Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, industri granite tile atau ubin porselen nasional menghadapi tantangan kenaikan biaya pada sejumlah komponen yang masih terkait impor.
Kendati demikian, tingkat ketergantungan terhadap bahan baku impor saat ini relatif terbatas sehingga dampaknya terhadap keseluruhan biaya produksi masih dapat dikelola.
"Dalam industri granite tile, sebagian bahan baku dan bahan pembantu tertentu masih berasal dari impor, termasuk beberapa material khusus dan kebutuhan pendukung produksi yang spesifik. Porsinya relatif terbatas, sekitar 10-15% dari total kebutuhan produksi," kata Direktur PT Superior Porcelain Sukses Sie Hai Dong kepada CNBC Indonesia, Senin (8/6/2026).
Pelemahan rupiah memang memberikan tekanan terhadap biaya produksi, baik dari sisi bahan baku maupun komponen pendukung lainnya. Namun perusahaan mengendalikan dampak tersebut melalui berbagai langkah efisiensi.
"Pelemahan rupiah tentu memberikan tekanan terhadap biaya, baik dari sisi bahan baku maupun komponen pendukung lainnya," cetusnya.
"Namun, kami terus melakukan berbagai langkah mitigasi melalui peningkatan penggunaan bahan baku lokal, efisiensi operasional, serta optimalisasi proses produksi sehingga dampaknya terhadap struktur biaya secara keseluruhan masih dapat dikelola dengan baik," kata Sie Hai Dong.
Melansir Refinitiv, per pukul 09.07 WIB atau tujuh menit setelah pembukaan perdagangan, rupiah melemah ke level Rp18.100/US$. Posisi tersebut membuat mata uang garuda terdepresiasi sekitar 0,50% terhadap mata uang greenback.
Dengan posisi tersebut, rupiah kembali mencatatkan level terlemah sepanjang masa terhadap dolar AS. Tekanan ini terjadi setelah pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (5/6/2026), rupiah sempat ditutup menguat tipis 0,06% ke level Rp18.010/US$.
Apabila pelemahan rupiah bertahan dalam jangka panjang, industri manufaktur memang akan menghadapi tekanan biaya yang lebih besar, termasuk dari komponen energi dan sejumlah bahan penunjang produksi yang masih terkait dengan dolar AS.
"Dalam jangka panjang, pelemahan rupiah tentu menjadi tantangan bagi industri manufaktur karena meningkatkan biaya pada sejumlah komponen yang masih terkait dengan mata uang dolar AS, termasuk energi dan beberapa bahan penunjang produksi. Bagi industri keramik dan granite tile, biaya gas juga menjadi salah satu faktor yang cukup signifikan karena sebagian skema pembayarannya masih mengacu pada kurs dolar AS," jelasnya.
Meski demikian, kondisi tersebut juga dinilai dapat menjadi momentum bagi produsen lokal untuk memperkuat daya saing.
Jika sebelumnya produk impor menggerus produk lokal dengan harga yang jauh lebih murah, ke depan kenaikan harga produk impor berpotensi membuat konsumen semakin melirik produk dalam negeri.
"Namun, di sisi lain kondisi ini juga membuka peluang bagi produsen dalam negeri. Selama ini produk impor sempat mendominasi pasar karena harga yang dijual lebih murah. Jika harga produk impor menjadi lebih mahal, daya saing produk lokal semakin meningkat," ujarnya.
"Hal ini memberikan kesempatan bagi industri nasional untuk memperkuat pangsa pasar domestik sekaligus mendorong ekspansi ke pasar ekspor," katanya.
Selama ini pasar granit tile Indonesia banyak diisi oleh produk China, mencapai lebih dari 50%, diikuti oleh India sebagai pemain besar lain di sektor ini.
Lonjakan impor ubin keramik dan granit sempat menembus angka lebih dari 70 juta meter persegi dalam beberapa periode, yang memicu kebijakan anti-dumping (AD) oleh pemerintah sejak 2024 lalu. Alhasil produk dalam negeri bisa berpotensi untuk lebih bersaing.
"Karena itu, kami melihat kondisi ini lebih sebagai tantangan yang harus dikelola dengan baik, sekaligus peluang untuk memperkuat industri granite tile nasional agar semakin kompetitif," ujar Sie Hai Dong.
(dce)
Addsource on Google

2 hours ago
3

















































