Sekda Pidie Drs. Samsul Azhar bersama Tim Medis RSUD TCD Sigli menyiapkan layanan kesehatan bagi korban banjir di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026). Waspada.id/Muhammad Riza
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Lantai UPTD Puskesmas Bendahara, Aceh Tamiang, masih dilapisi lumpur ketika rombongan itu tiba. Bau air bah menggantung di udara. Dinding lembap, halaman becek.
Di fasilitas kesehatan yang belum sepenuhnya pulih itulah Tim Medis RSUD Tgk Chik Ditiro (TCD) Sigli memulai kerja mereka sunyi, tanpa seremoni.
Mereka berangkat dari Pidie pada 1 Januari 2026, saat banjir susulan kembali mengepung kampung halaman sendiri.
Air belum surut, sebagian wilayah masih tergenang. Namun rombongan yang dipimpin Sekretaris Daerah Pidie, Drs. Samsul Azhar, bersama Direktur RSUD TCD Sigli, drg. Mohd. Riza Faisal, MARS, memilih bergerak ke Aceh Tamiang, daerah lain yang juga menanggung luka.
“Kami datang bukan hanya membawa obat, tetapi memastikan tempat pelayanan bisa kembali berfungsi. Tanpa ruang yang bersih, pengobatan tidak mungkin berjalan dengan baik,” kata Riza Faisal di sela kegiatan membersihkan puskesmas.
Suasana halaman Puskesmas Bendahara, Aceh Tamiang, saat Tim Medis RSUD TCD Sigli menurunkan bantuan dan bersiap membuka posko layanan kesehatan bagi korban banjir, Kamis (1/1/2026). Waspada.id/Muhammad RizaSetibanya di lokasi, sapu dan air lebih dulu digunakan sebelum kotak obat dibuka. Lumpur disingkirkan dari lantai dan sudut ruangan, meja layanan dilap hingga layak pakai. Bagi tim medis, pelayanan kesehatan tidak dimulai dari resep, tetapi dari ruang yang bersih dan rapi.
Setelah puskesmas siap difungsikan sebagai Posko Pidie Peduli Korban Banjir, bantuan obat-obatan ditata. Salep penyakit kulit, obat demam, antibiotik, vitamin, dan antiseptik disusun rapi.
Bantuan itu diterima KTU Puskesmas Bendahara, Dedi Syahputra, tanpa seremoni. Dalam keadaan darurat, kecepatan lebih penting daripada simbol.
Menurut Riza Faisal, penyakit pascabanjir sering kali muncul justru ketika air mulai surut.
“Yang kami khawatirkan bukan hanya genangan air, tetapi dampaknya setelah itu infeksi kulit, ISPA, dan kelelahan warga. Obat-obatan harus tersedia sejak awal,” ujarnya.
Bantuan obat-obatan dari RSUD TCD Sigli diterima petugas Puskesmas Bendahara untuk pelayanan kesehatan korban banjir Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026). Waspada.id/Muhammad RizaObat-obatan tersebut menjadi penyangga pertama pemulihan. Gatal-gatal, infeksi ringan, gangguan pernapasan, dan kelelahan fisik mulai menghantui warga. Tanpa pasokan obat yang memadai, luka kecil bisa berubah menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Di sela penataan logistik, sebagian tenaga medis kembali membersihkan ruang pelayanan. Lumpur yang tersisa diseka, lantai dikeringkan. Kerja itu dilakukan berulang. Di tengah bencana, kebersihan bukan detail, ia bagian dari pengobatan.
Kehadiran Tim Medis RSUD TCD Sigli melanjutkan estafet pengabdian tenaga kesehatan Pidie. Sebelumnya, tim dari Dinas Kesehatan Pidie dan RSUD Tgk Abdullah Syafi’i (TAS) Beureunuen telah bertugas. Kini, meski Pidie sendiri kembali dikepung banjir susulan, RSUD TCD memastikan fasilitas kesehatan dan pasokan obat tetap tersedia.
Menjelang siang, puskesmas yang semula terbenam lumpur kembali berfungsi. Meja obat terisi, ruang periksa siap digunakan. Lumpur mungkin belum sepenuhnya pergi dari halaman, tetapi pelayanan sudah berjalan.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”(Hadis Riwayat Ahmad).
Di tengah bencana, bantuan tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang ia bermula dari sapu, seember air, dan kotak obat, kerja senyap yang, seperti dikatakan Riza Faisal, “mungkin tidak terlihat besar, tetapi sangat menentukan bagi pemulihan warga.” tutupnya.
Muhammad Riza
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.






















































