Ketua PeTA Aceh Tenggara, Nawi Sekedang, SE.
Waspada.id/Seh Muhammad Amin
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
KUTACANE (Waspada.id): Ketua PeTA Aceh Tenggara, Nawi Sekedang, SE, mengimbau agar tidak hanya sekadar berbicara tentang penanganan banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tenggara pada 2025, melainkan juga memberikan solusi dan kontribusi nyata.
Pernyataan itu ditujukan kepada Amas Muda, yang sebelumnya menyebutkan bahwa penanganan bencana hidrometeorologi serta pemimpin yang dianggap tuli dan otoriter merupakan bencana paling dahsyat di daerah tersebut tahun lalu, termasuk dalam konteks krisis demokrasi.
“Kau di mana Amas Muda, kau dari dulu di mana kok hanya bisa ngomong doang, kemari kau jumpai saya agar saya ajari kamu ngomong yang baik dan benar serta beretika,” ujar Nawi melalui Waspada.id pada Jumat (2/1).
Menurut Nawi, klaim Amas Muda yang menyatakan diamnya Bupati Aceh Tenggara H. Muhammad Salim Fakhry terhadap aspirasi mahasiswa menandakan sepakat atas penderitaan korban tidak sesuai dengan fakta. Amas Muda juga dinilai menganggap Bupati dikibuli oleh dua pimpinan OPD yaitu Kalaksa BPBD dan Kepala Dinas karena mempercayai bahwa penanganan korban berjalan lancar.
“Jangan hanya pandai ngomong saja dan mencari nama saja, tidak melihat fakta dan buta, kau yang tuli bagimana berjibaku nya Bapak Bupati Aceh Tenggara dalam menghadapi musibah yang terjadi di Negeri metuah ini,” tegasnya.
Nawi menjelaskan bahwa sebagai organisasi kemahasiswaan, kritik harus diimbangi solusi. “Kita juga pernah sebagai mahasiswa dan kita juga pernah mengkritik pimpinan Negeri ini, tapi kita berikan solusinya baik dalam hal yang kita kritik,” tambahnya.
Menurutnya, Bupati Salim Fakhry telah terus berjibaku menangani bencana sejak banjir dan longsor terjadi pada Rabu (26/11/2025). Mantan anggota DPR-RI dua periode ini sigap mengkoordinasikan jajarannya untuk berada di tengah masyarakat, membantu penyaluran logistik, membuka akses jalan yang terputus, hingga melakukan lobi kepada Pemerintah Aceh dan Pusat untuk penambahan bantuan.
“Kerja nyata ketua DPD I Golkar Aceh begitu dirasakan masyarakat Aceh Tenggara. Fakhry, sapaan akrabnya, bekerja siang-malam, menerebos banjir, hingga masuk ke wilayah terisolir di Desa Simpur Jaya Kecamatan Ketambe,” ujar Nawi.
Bupati juga tak sungkan mengunjungi pengungsian, membagikan sembako langsung dan makan bersama korban di lokasi. “Ini bukan pencitraan, melainkan wujud pengabdian seorang pemimpin kepada rakyatnya. Berada langsung di tengah masyarakat, pemetaan masalah, mengambil keputusan dan solusi langsung di lapangan,” jelasnya.
Pengalaman sebagai politisi dan mantan anggota parlemen membuat Salim Fakhry paham betul pentingnya kerja nyata dalam situasi genting. Hal ini membuatnya lebih mudah menjadi komando lapangan dalam krisis, bukan berada di balik meja dan lamban mengambil keputusan strategis.
“Selama terjadi bencana, Bupati bertindak ganda sebagai pemimpin, relawan dan sekaligus psikolog. Dia piawai menggerakkan jajarannya sigap dalam situasi genting,” pungkas Nawi.(id80)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.






















































