Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. (ist)
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id): Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjamin bahwa postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah dihitung secara matang untuk mampu mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia yang melampaui asumsi awal,
Pernyataan Menkeu tersebut merupakan jawaban dari kekhawatiran pasar domestik akan naiknya harga minyak dunia, terkait konflik peperangan di Timur Tengah (Timteng) antara Iran dengan Israel-AS.
“Saya sudah hitung, sampai harga minyak 92 dolar pun kita masih bisa kendalikan anggaran, jadi enggak bajalan timbul masalah,” kata Menkeu saat ditemui di Jakarta, Selasa malam (3/3/2026).
Ia menambahkan bahwa pemerintah memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian (adjust) belanja secara fleksibel, dengan memiliki ruang anggaran yang lebih luas pada APBN.
Dengan perhitungan tersebut, masyarakat diminta tidak perlu merasa cemas terhadap keberlanjutan program pembangunan dan subsidi negara.
Menkeu menegaskan, ketahanan anggaran negara dalam menghadapi lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, tetap terjaga.
“Termasuk merespons ancaman penutupan Selat Hormuz yang mulai mengerek harga minyak mentah dunia mendekati 80 dolar AS per barel,” ujarnya.
Purbaya memastikan pemerintah telah menyiapkan simulasi skenario terburuk guna menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tetap berada dalam kondisi terkendali.
Ia mengungkapkan bahwa ketahanan fiskal Indonesia saat ini memiliki ruang gerak yang sangat luas untuk meredam gejolak energi global.
Di tengah kekhawatiran gangguan jalur logistik dunia, Purbaya menekankan bahwa benteng pertahanan utama Indonesia adalah penguatan sektor internal.
Fokus utama Kementerian Keuangan saat ini adalah memastikan efisiensi penerimaan negara tanpa ada yang terbuang sia-sia.
Karena itu, dirinya telah menginstruksikan penguatan pada pengumpulan pajak serta sektor Bea dan Cukai untuk menekan defisit anggaran secara signifikan.
“Kita pastikan saja pertama tax collection kita, pengumpulan pajak kita sama Bea Cukai enggak ada yang bocor. Itu sudah mengurangi tekanan ke defisit,” jelas Menkeu.
Dia mengingatkan, bahwa kekuatan ekonomi Indonesia sebenarnya bertumpu pada kemampuan rakyatnya sendiri. Dilihat dari kontribusi permintaan domestik yang mencapai 90 persen menjadi alasan utama mengapa ekonomi nasional diyakini tetap bisa bertahan.
“Selama konsumsi rumah tangga tetap terjaga, guncangan eksternal dari pasar energi global tidak akan langsung meruntuhkan pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.
Purbaya mengatakan, pemerintah telah berkomitmen untuk menjaga stabilitas permintaan dalam negeri sebagai motor penggerak utama perekonomian nasional.
“Asalkan kita bisa jaga domestic demand yang 90 persen kontribusinya ke ekonomi, maka kita juga masih bisa survive. Ekonomi kita masih bisa maju, enggak ada masalah,” urai Bendahara negara ini. (Id88)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































