Irigasi di Gampong Lamsie, Kecamatan Cot Glie, Aceh Besar, Rabu (4/2/2026). Saluran irigasi yang menjadi salah satu sumber pengairan sawah warga ini kini mengering seiring masuknya musim kemarau. Waspada.id/Hulwa Dzakira
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
BANDA ACEH (Waspada.id): Dampak musim kemarau mulai mengancam ketahanan pangan di Aceh. Sejumlah lahan persawahan milik petani di Kabupaten Aceh Besar mengalami kekeringan dan terancam gagal panen. Total lahan terdampak diperkirakan mencapai seribuan hektare.
Berdasarkan pantauan Waspada.id pada Rabu (4/2/2026) di Gampong Lamsie, Kecamatan Cot Glie, Aceh Besar, sejumlah sawah milik warga tampak mengering, retak, dan tidak lagi mendapat pasokan air. Kondisi ini membuat tanaman padi tumbuh kerdil dan berdaun kekuningan meski telah ditanam selama dua bulan terakhir.
Salah seorang petani, Hendri, mengungkapkan bahwa selama ini ia mengandalkan mesin pompa untuk mengalirkan air ke sawah saat debit irigasi menurun. Namun, upaya tersebut kini semakin sulit karena sungai sebagai sumber air utama juga mulai mengering.
“Saya punya enam petak sawah. Kalau air di saluran tidak ada, biasanya saya pompa dari sungai. Tapi sekarang sungainya juga kering. Jadi ada yang harus dikorbankan, gagal panen,” ujar Hendri.
Kondisi persawahan di Gampong Lamsie, Kecamatan Cot Glie, Aceh Besar, Rabu (4/2/2026). Sejumlah sawah milik warga tampak mengering, retak, dan tidak lagi mendapat pasokan air akibat musim kemarau. Waspada.id/Hulwa DzakiraIa mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa mesin pompa sebesar Rp100 ribu per hari, ditambah biaya bahan bakar sekitar Rp100 ribu. Pengeluaran tersebut dilakukan hingga dua kali dalam sepekan.
“Kalau bicara efektif, ya tidak. Tapi tetap kita usaha. Sekarang modal bertambah, bukan cuma bajak dan tanam, tapi juga biaya pompa,” katanya.
Dari enam petak sawah miliknya, satu petak dipastikan gagal panen akibat tidak mendapat pasokan air.
Sementara itu, Keuchik Gampong Lamsie, Mudasir, menyebutkan sekitar 60 hektare sawah di desanya terancam gagal panen. Sejumlah lahan telah mengalami kekeringan parah, sementara saluran irigasi desa juga dilaporkan mengering total.
“Tanah mulai retak dan padi banyak yang kerdil. Air irigasi sudah habis,” ujarnya.
Kondisi kemarau ini memperparah dampak bencana hidrometeorologi yang sebelumnya melanda Aceh. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, banjir sebelumnya telah merusak lahan pertanian seluas 89.582 hektare, terutama pada komoditas padi sawah.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah, menyebutkan dari total lahan terdampak banjir, hanya 62.517 hektare yang masih bisa ditanami kembali. Sementara 27.065 hektare tidak dapat digunakan karena tertutup lumpur setinggi 1 hingga 1,5 meter.
“Banjir kali ini menyebabkan gagal panen karena disertai lumpur tebal. Tanaman tidak mungkin diselamatkan,” kata Cut Huzaimah dalam siaran tertulisnya pada 22 Desember 2025 lalu.
Ia mengungkapkan estimasi kerugian sektor persawahan telah mencapai lebih dari Rp1,16 triliun. Selain padi, banjir juga merusak lahan jagung, hortikultura, dan perkebunan di sejumlah kabupaten/kota.
Dengan kerusakan sawah akibat banjir di berbagai daerah, ditambah kondisi kemarau yang melanda sebagian wilayah Aceh saat ini, maka petani memperkirakan produksi padi pada tahun 2026 diperkirakan akan mengalami penurunan signifikan. (Hulwa)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.





















































