Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Eropa (UE) kini dihadapkan pada dilema ekonomi yang sangat pelik menjelang tenggat waktu pemangkasan rekor defisit perdagangan dengan China sebelum Oktober. Pasalnya, di saat yang sama, Benua Biru justru dihantam gelombang panas (heat wave) terburuk sepanjang sejarah.
Hal ini memaksa warga lokal "tak bisa hidup tanpa China". Ya, mereka berbondong-bondong memborong produk pendingin ruangan (AC) yang mayoritasnya dipasok oleh pabrikan China.
Mengutip laporan CNBC International, Jumat (3/07/2026), Uni Eropa dan China sebenarnya baru saja merilis pernyataan bersama yang langka pada hari Senin demi menyeimbangkan arus dagang. Mereka juga berupaya menyelesaikan sengketa akses pasar, kontrol ekspor, hingga hak kekayaan intelektual.
Namun, negosiasi ini berjalan di waktu yang sangat canggung. Pasalnya, data ritel menunjukkan tidak ada satu pun dari lima merek AC terlaris di Eropa yang dimiliki oleh perusahaan asal UE.
Tiga raksasa manufaktur Negeri Tirai Bambu, yaitu Midea Group, Haier Group, dan Gree Electric Appliances, sukses mencengkeram 32% pangsa pasar ritel Eropa pada tahun 2025. Sisa posisi lima besar kemudian diisi oleh Beko asal Turki dan Daikin dari Jepang.
"Ekspor China ke UE terus meningkat, sementara pangsa pasar kami di China terus menyusut. Tren ini tidak berkelanjutan," keluh Kepala Perdagangan Eropa Maros Sefcovic setelah bertemu dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Brussels.
Ketergantungan akut ini diperparah oleh rendahnya tingkat kepemilikan AC di Eropa yang baru menyentuh angka 20% rumah tangga. Angka tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang sudah mencapai hampir 90%.
Celah pasar yang masih sangat luas ini membuat produsen Asia seperti Midea, Samsung, dan Mitsubishi Electric berlomba-lomba meluncurkan ekspansi besar-besaran. Salah satu produk andalan China, Midea PortaSplit, bahkan mencatatkan ledakan pemesanan hingga menembus 200.000 unit per hari Senin kemarin.
Keberhasilan produk ini dikarenakan keunggulan rekayasa tekniknya yang mampu menyiasati aturan ketat pelestarian arsitektur kuno di kota-kota besar seperti Paris. Produk ini bisa dipasang tanpa perlu pengeboran dinding dan memiliki volume zat pendingin di bawah batas regulasi Prancis.
Ketiadaan korporasi lokal Eropa dalam rantai pasok pendingin ini menegaskan adanya jurang kegagalan industri yang kini memicu kepanikan di internal UE. Terlebih lagi, sekitar separuh dari total barang yang diimpor UE dari China kini sudah bergeser menjadi produk teknologi tinggi seperti mobil listrik hingga permesinan canggih.
Perubahan struktural ini dinilai dapat menjadi masalah finansial sistemik bagi Uni Eropa jika industri manufaktur mereka terus tergerus dan mati secara perlahan. Sebagai respons, Komisi Eropa secara blak-blakan menegaskan bahwa status quo perdagangan saat ini tidak lagi bisa dipertahankan.
UE pun mulai memperketat aturan dengan membatasi kucuran dana bagi proyek tenaga surya yang menggunakan komponen buatan China. Mereka juga menghapus pembebasan pajak untuk paket kiriman bernilai rendah guna menjegal platform e-commerce raksasa seperti Temu dan Shein.
"China belum membuat komitmen nyata dalam menetapkan kuota impor aktual atau mekanisme implementasi yang nyata," kritik Alicia García Herrero, kepala ekonom di bank investasi Prancis Natixis.
Herrero menilai hasil kesepakatan bersama itu hanya berupa 'asap' taktis dari Beijing agar Eropa menunda peluncuran sanksi tarif baru. Di sisi lain, para analis memproyeksikan bahwa Uni Eropa tidak akan meluncurkan perang tarif secara menyeluruh seperti yang dilakukan AS.
Sanksi yang dipersiapkan diprediksi akan fokus secara spesifik pada sektor-sektor strategis yang rentan dijadikan alat politik oleh Beijing. Sektor-sektor kritis tersebut terutama mencakup pasokan logam tanah jarang (rare earths), industri bahan kimia, otomotif, dan alat berat.
Kendati demikian, UE tetap harus melangkah penuh kewaspadaan. Sebab, pemerintah China sudah memperingatkan bahwa mereka tidak akan ragu untuk meluncurkan tindakan balasan ekonomi serupa jika ruang gerak industrinya terus ditekan oleh kebijakan proteksionis Barat.
(tps/sef)
Addsource on Google

6 hours ago
1

















































