Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah organisasi pelayaran terkemuka mengecam aksi saling menangkap kapal komersial yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta menyerukan pembebasan segera para awaknya.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, John Stawpert, direktur maritim Kamar Dagang Internasional (International Chamber of Shipping), mengatakan bahwa para pelaut harus diizinkan untuk menjalankan aktivitas mereka "secara bebas dan tanpa penganiayaan".
Stawpert, yang organisasinya merupakan asosiasi perdagangan terkemuka bagi pemilik dan operator kapal dagang di seluruh dunia, menyebut penangkapan kapal-kapal tersebut sebagai penghinaan terhadap kebebasan navigasi sebagaimana dijamin dalam hukum internasional.
"Yang dilakukan orang-orang ini hanyalah mengangkut barang dagangan. Dan sungguh, kita tidak boleh membiarkan situasi di mana kapal-kapal disita, pada akhirnya untuk tujuan politik, demi membuktikan suatu poin politik," kata Stawpert, yang organisasinya mewakili sekitar 80 persen armada dagang dunia, mengutip Aljazeera, Minggu (276/4/2026).
"Mereka adalah pelaut yang tidak bersalah dan mereka harus diizinkan untuk menjalankan tugas mereka tanpa rasa takut, pada dasarnya, akan penahanan." tambahnya.
Tak ada Dasar Hukum
Stawpert mengatakan bahwa keinginan Iran untuk memungut biaya tol di Selat Hormuz tidak memiliki dasar hukum internasional dan akan menciptakan preseden berbahaya.
"Jika hal itu bisa dilakukan di Selat Hormuz, mengapa tidak bisa dilakukan di Selat Gibraltar, misalnya, atau Selat Malaka?" tanyanya.
Stawpert juga mengatakan bahwa blokade laut yang dilakukan Presiden AS Donald Trump terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah menambah ketidakpastian bagi perusahaan pelayaran yang sudah terguncang akibat penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran.
"Kami tidak tahu kondisi apa yang berlaku. Kami tidak tahu apa sebenarnya kriteria penargetan Iran," kata Stawpert. "Dan kemudian ada negara lain yang ikut campur, secara efektif melakukan hal yang sama melalui blokade selat-selat tersebut."
Militer AS dan Iran masing-masing telah mengumumkan penangkapan dua kapal komersial selama seminggu terakhir, sementara Washington dan Teheran terus saling berhadapan di Selat Hormuz dan perairan di luar Teluk.
Kementerian Pertahanan AS pada Kamis mengatakan telah menangkap kapal Majestic X yang terkait dengan Iran saat sedang mengangkut minyak yang dikenai sanksi di Samudra Hindia, beberapa hari setelah mengumumkan penangkapan kapal lain, Tifani.
Korps Pengawal Revolusi Islam Iran pada Rabu mengatakan telah menyita kapal berbendera Panama MSC Francesca dan kapal milik Yunani Epaminondas karena "beroperasi tanpa izin yang diperlukan dan merusak sistem navigasi".
Departemen Tenaga Kerja Migran Filipina pada Rabu mengonfirmasi bahwa ada 15 awak kapal asal Filipina di kedua kapal tersebut.
Pejabat mengatakan mereka telah mendapat jaminan dari pihak berwenang Iran bahwa seluruh awak kapal "selamat" dan "aman."
(pgr/pgr)
Addsource on Google

4 hours ago
1
















































