Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengungkap hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan jutaan masyarakat Indonesia mengalami berbagai masalah kesehatan yang berpotensi berkembang menjadi penyakit serius.
Berdasarkan hasil skrining terhadap puluhan juta peserta, temuan terbesar antara lain tekanan darah di atas normal, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas sentral, hingga gangguan kesehatan gigi dan mulut. Budi menegaskan, temuan ini menjadi alasan pemerintah mengubah fokus layanan kesehatan dari yang sebelumnya berorientasi pengobatan menjadi promotif dan preventif.
Budi mengatakan, hasil CKG sebagai skrinning awal memperlihatkan besarnya beban penyakit masyarakat yang selama ini tidak terdeteksi.
"Begitu cek kesehatan gratis kita lakukan, kelihatan sekali bahwa penyakit masyarakat kita yang tidak sehat itu angkanya jutaan-jutaan," kata Budi dalam rapat kerja Bersama Komisi IX DPR RI, Senin (8/6/2026).
Ia menegaskan, kapasitas rumah sakit tidak akan cukup jika seluruh temuan hasil skrining tersebut dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut.
"Kita tidak mungkin menampung di rumah sakit. Itu sebabnya hampir di seluruh dunia ada rule of thumb, kalau bisa masalah kesehatan 80% diselesaikan di fasilitas pelayanan tingkat pertama oleh dokter," ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 31 Desember 2025, hasil pemeriksaan terhadap peserta CKG usia 18-59 tahun menunjukkan:
- 40,7% peserta mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut atau sekitar 6,4 juta orang.
- 31,2% peserta mengalami obesitas sentral atau sekitar 8,9 juta orang.
- 26% peserta memiliki tekanan darah di atas normal atau sekitar 7,4 juta orang.
- 17% peserta terindikasi diabetes atau sekitar 4,1 juta orang.
- 42,4% peserta mengalami kolesterol tinggi.
Temuan tersebut berasal dari puluhan juta peserta yang telah mengikuti program CKG. Budi menjelaskan kondisi ini menjadi dasar transformasi sistem kesehatan nasional yang lebih menitikberatkan pada pencegahan penyakit dan deteksi dini dibandingkan pengobatan setelah penyakit menjadi berat.
Budi mengatakan, selama ini banyak masyarakat yang ingin langsung berobat ke rumah sakit atau dokter spesialis. Padahal pola tersebut tidak akan berkelanjutan jika jumlah penderita penyakit kronis terus meningkat.
Oleh sebab itu, pemerintah akan memperkuat layanan di puskesmas dengan menambah berbagai alat diagnostik yang sebelumnya hanya tersedia di rumah sakit, seperti USG, EKG, hingga secara bertahap X-ray.
"Kita ingin mengubah strategi layanan kesehatan ini lebih ke promotif preventif dan selesainya di puskesmas, karena akan terlalu berat kalau semuanya didorong masuk ke rumah sakit," kata Budi.
Ia menambahkan sekitar 80% temuan masalah kesehatan dari hasil skrining diharapkan dapat ditangani di puskesmas sehingga rumah sakit dapat fokus menangani kasus-kasus yang lebih kompleks.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































