Meugang Datang, Dompet Tumbang

4 hours ago 1
AcehFeatures

14 Februari 202614 Februari 2026

Meugang Datang, Dompet Tumbang Daging hewan ternak jenis sapi dan kerbau tetap tergantung di pasar Kota Sigli, Kabupaten Pidie, namun tak semua keluarga masih mampu membawanya pulang. Waspada.id/Ist

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

Meugang selalu hadir sebagai penanda kebersamaan masyarakat Aceh. Ia bukan sekadar tradisi membeli daging, tetapi ritual sosial yang menyatukan keluarga, menghidupkan dapur, dan menegaskan nilai berbagi.

Namun tahun ini, di tengah pemulihan banjir di Pidie dan Pidie Jaya, Meugang datang dengan wajah berbeda: pasar tetap ramai, tetapi daya beli warga belum sepenuhnya pulih.

Secara angka, situasi terlihat aman. Persediaan ternak besar di Pidie tercatat sekitar 1.792 ekor, sementara Pidie Jaya sekitar 795 ekor. Pasokan ayam juga mencukupi: 21.320 ekor di Pidie dan 81.500 ekor di Pidie Jaya.

Dari sudut logistik, tidak ada alarm kelangkaan. Namun pasar tidak pernah berdiri di atas angka semata. Ia berdiri di atas kemampuan membeli. Daging sapi di Pidie masih bertahan di kisaran Rp190 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram.

Di Pidie Jaya, harga berkisar Rp170 ribu hingga Rp200 ribu. Dalam situasi pemulihan pascabanjir, angka ini bukan sekadar mahal, ia bisa terasa menyesakkan.

Ketua Kadin Pidie, Muhammad Junaidi SP, Sabtu (14/2/2026), menilai lonjakan harga tidak bisa dilepaskan dari hukum permintaan yang selalu melonjak menjelang Meugang. Tradisi konsumsi daging membuat pasar bergerak agresif setiap memasuki Ramadhan.

Namun ia mengingatkan pemerintah agar tidak membiarkan harga melampaui batas kemampuan masyarakat. Permintaan tinggi karena kebiasaan masyarakat makan daging saat Meugang, tetapi harga tetap harus ditekan. Jangan sampai melampaui Rp200 ribu per kilogram, tegasnya.

Dari sisi pemerintah daerah, Kabid Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, H. Muhammad Husin SP, menegaskan bahwa stok ternak masih cukup dan distribusi terus dipantau agar pasokan tetap tersedia di pasar.

“Ketersediaan ternak di Pidie masih aman. Kami terus memantau distribusi agar pasokan tetap tersedia di lapangan” ujarnya. Namun di sinilah letak persoalannya, stok yang stabil tidak otomatis menciptakan harga yang stabil. Pasar bisa penuh, tetapi dapur tetap sepi.

Di Aceh, Meugang bukan sekadar ritual konsumsi. Ia adalah ukuran kepedulian keluarga. Daging dimasak bukan hanya untuk dimakan sendiri, tetapi dibagi kepada orang tua, mertua, tetangga, hingga anak yatim. Karena itu, gagal memasak daging saat Meugang sering terasa seperti gagal menjaga hubungan sosial.

Ketika sebagian warga hanya mampu membeli tulang, sementara yang lain memasak penuh, yang retak bukan hanya daya beli, melainkan makna kebersamaan itu sendiri. Jika kebijakan hanya berhenti pada memastikan pasokan, maka pasar akan tetap berjalan dengan logikanya sendiri.

Dan dalam logika pasar, yang kuat bertahan, yang lemah menyesuaikan.
Padahal negara seharusnya hadir bukan hanya sebagai penjaga distribusi, tetapi juga sebagai penyeimbang keadilan ekonomi.

Tradisi Meugang tidak pernah gagal datang. Yang sering gagal adalah kemampuan rakyat mengikutinya. Dan jika setiap tahun dompet yang tumbang lebih dulu, maka yang perlu dibenahi bukan tradisinya, melainkan keberpihakan pada rakyat kecil.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |