Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lanjut menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 09.00 WIB IHSG berada di level 6.440,59 atau terapresiasi 0,48% dari penutupan sebelumnya.
Nilai transaksi mencapai Rp 156,53 miliar dengan volume perdagangan 294,43 juta saham dalam 39.304 juta kali transaksi. Sebanyak 308 saham menguat, 57 saham melemah, dan 307 saham masih belum bergerak.
Pasar keuangan Indonesia akan menghadapi pekan padat pada 10-14 Agustus 2026. Perhatian utama pelaku pasar tertuju pada inflasi Amerika Serikat (AS), harga produsen, dan penjualan ritel yang dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan merilis hasil Survei Konsumen Juli dan Survei Penjualan Eceran Juni. Kedua data tersebut akan memberikan gambaran mengenai daya beli masyarakat Indonesia.
Puncaknya adalah pada Jumat pekan ini di mana Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan Pidato Kenegaraan serta menyerahkan Nota Keuangan serta Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2026.
Agenda global berdampak tinggi pada pekan ini terkonsentrasi di AS, China tidak memiliki agenda penting pada periode tersebut.
Bursa saham Asia-Pasifik bergerak menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026), dengan investor mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran serta prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Melansir CNBC, Indeks Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 0,54%. Di sisi lain, Topix bergerak sedikit lebih tinggi.
Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat 0,53%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melesat 1,48%. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 tercatat naik 0,54%.
Sentimen investor sebelumnya terdorong oleh harapan bahwa AS dan Iran akan segera mencapai kesepakatan yang memungkinkan kapal-kapal kembali melintas bebas di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi global. Namun, optimisme tersebut mereda setelah Iran pada akhir pekan membantah tengah melakukan negosiasi langsung dengan AS terkait pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meredanya harapan kesepakatan turut mendorong kenaikan harga minyak mentah, dengan kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1% menjadi sedikit di atas US$79 per barel pada Minggu (9/8/2026). Pergerakan harga minyak menjadi perhatian pasar karena gangguan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
4

















































