Oleh: Asren Nasution
Judul : Menyambut hadirnya Buku Biografi Tokoh Ulama Al Jam’iyatul Washliyah
Karya : Hasballah Thaib – Muhammad Nasir. Alumni Muallimin (80), Alqismul’aly (83)
Penerbit : Perdana Publishing (2025).
Tebal : 182 halaman
Buku ini hadir pada saat yang tepat, karena dua hal. Pertama, saat sejumlah organisasi Islam berbenah, sejalan dengan kebangkitan Indonesia yang ditandai dengan upaya kolektif membangun kesejahteraan dan kemandirian bangsa serta upaya pemanfaatan kekayaan negara bagi kemakmuran rakyat sebesar-besarnya.
Kedua, saat lembaga-lembaga pendidikan yang diasuh oleh organisasi Islam sedang mengalami transisi, berhadapan dengan transformasi sosial yang tidak tanggung-tanggung.
Namun, sebelumnya, izinkan saya menyampaikan salam ta’zim kepada penulisnya; dua ulama Al Washliyah kontemporer, guru saya al-Ustadz Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, MA dan kawan sekampung saya Syekh Dr. Muhammad Nasir, Lc, MA, yang telah berjihad melanjutkan tradisi ulama Al Washliyah; mengajar, menulis, ceramah, dan membimbing umat, dari satu majlis ke majlis taklim yang lain.
‘Ala kulli hal, buku ini telah menghidangkan kepada kita tradisi keulamaan Al Washliyah, sebagaimana dipentaskan dalam kehidupan mereka yang indah dan mengesankan.
Dengan membaca buku, studi tokoh ini,akan diketahui apa yang telah dilakukan para ulama di masa lalu, sehingga kita dapat mengetahui persis dari mana kita mulai melanjutkannya.
Kita juga akan mengetahui hal-hal apa yang telah diperhatikan dan belum diperhatikan, hingga kita dapat mengisi ‘lakuna’ yang masih tertinggal.
Dengan membaca buku ini kita mengetahui bahwa pada eranya, ulama yang kharismatik dan berwibawa di Sumatera Utara adalah ulama-ulama Al Washliyah.
Mereka tidak saja ulama, ahli agama, tapi juga ulama-ulama itu terjun memimpin pergerakan kemerdekaan dan perjuangan bangsa.
Berkhidmat Bersama Umat
Adalah sangat menarik bahwa para ulama Al Washliyah tidak ‘duduk bertahta’ di madrasah atau pesantren, melainkan mereka—setelah diskusi di maktab—yang melahirkan kesepakatan mendirikan jami’ah ini, mereka langsung terjun ke masyarakat, hadir di tengah umat, dan ‘berhujan berpanas’ bersama umat. Dari situ dapat kita ketahui bahwa model perkhidmatan ulama Al Washliyah adalah
“bersama umat”.
Itulah sebabnya mengapa umat ikhlas berwakaf, menyerahkan harta benda mereka
untuk membangun madrasah- madrasah Al Washliyah di tengah-tengah kampung dan perkotaan.
Hampir semua ulama besar Al Washliyah mengajar di tengah-tengah umat. Tetapi mereka tidak cenderung mendirikan pondok pesantren, milik pribadi dan keluarganya.
Diduga keras strategi dakwah pendidikan mereka adalah memegang prinsip “manunggal dgn umat”. Mereka hadir mendatangi umat mengaji bersama mereka di musholla, di masjid-masjid pada madrasah-madrasah Al Washliyah dan perguruan Al Washliyah.
Di situlah mereka membangun karakter muslim yang Islami, lembut, dan wasathiyah. Strategi dakwah ulama Al Washliyah ini dapat dirujukan pada karakter Al Washliyah yang secara keseluruhan inklusif, tidak eksklusif; washal, merealisasikan lintas segmen, bersikap ramah dan hadir bersama umat.
Al Washliyah Kultural dan Al Washliyah Struktural
Mungkin tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa kekuatan Al Washliyah tidak hanya pada “Al Washliyah Struktural”. Akan tetapi para ulama yang ‘arif bijaksana itu sukses mengembangkan ‘Al Washliyah zaman berzaman dengan membangun Al Washliyah Kultural.
Al Washliyah kultural inilah yg menggerakkan umat untuk mendukung sepenuhnya gerakan Al Washliyah melalui ghirah berwakaf membangun madrasah-madrasah dan panti panti asuhan serta dakwah Islamiah. Bahkan spirit Al Washliyah kultural itu pula yang mendorong lahirnya Universitas Al Washliyah (UNIVA) sebagai Perguruan Tinggi yang mencetak ulama-ulama bergelar akademik yang berkhidmat di tengah-tengah masyarakat. Melalui kharisma ulama-ulama itulah Al Washliyah tumbuh
menjadi kekuatan moral sekaligus kekuatan sosial yang berwibawa.
Kalau kita analogikan dengan sejarah perjuangan umat menyiarkan Islam pada periode keemasannya, kita akan bertemu dengan kenyataan sejarah bahwa di suatu saat ‘spionase’musuh pernah menyusup ke pasukan Muslim untuk mengetahui besarnya kekuatan mereka, berapa jumlah pasukan mereka sebenarnya?
Setelah kembali, spionase ini ditanya tentang kekuatan pasukan Muslim. Namun dia mengatakan bahwa ‘pasukan Muslim itu tidak bisa dihitung jumlahnya’ karena telah berbaur antara tentara dengan rakyat menyongsong musuh. Jumlah mereka adalah sebanyak manusia yang ada di sana.
Semacam inilah wujud spirit kekuatan kultural yang telah dibangun oleh ulama-ulama Al Washliyah “assabiqun al awwaluun”.
Tentang Buku ini dan Penulisnya
Buku ini menjelaskan biografi delapan ulama Al Washliyah, yang merupakan bagian dari para ulama Al Washliyah, yang telah mewarnai keberislaman kaum muslimin di Indonesia dan bahkan di manca negara.
Keistimewaan buku ini, terutama ditulis langsung oleh dua sosok ulama Al Washliyah kontemporer (Prof. Hasballah & Ustaz Nasir) yang langsung mengalami interaksi (talaqqy) dengan figure 8 ulama yang dituliskan, sehingga dengan membaca buku ini kita dapat merekam ulang suasana kebatinan dan spirit ulama Al Washliyah, untuk menjadi referensi primer bagi peneliti tentang ulama Al Washliyah.
Saya juga menikmati sajian data dan analisis (‘historiografi’) pada buku ini telah mengedepankan ‘latar belakang internal’ ulama-ulama tersebut. Akan tetapi tampaknya ‘latar belakang eksternalnya’, yang menggambarkan situasi (intellektual, sosial , budaya politik, ekonomi, dan kondisi keberagamaan) yang dihadapi para ulama-ulama tersebut saat mereka berkiprah masih belum digali secara mendalam.
Dimana dalam metodologi penulisan studi tokoh faktor latar belakang eksternal sesungguhnya merupakan komponen yang mewarnai pokok pikiran, gagasan dan gerakan tokoh yang ditulis.
Meskipun demikian suguhan data dalam buku ini, secara keseluruhan dapat menjadi referensi penting bagi sarjana Al Washliyah untuk mengembangkan, mengelaborasi melalui penelitian lebih mendalam dan komprehensif sehingga gerakan keilmuan ulama-ulama Al Washliyah menjadi model dakwah kultural untuk diteruskan zaman berzaman.
Selain juga telah memenuhi ‘dahaga kerinduan’ kita kepada figure para ulama yang sederhana, dengan keindahan kehidupan mereka sebagai panutan umat, tak tergoyahkan oleh pragmatisme dan materialisme yang mengitari lingkungan mereka.
Semoga Allah menyediakan fasilitas super VIP bagi mereka di alam barzah hingga di ujung hari kemudian. Adalah kewajiban generasi penerus Al Washliyah untuk meneladani.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.




















































