Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan industri komponen otomotif nasional tidak hanya datang dari sesama produsen regional. Pelaku industri mengakui tantangan terbesar saat ini berasal dari China yang memiliki kapasitas produksi jauh lebih besar sehingga mampu menawarkan harga lebih kompetitif.
Perbedaan skala produksi menjadi faktor utama yang membuat harga komponen asal China sulit disaingi. Kondisi tersebut turut memengaruhi daya saing industri komponen Indonesia, baik di pasar domestik maupun ekspor.
"Kalau komponen otomotif, kita harus bersaing dengan China. Mereka memproduksi mobil sekitar 30 juta unit, sedangkan Indonesia kapasitas produksinya sekitar 1,3 juta unit. Karena volumenya sangat besar, harga komponennya menjadi sangat kompetitif. Itu yang harus kita hadapi," kata Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmad Basuki kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/7/2026).
Produk komponen Indonesia sebenarnya telah diterima di berbagai negara. Namun pasar China masih menjadi tantangan karena kompetisi harga berlangsung sangat ketat.
"Kita bisa ekspor ke Amerika, Jepang dan negara lain. Tetapi ke China memang sulit karena persaingan harga. Di sisi lain, banyak juga produk-produk China yang masuk ke Indonesia dengan harga murah, bukan hanya otomotif tetapi berbagai produk lainnya," ujarnya.
Rachmad menilai daya saing industri China layak dipelajari sebagai referensi pengembangan industri nasional. Menurutnya, kombinasi harga yang kompetitif dan kualitas produk menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka di pasar global.
"Yang perlu kita pelajari bagaimana mereka bisa menghasilkan produk yang murah, kualitasnya bagus, lalu bisa diekspor ke banyak negara. Itu sebenarnya yang ingin kita tiru," katanya.
(dce)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































