Harga Nikel Terbang, Deretan Perusahaan "Sultan" RI Ini Panen Cuan

23 hours ago 5

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

08 January 2026 12:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Jika membicarakan saham tambang, cash is king, tapi reserves (cadangan) adalah nyawa. Di tengah gembar-gembor nikel sebagai "emas baru", investor cerdas tidak cuma melihat laba hari ini, tapi seberapa banyak harta karun yang masih tersimpan di perut bumi buat jaminan napas perusahaan di masa depan.

Harga nikel tengah terbang kembali sepekan terakhir, Pada perdagangan Rabu (7/1/2025), harga nikel ada di posisi US$ 17.855 per ton atau naik 5,4% dalam sepekan.

Harga kontrak berjangka nikel naik sempat menembus US$18.500 per ton pada Januari, mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Kenaikan ini didorong oleh sentimen investor yang kuat serta kembali munculnya kekhawatiran terhadap pasokan dari Indonesia sebagai produsen utama dunia.

Di tengah lonjakan harga nikel, menarik dilihat lagi kekuatan perusahaan nikel Indonesia.

Setelah kita saring emiten yang cuma jadi kontraktor, tersisa enam jagoan nikel yang beneran punya lahan dan barang. Dari "Goliath" sampai "David", berikut peta kekuatan cadangan nikel mereka berdasarkan data paling fresh tahun 2024.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

Secara data, INCO masih memimpin jauh di atas emiten lainnya. Dalam laporannya, INCO mencatatkan total cadangan mineral lebih dari 1 Miliar Ton. Angka ini merupakan gabungan dari Limonit (untuk baterai) dan Saprolit (untuk stainless steel).

Dengan perpanjangan izin (IUPK) hingga 2035, besarnya cadangan ini memberikan kepastian pasokan bahan baku yang stabil untuk puluhan tahun ke depan. Ini adalah keunggulan kompetitif utama INCO dibanding pesaingnya.

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)

Harita Nickel alias NCKL ternyata pemain kelas berat. Total Estimasi Cadangan dan Sumber Daya mereka tembus 309,7 Juta Ton (WMT).

Kelebihan NCKL adalah efisiensi. Tambang dan pabrik mereka (Smelter RKEF & HPAL) ngumpul jadi satu di Pulau Obi. Ongkos angkut murah, produksi jalan terus. Ini salah satu aset nikel paling produktif di Indonesia saat ini.

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)

MBMA memiliki aset unggulan di tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Laporan 2024 mencatat total cadangan bijih nikel MBMA sebesar 235,37 Juta Ton (dry tonnes).

Kelebihan MBMA adalah asetnya yang terpusat dalam satu area deposit yang sangat besar (world-class asset), bukan tersebar di banyak lokasi kecil. Fokus utama cadangan mereka adalah Limonit (163 juta ton), yang diproyeksikan untuk menyuplai ekosistem baterai kendaraan listrik.

PT Harum Energy Tbk (HRUM)

Lewat anak usahanya PT Position (POS), HRUM mencatatkan angka Sumber Daya (Resources) sekitar ± 215 Juta Ton. Perlu dicatat, statusnya masih "Sumber Daya", yang berarti potensi total yang ada di tanah.

Namun, daya tarik utamanya adalah potensi bijih Saprolit (high grade) yang mencapai 123 juta ton. Bijih kadar tinggi ini memiliki valuasi premium di pasar karena krusial untuk operasional smelter RKEF (feronikel).

PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE)

NICE merupakan emiten papan menengah dengan data cadangan yang rapi. Mereka melaporkan total cadangan 83,4 Juta Ton.

Poin positifnya, sekitar 46,6 juta ton dari total tersebut berstatus Proved Reserves (Cadangan Terbukti). Ini memberikan tingkat kepastian yang tinggi bagi investor mengenai ketersediaan barang yang siap ditambang hingga satu dekade ke depan.

PT PAM Mineral Tbk (NICL)

Total cadangan grup NICL tercatat sebesar 29,6 Juta Ton. Namun, investor perlu memahami strukturnya yakni mayoritas cadangan (21,4 juta ton) berada di anak usaha mereka, PT Indrabakti Mustika (IBM).

Cadangan di tambang induk (PAM) sendiri tercatat tinggal sekitar 8 juta ton. Artinya, kinerja masa depan NICL akan sangat bergantung pada optimalisasi lahan di anak usahanya tersebut.

PT Central Omega Resources Tbk (DKFT)

DKFT mencatatkan kinerja keuangan yang baik di 2024, namun dari sisi aset tambang, perusahaan secara transparan menyebutkan angka 14,34 Juta Ton sebagai "Sisa Cadangan" (residual reserves).

Istilah ini mengindikasikan bahwa tambang DKFT sudah berada di fase matang produksi. Tantangan utama manajemen ke depan adalah melakukan eksplorasi lanjutan atau akuisisi lahan baru untuk memperpanjang umur tambang.

Siapa Pemegang Kendalinya?

Dalam ekosistem hilirisasi yang padat modal, memiliki smelter megah tanpa jaminan pasokan bijih adalah risiko investasi terbesar. Peta kekuatan emiten kini terpolarisasi berdasarkan ketahanan "gudang logistik" mereka.

Di kasta tertinggi, INCO, NCKL, dan MBMA menawarkan "imunitas" terhadap volatilitas pasar. Dengan cadangan terintegrasi ratusan juta ton, mereka adalah pilihan mutlak bagi investor yang mengutamakan keamanan aset jangka panjang.

Di sisi lain, HRUM dan NICE memegang posisi tawar premium dengan menguasai stok Saprolit yang kian langka, menjadikannya mesin pencetak arus kas yang efisien.

Sebaliknya, bagi NICL dan DKFT, pertaruhan investasi kini terletak sepenuhnya pada kemampuan manajemen memperbarui cadangan sebelum inventaris di perut bumi benar-benar habis.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |