Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin/Bayu (PLTB) di sepanjang jalur Tol Bali Mandara. Rencana tersebut seiring dengan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di jalur tol lainnya sebagai upaya tambahan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam negeri.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan rencana tersebut akan memanfaatkan lahan di sisi kiri dan kanan jalur tol. Selain sebagai upaya mempercepat transisi energi, ini juga akan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang melintas.
"Kami tambahkan juga dengan pembangkit listrik tenaga angin tetapi yang berbentuk cylindrical yang ini bukan hanya memproduksi energi dari angin tetapi juga menambah keindahan pemandangannya," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Pembangunan unit PLTB berbentuk silinder tersebut akan difokuskan di ruas Tol Bali Mandara yang juga bisa menonjolkan estetika kawasan wisata. Menurutnya, PLTB di ruas tol tersebut dapat menjadi komitmen Indonesia terhadap pembangunan EBT nasional di mata dunia.
"Tentu saja ini akan kelihatan sekali nanti para turis yang mendarat di Pulau Bali kelihatan sekali bahwa kita sudah melakukan transisi menjadi energi yang hijau," paparnya.
Selain di Bali, PLN juga membidik lahan di sepanjang 802 kilometer (km) jalan tol milik PT Jasa Marga (Persero) Tbk untuk pemasangan panel surya dalam skala besar. Penggunaan lahan seluas 400 hingga 500 hektar tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan kapasitas daya hingga 0,5 Giga Watt peak (GWp).
"Sebagai contoh jalan tol milik Jasa Marga dengan panjang 802 km apabila di kedua sisi lebarnya sekitar 3 sampai 5 meter maka ada sekitar 400 sampai 500 hektar artinya ini ada 0,5 Giga Watt peak," tambahnya.
Proyek energi hijau di jalan tol itu juga akan dikombinasikan dengan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS). Perusahaan memperkirakan total kapasitas baterai yang bisa dihasilkan dari skema ini mencapai 1,5 Giga Watt hour (GWh) untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional.
"Tentu saja karena ini lahannya sangat murah sekali disediakan oleh negara kerja sama antar badan usaha milik negara ada yang dari ATR BPN dan selama ini tantangan utama dari program PLTS menggunakan baterai energy storage system ini adalah lahan," tuturnya.
Rencana itu juga dinilai sebagai solusi kompetitif untuk menurunkan biaya pokok penyediaan listrik. Melalui rencana tersebut, pihaknya berharap dapat mengubah ketergantungan energi impor menjadi energi domestik yang lebih murah dan ramah lingkungan.
"Ini yang bisa mengubah tadinya energi impor menjadi domestik, energi fosil menjadi renewable energy, energi yang mahal menjadi lebih murah," tandasnya.
(wia)
Addsource on Google

6 hours ago
1

















































