Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan kasus Venezuela, termasuk penangkapan presiden negara tersebut oleh Amerika Serikat, tidak berdampak pada perdagangan Indonesia.
Hal itu disampaikan Budi saat merespons pertanyaan terkait potensi pengaruh gejolak politik dan hukum yang menimpa Venezuela terhadap hubungan dagang Indonesia.
Menurutnya, hingga saat ini tidak ada gangguan ataupun perubahan signifikan dalam aktivitas perdagangan kedua negara.
"Sampai sekarang nggak ada (pengaruhnya ke perdagangan Indonesia)," ujar Budi kepada CNBC Indonesia, Kamis (8/1/2026).
Ketika ditanya lebih lanjut apakah situasi tersebut berpotensi berkepanjangan dan menimbulkan dampak lanjutan, Budi menilai hubungan dagang Indonesia dengan Venezuela relatif kecil sehingga risikonya terbatas.
"Kan total tradenya US$69,2 juta di tahun 2024, surplusnya US$28,5 juta. Kita surplus ke Venezuela. Tapi sampai sekarang belum ada masalah," jelasnya.
Budi menuturkan, konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela memang perlu dilihat dalam konteks geopolitik global. Venezuela memiliki nilai strategis bagi sejumlah negara besar, sehingga ketegangan yang terjadi berpotensi memengaruhi stabilitas pasar dunia, terutama pada komoditas strategis seperti minyak, serta rantai pasok dan arus perdagangan internasional.
Namun demikian, dalam konteks hubungan bilateral Indonesia-Venezuela, dampaknya dinilai sangat terbatas. Pasalnya, perdagangan kedua negara belum signifikan dan bukan merupakan komponen utama dalam struktur perdagangan Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, pada periode Januari-November 2025, total perdagangan Indonesia dan Venezuela tercatat sebesar US$89,2 juta, atau naik 39,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia ke Venezuela mencapai US$75,1 juta, sementara impor sebesar US$14,1 juta, sehingga Indonesia mencatat surplus US$60,9 juta.
Sementara itu, pada 2024, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar US$69,2 juta, dengan nilai ekspor Indonesia ke Venezuela US$48,8 juta dan impor US$20,3 juta.
Adapun ekspor utama Indonesia ke Venezuela meliputi sabun dan preparat pembersih, kendaraan dan bagiannya, serat stapel buatan, pakaian jadi bukan rajutan, serta kertas dan karton.
Di sisi lain, impor Indonesia dari Venezuela didominasi oleh kakao dan cokelat, sayuran, aluminium, jangat dan kulit mentah, serta bahan kimia organik.
Dengan demikian, pemerintah menilai dinamika politik dan hukum yang terjadi di Venezuela, termasuk penangkapan presidennya, belum memberikan pengaruh nyata terhadap kinerja perdagangan Indonesia, baik dari sisi ekspor maupun impor.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

23 hours ago
4
















































