Ini biasanya dipakai untuk alat-alat berat di ketinggian yang dingin seperti di Freeport. Nah kita sampai dengan hari ini belum cukup untuk kita memproduksi dalam negeri, kalau yang solar 51," katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya masih memberikan ruang impor bagi para pelaku usaha agar aktivitas industri tidak terganggu.

"Nah untuk solar 51 ini kita masih ada opsi untuk kita melakukan impor dari luar karena kita untuk industri dalam negeri kita belum cukup. Kalau tidak nanti industri orang akan tidak bisa berjalan," kata Bahlil.

Sebelumnya, Bahlil menargetkan seluruh impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar akan disetop mulai tahun 2026. Nantinya, kebutuhan solar nasional sepenuhnya akan dipenuhi dari produksi kilang dalam negeri.

Menurut Bahlil, kebijakan penghentian impor solar dapat terwujud salah satunya karena diimplementasikannya program mandatori campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50% (B50) pada Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar.

Ditambah lagi, penghentian impor solar dilakukan seiring dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan milik PT Pertamina (Persero) di Kalimantan Timur yang akan diresmikan bulan ini.

"Dengan demikian kalau B50 kita pakai dan RDMP kita di Kalimantan Timur yang insya Allah kita akan resmikan dalam waktu dekat sudah terjadi, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026," kata Bahlil.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |