Kisah Jembatan Dan Baut

4 hours ago 3

Oleh: Farid Wajdi

Sebuah jembatan darurat berdiri membelah sungai. Besinya dingin, rangkanya sederhana, dan tujuannya satu: menghubungkan. Tidak ada ornamen megah, tidak ada simbol kekuasaan.

Namun dari seluruh struktur itu, perhatian publik justru tertuju pada satu benda kecil—sebuah baut yang copot. Logam mungil tersebut tiba-tiba menjelma cerita besar, memantik amarah, tafsir moral, bahkan narasi ancaman.

Baut memang sering diremehkan. Ia kecil, tersembunyi, nyaris tak terlihat. Namun para insinyur memahami perannya sangat krusial. Tanpa baut, jembatan tak lebih dari tumpukan besi tanpa daya ikat.

Arsitek struktur menyebut baut sebagai silent connector, pengikat sunyi yang menentukan keselamatan bangunan (Sutanto, 2017).

Ironisnya, dalam kehidupan sosial, benda kecil semacam ini justru sering menjadi pemicu kegaduhan besar ketika hilang.

Kisah baut jembatan di Aceh mencuat ke ruang publik pada 2025. Sebuah baut dilaporkan copot dari jembatan darurat pascabencana.

Reaksi datang cepat dan keras. Narasi ancaman disampaikan, kemarahan dipertontonkan, foto baut beredar sebagai simbol ketidakbertanggungjawaban. Media ramai. Baut berubah status, dari komponen teknis menjadi drama nasional (KBA One, 2025).

Namun cerita ini terasa janggal. Sebuah struktur darurat, dibangun dalam waktu singkat, berada di wilayah terbuka, dikawal aparat, lalu kehilangan baut tanpa penjelasan teknis memadai.

Alih-alih membahas mutu material, metode pemasangan, atau standar pengamanan, perhatian publik digiring pada asumsi moral tentang niat jahat. Di titik ini, baut tidak lagi berbicara tentang teknik, melainkan tentang cara kekuasaan membaca peristiwa.

Filsafat baut dan mur telah lama hidup dalam kebudayaan populer. Banyak penulis motivasi menggambarkan baut dan mur sebagai lambang hubungan manusia. Dua benda berbeda, saling mengunci, saling menguatkan. Tanpa salah satu, struktur runtuh.

Widianto Syla (2016) menyebut hubungan baut dan mur sebagai metafora kesetaraan dan saling ketergantungan dalam hidup. Filosofi serupa juga muncul dalam kajian psikologi sosial tentang interdependence sebagai fondasi kohesi masyarakat (Johnson & Johnson, 2019).

Kelelahan Narasi

Namun metafora ini memiliki sisi gelap. Baut bisa longgar. Mur bisa aus. Struktur bisa rapuh bukan karena sabotase, melainkan karena kelalaian.

Dalam dunia teknik, kegagalan baut sering kali bersumber dari kesalahan desain, kualitas material rendah, atau prosedur pemasangan yang tidak presisi (Gere & Timoshenko, 2018).

Dalam dunia sosial, kegagalan serupa muncul saat tata kelola longgar dan kepercayaan dibiarkan aus perlahan.

Aceh bukan sekadar latar geografis. Wilayah ini memikul sejarah panjang tentang kepercayaan dan pengingkaran. Saat narasi baut hilang dipertontonkan, publik Aceh tidak hanya melihat logam copot, tetapi juga refleksi lama tentang janji, pengawasan, dan tanggung jawab.

Acehnews (2025) mencatat respons publik lebih condong pada kelelahan narasi ketimbang kemarahan teknis.

Baut juga memiliki sejarah bahasa menarik. Kata “baut” berasal dari serapan bahasa Belanda bout dan Prancis bolt, merujuk pada pengikat kuat dalam mesin dan bangunan (Tribun Solo, 2018).

Secara etimologis, baut selalu terkait fungsi penguatan, bukan sensasi. Ketika fungsi itu hilang, masalah sesungguhnya bukan pada baut, melainkan pada sistem yang membiarkan baut kehilangan peran.

Sosiolog Ulrich Beck dalam teori risk society menjelaskan kecenderungan modern mempersonalisasi risiko struktural menjadi kesalahan individu atau kelompok imajiner (Beck, 1992).

Pola ini tampak jelas dalam kisah baut jembatan. Risiko teknis dialihkan menjadi drama moral. Kegagalan sistemik disederhanakan menjadi cerita tentang niat buruk.

Padahal, solusi selalu lebih membumi. Audit teknis. Perbaikan cepat. Transparansi prosedur. Insinyur sipil menyepakati satu prinsip sederhana: struktur aman lahir dari desain baik dan perawatan konsisten, bukan dari kemarahan verbal (Schodek et al., 2016). Masalahnya, prinsip ini kalah pamor dibanding narasi emosional.

Simbol Vs Substansi

Dalam kehidupan sehari-hari, filosofi baut dan mur sering diajarkan sebagai pelajaran kerendahan hati. Peran kecil menentukan keberhasilan besar.

Seorang guru mungkin tidak terlihat seperti pejabat tinggi, namun tanpa peran tersebut, bangunan bangsa pincang. Seorang petugas lapangan mungkin tak muncul di berita utama, namun tanpanya, proyek ambisius berisiko gagal. Filosofi ini banyak diangkat dalam literatur motivasi dan refleksi sosial (Arsitekta, 2020).

Kisah jembatan dan baut akhirnya berbicara tentang prioritas. Apakah perhatian tertuju pada perbaikan nyata atau pada panggung simbolik.

Apakah energi dicurahkan untuk memperkuat struktur atau untuk menunjuk musuh tanpa wajah. Dalam dunia serba cepat, simbol sering lebih menggoda dibanding substansi.

Jembatan sejatinya hadir untuk menyambung. Baut hadir untuk mengikat. Ketika keduanya berubah menjadi alat retorika, makna awalnya memudar. Publik disuguhi drama, sementara persoalan teknis menunggu jawaban.

Baut mungkin kecil, namun cerita di baliknya mengungkap sesuatu jauh lebih besar: cara kekuasaan merawat detail.

Pada akhirnya, kisah ini tidak memerlukan tokoh antagonis. Tidak perlu pula label moral berlebihan. Cukup satu pelajaran sederhana: struktur kokoh lahir dari perhatian pada hal kecil.

Baut yang terpasang benar jarang disebut. Baut yang copot selalu mengundang cerita. Dari cerita itu, publik belajar membaca jarak antara retorika dan tanggung jawab.

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |