Kapolres Polres Pidie Jaya AKBP Ahmad Faisal Pasaribu menyerahkan daging Meugang kepada penerima jelang Ramadhan di Mapolres Pidie Jaya, Senin (16/2).Waspada.id/Ist
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
Di Aceh, khususnya di Pidie Jaya (Pijay), tradisi meugang bukan sekadar soal daging. Ia adalah simbol penghormatan terhadap Ramadhan, tanda kebersamaan sosial, dan bukti bahwa nilai agama selalu berdampingan dengan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, ketika Polres Pijay, Senin (16/2/2026) pagi, melaksanakan pemotongan sapi dan membagikan daging serta kurma kepada personel, wartawan, dan masyarakat menjelang Ramadhan, langkah tersebut patut dibaca sebagai tindakan sosial yang layak diapresiasi.
Di tengah sorotan publik terhadap kinerja aparat, kegiatan seperti ini menunjukkan wajah lain kepolisian, wajah yang dekat, peduli, dan memahami denyut budaya masyarakat. Polisi tidak hanya hadir saat konflik, kecelakaan, atau penegakan hukum, tetapi juga hadir dalam ruang tradisi dan kebersamaan.

Dalam perspektif keagamaan, semangat berbagi ini bukan sekadar kegiatan sosial. Ia adalah perintah moral yang kuat dalam Islam. Allah SWT berfirman.
“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8).
Ayat ini menegaskan bahwa berbagi makanan adalah bentuk nyata ketakwaan. Artinya, kegiatan Meugang yang dilakukan kepolisian tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga nilai ibadah. Rasulullah SAW pun mengingatkan. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Ahmad).
Jika prinsip ini dijadikan ukuran, maka langkah Polres Pijay jelas berada pada jalur yang benar, menghadirkan manfaat sosial sekaligus memperkuat kebersamaan. Pernyataan Kasi Humas Mahruzar Hariadi, SH, bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat solidaritas internal serta kedekatan dengan masyarakat menunjukkan bahwa kepolisian memahami pentingnya hubungan sosial sebagai fondasi kepercayaan publik.
Polisi tidak bisa hanya mengandalkan kewenangan hukum; mereka juga membutuhkan kedekatan kemanusiaan.
Apalagi di Aceh, di mana adat dan agama menyatu dalam kehidupan sehari-hari, pendekatan sosial seperti ini menjadi kunci penting menjaga stabilitas daerah.
Ketika polisi ikut menjaga tradisi, masyarakat akan melihat bahwa aparat bukan entitas asing, melainkan bagian dari komunitas itu sendiri. Langkah yang dipimpin Kapolres Pijay AKBP Ahmad Faisal Pasaribu,SH, SIK, MH, ini juga menunjukkan kepemimpinan yang memahami konteks lokal.

Ramadhan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas sosial. Kehadiran institusi negara dalam ruang tradisi menjadi pesan bahwa negara tidak jauh dari rakyatnya.Tentu kegiatan seperti ini tidak otomatis menyelesaikan semua persoalan pelayanan publik.
Namun ia adalah langkah kecil yang bermakna besar. Kepercayaan publik tidak lahir dari satu peristiwa besar, tetapi dari rangkaian tindakan sederhana yang konsisten.Meugang di Polres Pidie Jaya (Pijay), menunjukkan bahwa kepolisian berusaha hadir sebagai penjaga keamanan sekaligus penjaga kebersamaan.
Dan ketika aparat mampu menggabungkan tugas negara dengan nilai sosial dan keagamaan, maka Ramadhan disambut bukan hanya dengan ibadah, tetapi juga dengan rasa percaya.
Di tengah berbagai kritik terhadap institusi negara, langkah seperti ini layak didukung. Karena keamanan tidak hanya dibangun dengan patroli dan penindakan, tetapi juga dengan kepedulian dan kedekatan sosial.
Muhammad Riza
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.





















































