Diskusi USU dan UGN pemasangan pipa air untuk masyarakat Desa Durian, Angkola Sangkunur, Tapsel. Waspada. Id/ist
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id): Masyarakat Tapanuli Selatan memiliki berbagai tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadhan, seperti marpangir, mangan sirih, marondang, dan mangalame. Tradisi mangalame merupakan kegiatan memasak dodol khas yang disebut alame, yang menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Mandailing.
Dalam keterangan yang diterima di Medan, Senin (9/3), proses pembuatan dodol alame membutuhkan waktu yang cukup lama, biasanya hingga sekitar enam jam. Proses dimulai dengan memanaskan santan kental, kemudian ditambahkan tepung ketan—baik ketan putih maupun ketan hitam—gula merah, garam, serta bahan perasa lainnya.
Seluruh bahan tersebut kemudian diaduk secara terus-menerus dalam wajan besi besar hingga mengental dan menghasilkan dodol alame yang legit dan lezat.
Bagi masyarakat Mandailing, alame tidak sekadar makanan tradisional. Dodol yang memiliki rasa manis dan tekstur lengket ini memiliki nilai filosofis yang melambangkan eratnya kebersamaan, persaudaraan, dan jalinan persahabatan di tengah masyarakat.
Tradisi memasak alame biasanya dilakukan selama bulan Ramadhan hingga menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Hidangan ini sering disajikan dalam berbagai perayaan dan juga diberikan sebagai hadiah yang melambangkan hubungan yang erat antar keluarga maupun kerabat.
Makanan khas dari Sipirok, Tapanuli Selatan, dan wilayah Mandailing ini bahkan telah dikenal hingga mancanegara seperti Malaysia, Thailand, China, Vietnam, hingga Amerika Serikat sejak tahun 2008.
Dalam rangka mendukung pemulihan masyarakat pascabencana, Assoc. Prof. Ameilia Zuliyanti Siregar, M.Sc., Ph.D dari USU Peduli pada kegiatan “Ramadhan Mubaraq” menginisiasi kegiatan pembuatan dodol atau mangalame bersama masyarakat di Desa Aek Ngadol, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan, pekan lalu.
Kegiatan ini melibatkan para ibu rumah tangga yang telah menyiapkan bahan serta peralatan pembuatan dodol.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga masyarakat setempat, khususnya di wilayah yang terdampak bencana.
Selain kegiatan mangalame, juga dilakukan penyaluran bantuan berupa makanan siap saji (sumbangan IPB), beras, mie instan, bumbu dapur, minyak makan, teh, minyak telon, serta pakaian yang berasal dari Universitas Jambi, Universitas Bengkulu (UNIB), dan Universitas Tadulako.
Kegiatan Belajar
Tim relawan juga mengadakan kegiatan belajar bersama bagi anak-anak TK, SD, dan SMP yang menjadi penyintas banjir di Masjid Babussalam.
Selain itu, dilakukan pula pengecekan lokasi untuk pemasangan pipa air bersih oleh Universitas Sumatera Utara bekerja sama dengan Universitas Graha Nusantara (UGN) dan Komunitas ZIS.
Menurut Bapak Zaid Perdana Nasution, S.T., M.T., Ph.D dari Posko USU Peduli, kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana hidrometeorologi banjir bandang di Tapanuli Selatan akan terus dilakukan.
Pendampingan yang diberikan mencakup pemulihan di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hingga pembangunan infrastruktur.
Diharapkan berbagai aktivitas yang dilakukan oleh USU Peduli dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Tapanuli Selatan. (id23/rel)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































