Pemerintahan Trump Dibikin Ribut Gara-gara Daun 'Surga' RI

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanaman kratom memicu polemik di Amerika Serikat. Tanaman ini sudah sejak lama digunakan secara tradisional sebagai jamu dan ramuan pengobatan, bahkan disebut tanaman surga RI. Namun di AS, kontroversi muncul bukan karena manfaat atau risiko kesehatannya, melainkan dugaan konflik kepentingan yang menyeret salah satu pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump.

Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (Department of Homeland Security/DHS) Markwayne Mullin menjadi sorotan setelah laporan keuangan terbarunya menunjukkan kepemilikan investasi hingga US$1 juta di perusahaan kratom Botanic Tonics. Kepemilikan tersebut dipermasalahkan karena Mullin selama ini diketahui aktif mendorong berbagai kebijakan yang dinilai menguntungkan industri kratom.

Laporan The New York Times mengungkap Mullin pernah mendorong pembatasan terhadap produk pesaing kratom yang lebih kuat saat masih menjabat sebagai senator dari Oklahoma.

Ia juga disebut meminta pejabat Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat menghapus informasi mengenai potensi bahaya kratom dari situs Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), baik saat masih menjadi senator maupun setelah menjadi Menteri DHS.

Hingga kini Mullin belum memberikan tanggapan langsung atas laporan tersebut. Namun, Kementerian Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat mengklaim sang menteri telah mematuhi seluruh aturan etik yang berlaku.

"Menteri telah mematuhi seluruh standar etika dan aturan mengenai konflik kepentingan serta tidak pernah melobi individu maupun perusahaan mana pun," katanya.

Tanaman Kratom. (Dok. metrokota.bnn)Tanaman Kratom. (Dok. metrokota.bnn) Foto: Tanaman Kratom. (Dok. metrokota.bnn)

Kontroversi semakin menguat setelah diketahui Mullin belum melepas investasinya di Botanic Tonics. Padahal, pada Maret lalu ia menyatakan akan melepas puluhan aset yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan apabila dikukuhkan sebagai Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat. Investasi di perusahaan kratom tersebut tidak termasuk dalam daftar aset yang akan dilepas.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai independensi kebijakan yang didorong Mullin. Kritik bermunculan karena dikhawatirkan keputusan yang diambil tidak semata-mata untuk kepentingan publik, tetapi juga berpotensi menguntungkan investasi pribadinya.

Rekam jejak Mullin juga kembali disorot. Ia sebelumnya pernah melanggar ketentuan STOCK Act karena tidak melaporkan sejumlah transaksi saham dan obligasi secara benar. Meski mengaku portofolio investasinya dikelola pihak ketiga, aturan di Amerika Serikat tetap menempatkan pejabat publik sebagai pihak yang bertanggung jawab menghindari konflik kepentingan.

Di tengah polemik tersebut, kratom sendiri masih menjadi bahan perdebatan di Amerika Serikat. Suplemen yang banyak dijual di toko maupun SPBU itu diklaim dapat membantu meredakan nyeri dan meningkatkan energi. Namun, sejumlah penelitian juga mengaitkannya dengan risiko kecanduan, gejala putus zat, kerusakan hati, kejang, halusinasi hingga psikosis. Kratom juga disebut pernah ditemukan dalam tubuh ribuan korban meninggal akibat overdosis, meski kaitan langsungnya masih menjadi perdebatan.

Sementara itu, Botanic Tonics membantah produknya berbahaya. Perusahaan tersebut menyatakan produknya aman dan selama ini mendorong regulasi yang membedakan produk daun kratom asli dengan turunan sintetisnya.

Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen dan eksportir kratom terbesar di dunia. Sebagian besar pasokan kratom yang beredar di pasar global berasal dari Kalimantan dan diekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Karena itu, setiap perkembangan regulasi maupun polemik terkait kratom di Negeri Paman Sam kerap menjadi perhatian pelaku industri di dalam negeri.

(fys/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |