Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
08 June 2026 12:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah gejolak pasar saham, investor biasanya mencari tempat berlindung pada saham-saham yang dianggap defensif.
Saham jenis ini sering dilihat lebih tahan banting ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan, karena berasal dari emiten besar dengan fundamental kuat, bisnis yang relatif stabil, serta memiliki peran penting dalam perekonomian.
Namun, tekanan pasar yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa tidak ada saham yang benar-benar kebal dari koreksi.
IHSG terjun semakin dalam hingga menyentuh level 5.348,95 atau ambles 245,82 poin, turun 4,39% pada perdagangan pagi ini, Senin (8/6/2026).
Aksi jual terjadi secara masif di hampir seluruh penjuru pasar. Sebanyak 606 saham tercatat melemah, hanya 57 saham menguat, sementara 296 saham stagnan. Nilai transaksi sudah mencapai Rp2,85 triliun dengan volume perdagangan menyentuh 3,77 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 279 ribu kali.
Koreksi lebih dari 4% hanya dalam waktu sekitar 10 menit perdagangan menunjukkan tekanan jual yang sangat agresif. Kondisi ini juga mengindikasikan bahwa kepanikan masih mendominasi sentimen pasar pagi ini.
Pelemahan tajam tersebut membuat IHSG secara year to date (ytd) sudah terkoreksi sekitar 37%. Tekanan besar ini kemudian ikut menyeret saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini kerap dipandang sebagai saham defensif.
Saham defensif umumnya merujuk pada saham dari perusahaan yang kinerjanya relatif stabil meskipun kondisi ekonomi sedang sulit. Karakter ini biasanya dimiliki oleh emiten dengan permintaan produk atau jasa yang konsisten, arus kas yang kuat, serta kemampuan membagikan dividen secara rutin.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Telkom Indonesia (TLKM), hingga Astra International (ASII) kerap masuk dalam radar investor ketika pasar sedang bergejolak.
Nama-nama tersebut selama ini dikenal memiliki likuiditas tinggi, basis bisnis yang besar, dan kerap menjadi bagian utama dalam portofolio investor institusi maupun ritel. Karena itu, saham-saham tersebut sering dipandang sebagai salah satu benteng pertahanan ketika tekanan pasar mulai meningkat.
Kelima saham tersebut kerap dianggap "benteng" bursa saham Indonesia. Bukan hanya karena secara kinerja selalu bagus tetapi juga mencerminkan ekonomi Indonesia.
Seperti diketahui, sekitar 75% ekonomi Indonesia dibiayai bank sehingga peran bank sangat besar. Sedangkan Telkom Indonesia adalah lambang keperkasaan bisnis telekomunikasi di Indonesia. Astra juga dikenal sebagai penguasa otomotif Indonesia selama puluhan tahun.
Namun, deretan saham yang selama ini dianggap defensif tersebut justru ikut mengalami tekanan cukup dalam sejak awal tahun.
Berikut pergerakan saham-saham defensif tersebut:
seluruh saham defensif yang dicermati kompak mencatatkan koreksi cukup dalam sejak awal tahun. BBCA menjadi saham dengan pelemahan terdalam, yakni ambles 38,1% dari Rp8.025 per saham menjadi Rp4.970 per saham.
Tekanan besar juga dialami ASII yang terkoreksi 34,7% ke Rp4.440 per saham. Sementara itu, TLKM melemah 28,0%, disusul BBRI yang turun 26,9%, dan BMRI yang terkoreksi 25,5%.
Tekanan pada saham-saham defensif tersebut juga bukan sekadar koreksi biasa. Beberapa di antaranya bahkan sudah kembali ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
BBCA, yang selama ini kerap dianggap sebagai salah satu saham paling defensif di bursa, kini berada di level terendah sejak 26 Mei 2020 atau ketika dunia di hantam pandemi Covid-19. Kondisi serupa juga terjadi pada BBRI, yang harga sahamnya kini menyentuh level terendah sejak 28 Mei 2020.
Sementara itu, BMRI berada di posisi terendah sejak 19 Juli 2022. Pada periode tersebut, tekanan terhadap pasar saham global masih cukup besar akibat perang di Eropa antara Rusia dan Ukraina.
Tekanan juga merembet ke saham defensif lain di luar sektor perbankan. TLKM kini berada di level terendah sejak April 2025, sementara ASII menyentuh posisi terendah sejak 26 Juni 2025.
Jebolnya saham-saham defensif tersebut juga tak lepas dari derasnya aksi jual investor asing. Melansir data Indo Premier Sekuritas, sejak awal tahun hingga perdagangan Jumat (5/6/2026), investor asing tercatat telah melego saham BBCA dengan nilai net sell mencapai Rp32,44 triliun.
Tekanan jual asing juga terjadi pada saham perbankan besar lainnya. BBRI mencatatkan net sell asing sebesar Rp9,68 triliun, sementara BMRI dilepas asing dengan nilai yang lebih besar, yakni sekitar Rp10,8 triliun.
Di luar sektor perbankan, TLKM juga masih mencatatkan net sell asing sebesar Rp254 miliar sejak awal tahun. Adapun dari lima saham defensif yang dicermati, hanya ASII yang masih mencatatkan foreign inflow atau beli bersih asing sebesar Rp1,88 triliun.
Dengan kondisi tersebut, koreksi yang terjadi pada saham-saham defensif kali ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar cukup merata.
Pelemahan tidak hanya menghantam saham-saham lapis dua atau saham dengan volatilitas tinggi, tetapi juga menekan saham-saham besar yang selama ini dianggap lebih kokoh.
Hal ini bisa menjadi pengingat bahwa label defensif bukan berarti bebas risiko.
Saham defensif memang cenderung memiliki karakter bisnis yang lebih stabil, tetapi harga sahamnya tetap dapat bergerak turun ketika tekanan jual di pasar meningkat, sentimen investor memburuk, atau terjadi aksi keluar dana dari saham-saham berkapitalisasi besar.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































