Nurlinda sedang meraut daun kelapa untuk dijadikan sapu lidi, Sabtu (7/3). Waspada.id/Fauzan
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
BIREUEN (Waspada.id): Nurlinda, 48, seorang janda miskin dari Gampong Raya Dagang, Kecamatan Peusangan, kini harus menyambung hidup dengan meraut daun kelapa menjadi sapu lidi sambil bertahan di bawah tenda darurat yang tidak layak huni.
Hal itu terjadi tiga bulan pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Bireuen akhir November 2025 lalu.
Perempuan yang tinggal bersama satu anak perempuannya itu mengaku belum menerima Dana Tunggu Hunian (DTH) yang dijanjikan pemerintah kabupaten, dan sangat menginginkan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) dari pihak berwenang.
“Kami orang miskin dan hidup susah, jangankan harta sepetak tanah saja tidak kami miliki. Sekarang tidak punya apa-apa lagi, saat terjadi banjir tiga bulan yang lalu semuanya hanyut dibawa arus banjir,” ujarnya kepada wartawan pada Sabtu (7/3) di bawah tenda darurat yang terletak di tanah waqaf desa tersebut.

Sebelumnya, Nurlinda bekerja membuat batu bata di tempat orang lain. Namun, lokasi kerja tersebut terkena banjir dan berlumpur sehingga ia terpaksa beralih profesi meraut sapu lidi.
Kondisi tenda yang ditempati juga sangat memprihatinkan. Ia mengaku tenda tidak bisa ditempati pada siang hari karena panas sekali, sementara saat hujan turun air langsung masuk ke dalamnya.
Sebelum musibah melanda, Nurlinda yang tidak memiliki tempat tinggal sendiri sudah tinggal di rumah sewa. Banjir besar yang menghantam wilayah tersebut membuatnya harus mengungsi dan tinggal di tenda darurat hingga kini, tanpa tahu kapan bisa memiliki tempat tinggal yang layak.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































