Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak dunia di pasar spot terpukul pada pekan ini hingga 6% lebih. Penyebabnya pasar yang kembali dikhawatirkan oleh risiko inflasi dari lonjakan harga minyak hingga peluang suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS) bertahan lebih lama.
Berdasarkan data Refinitiv pada perdagangan Jumat (24/4/2026) harga perak di pasar spot tercatat di US$75,62 per onz. Angka tersebut turun 6,4% dari posisi pekan lalu.
Tekanan utama bagi perak pekan ini datang dari harga minyak yang masih tinggi akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga energi membuat pasar khawatir inflasi global kembali sulit turun.
Bagi perak, kondisi ini menjadi tekanan besar. Jika inflasi tetap tinggi, The Federal Reserve atau bank sentral AS berpotensi menahan suku bunga di level tinggi lebih lama. Ekspektasi tersebut membuat perak kurang menarik karena tidak memberikan bunga seperti obligasi.
Situasinya menjadi cukup unik. Konflik geopolitik biasanya membuat perak diburu sebagai aset aman. Namun, kali ini dampak perang juga mengangkat harga minyak, memperbesar risiko inflasi, dan mendorong ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Kombinasi inilah yang akhirnya menahan laju perak.
Tekanan perak semakin berat karena dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut menguat. Dolar yang lebih kuat membuat perak lebih mahal bagi pembeli di luar AS, sementara kenaikan yield membuat investor lebih tertarik pada aset berbunga.
Selain itu, perak sebagai bahan baku barang industri juga tertekan dengan ketidakpastian global yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi global. Sehingga akan memengaruhi permintaan perak.
(ras/ras)
Addsource on Google

2 hours ago
1
















































