Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
17 July 2026 16:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Adidas dipastikan menjadi pemenang dalam pertarungan merek pada final Piala Dunia 2026. Argentina dan Spanyol, dua negara yang memperebutkan trofi, sama-sama mengenakan jersey perusahaan asal Jerman tersebut.
Sebaliknya, logo Nike dipastikan absen dari jersey kedua finalis setelah Inggris tersingkir di semifinal. Sepanjang turnamen, Adidas memasok 14 tim nasional, dibandingkan Nike sebanyak 12 tim dan Puma 11 tim.
Posisi Adidas di final juga didukung kinerja keuangan yang solid. Perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada kuartal I-2026. Sementara itu, pendapatan Nike stagnan dan laba bersihnya menurun. Puma mulai membukukan pemulihan laba, tetapi penjualannya masih terkontraksi.
Kinerja Keuangan Nike, Adidas dan Puma
Periode laporan ketiganya berbeda. Nike menggunakan tahun fiskal yang berakhir 31 Mei 2026, sedangkan Adidas dan Puma menggunakan laporan kuartal I-2026.
Adidas Tumbuh Paling Solid
Adidas mencatat pendapatan US$7,55 miliar pada kuartal I-2026, naik 7,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih meningkat lebih cepat sebesar 11,24% menjadi US$555 juta.
Kombinasi pertumbuhan pendapatan dan laba tersebut menunjukkan bahwa Adidas bukan hanya membukukan kenaikan penjualan, tetapi juga berhasil menerjemahkannya menjadi profitabilitas yang lebih tinggi.
Perusahaan turut mencatat sekitar €250 juta atau US$292 juta dalam booking produk Piala Dunia pada kuartal pertama. Nilai booking tersebut belum seluruhnya dapat disamakan dengan pendapatan yang sudah diakui dalam laporan keuangan.
Final sesama tim Adidas berpotensi memperpanjang momentum melalui penjualan jersey Argentina dan Spanyol, pesanan ulang dari retailer, serta merchandise khusus tim juara.
Adidas juga mendapatkan keuntungan sebagai sponsor resmi Piala Dunia dan pemasok bola pertandingan. Eksposurnya tidak hanya bergantung pada tim yang menggunakan jersey Adidas, tetapi muncul sepanjang turnamen.
Laba Nike Turun Lebih dari 30%
Nike membukukan pendapatan US$11,28 miliar pada kuartal III tahun fiskal 2026. Secara tahunan, pendapatannya hanya tumbuh 0,09% atau praktis stagnan.
Tekanan lebih besar terlihat pada sisi laba. Laba bersih Nike turun 34,51% menjadi US$520 juta.
Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan Nike tidak hanya berada pada pertumbuhan penjualan yang lemah, tetapi juga kemampuan mempertahankan profitabilitas. Perusahaan masih menghadapi tekanan di China, pelemahan bisnis digital, promosi, biaya operasional, serta proses pemulihan hubungan dengan retailer.
Absennya Nike dari final bukan penyebab utama penurunan laba tersebut karena periode laporan berakhir sebelum Piala Dunia dimulai. Namun, perusahaan kehilangan peluang mendapatkan tambahan penjualan dan eksposur dari jersey tim juara.
Laba Puma Melonjak dari Basis Rendah
Puma mencatat pendapatan US$2,13 miliar pada kuartal I-2026, turun 6,33% secara tahunan. Perusahaan menjadi satu-satunya dari ketiga merek besar yang masih mengalami kontraksi pendapatan.
Meski demikian, laba bersih Puma meningkat menjadi sekitar US$30 juta, dibandingkan basis yang sangat rendah pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara persentase, pertumbuhannya mencapai sekitar 2.550%. Namun, lonjakan tersebut harus dibaca secara hati-hati karena sangat dipengaruhi kecilnya laba pembanding.
Kondisi ini menunjukkan Puma mulai membaik dari sisi efisiensi dan profitabilitas, tetapi pemulihan bisnisnya belum didukung pertumbuhan pendapatan.
Efek Piala Dunia Belum Tercermin Penuh
Ketiga periode laporan berakhir sebelum Piala Dunia dimulai. Karena itu, performa tim di turnamen belum menjadi penyebab langsung pertumbuhan atau penurunan laba yang terlihat dalam tabel.
Dampak Piala Dunia kemungkinan baru terlihat dalam laporan kuartal berikutnya dan semester II-2026. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan adalah penjualan kategori sepak bola, reorder retailer, penjualan jersey dengan harga penuh, gross margin dan posisi inventory.
Tambahan penjualan juga tidak otomatis menjadi laba. Perusahaan tetap menanggung biaya sponsorship, kampanye pemasaran, produksi dan distribusi.
Setelah final 2026, Adidas akan mencatat kemenangan ketujuh sebagai pemasok jersey juara dunia. Dalam delapan Piala Dunia sejak 1998, Adidas akan memenangi lima edisi, dibandingkan dua untuk Nike dan satu untuk Puma.
Adidas dengan demikian tidak hanya menguasai panggung final, tetapi juga mempunyai kombinasi pertumbuhan pendapatan dan laba paling sehat. Nike masih harus mengatasi stagnasi penjualan dan penurunan laba, sedangkan perbaikan laba Puma belum dibarengi pemulihan pendapatan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































