Ramadhan selalu menghadirkan dua wajah sekaligus, spiritualitas dan ekonomi. Di satu sisi, umat Islam berlomba memperkuat ibadah dan menahan diri. Di sisi lain, denyut pasar justru berdetak lebih cepat. Fenomena itu tampak nyata di Pasar Kembang Tanjong, Kecamatan Kembang Tanjong. Kabupaten Pidie.
Berdasarkan liputan yang penulis lakukan di lapangan, pasar tradisional ini menjadi pusat pergerakan ekonomi rakyat setiap Ramadhan. Sejak petang hingga menjelang magrib, pedagang ikan, sayur, bumbu dapur, hingga penjual kue tradisional diserbu pembeli.
Perputaran uang meningkat, lapak-lapak kecil kembali berdenyut, dan harapan tumbuh di tengah keterbatasan. “Alhamdulillah, kalau bulan puasa begini jualan naik. Biasanya paling terasa di ikan dan ayam. Bisa naik sampai setengah dari hari biasa,” ujar Rahmawati, 43, salah satu pedagang bahan pokok di pasar tersebut.
Pedagang melayani pembeli ikan segar di Pasar Kembang Tanjong, Kecamatan Kembang Tanjong, menjelang waktu berbuka puasa saat Ramadhan, Sabtu (21/2). Waspada.id/Muhammad RizaHal serupa disampaikan oleh Idris, 38, pedagang ikan laut. Menurutnya, Ramadhan membawa berkah tersendiri. “Orang belanja lebih banyak untuk berbuka dan sahur. Yang penting harga jangan melonjak terlalu tinggi, kasihan pembeli juga,” katanya.
Namun Pasar Kembang Tanjong bukanlah ruang ekonomi yang lahir kemarin sore. Kawasan ini memiliki jejak sejarah panjang. Temuan batu nisan bertipologi Samudra Pasai bertarikh 897 Hijriah (1492 M) menunjukkan bahwa wilayah ini telah menjadi pusat kehidupan sosial dan keagamaan sejak abad ke-15.
Letaknya yang strategis di pesisir Selat Malaka dan dialiri Krueng Tiro menjadikannya simpul perdagangan penting di Pidie sejak ratusan tahun silam. Dalam konteks itulah pasar rakyat Kembang Tanjong tumbuh sebagai ruang pertemuan hasil bumi pedalaman dan komoditas pesisir.
Ia mempertemukan nelayan, petani, dan saudagar kecil dalam satu ekosistem ekonomi yang sederhana namun tangguh.
Di sisi pembeli, Ramadhan juga membawa dinamika tersendiri. Suryani, 35, seorang ibu rumah tangga, mengaku belanja lebih sering selama bulan puasa. “Kalau Ramadhan, anak-anak minta macam-macam. Jadi belanja agak banyak. Tetapi kami harap harga tetap stabil supaya tidak terlalu berat,” tuturnya.
Pernyataan itu menjadi penanda bahwa stabilitas harga tetap menjadi isu krusial. Ramadhan sering kali identik dengan kenaikan harga bahan pokok seperti cabai, bawang, gula, dan daging. Jika pengawasan lemah, beban bukan hanya ditanggung konsumen, tetapi juga pedagang kecil yang modalnya terbatas.
Di sisi lain, Ramadhan membuka peluang bagi pelaku UMKM. Produk lokal seperti Adee Ie Leubeue dan aneka penganan khas kembali diminati. Produksi rumahan bergerak, tenaga keluarga terserap, dan distribusi bahan baku ikut terdorong. Inilah ekonomi berbasis komunitas yang bertahan bukan karena subsidi besar, melainkan karena solidaritas sosial.
Sayangnya, perhatian terhadap pasar tradisional kerap bersifat musiman. Saat Ramadhan tiba, sidak digelar dan harga dipantau. Namun selepas itu, pasar rakyat kembali berjalan dengan daya tahannya sendiri. Padahal, di sinilah fondasi ekonomi daerah sesungguhnya berdiri.
Adee khas pesisir tersaji di lapak Pasar Kembang Tanjong, Kecamatan Kembang Tanjong, menjadi salah satu penganan favorit warga saat Ramadhan, Sabtu (21/2). Waspada.id/Muhammad RizaRamadhan seharusnya menjadi momentum evaluasi, memperkuat pasar tanpa menghilangkan identitasnya, mendorong legalitas tanpa mematikan tradisi, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pelaku kecil.
Pada akhirnya, Ramadhan di Pasar Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie bukan sekadar soal transaksi. Ia adalah denyut yang berulang dari generasi ke generasi tentang harapan yang ditata di atas meja kayu, tentang peluh yang jatuh bersama doa-doa yang dilangitkan.
Di sana, pedagang bertahan dengan keyakinan. Pembeli datang dengan kebutuhan dan kebersamaan. Harga boleh berfluktuasi, persaingan boleh menguat, tetapi semangat pasar rakyat tidak pernah benar-benar padam.
Dan dari Kembang Tanjong, kita belajar satu hal sederhana, selama pasar rakyat masih berdenyut, selama sejarahnya tetap diingat, selama asap dapur masih mengepul dari hasil jual beli yang jujur, selama itu pula harapan akan terus menemukan jalannya. Muhammad Riza/WASPADA.id
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































