Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id): Lonjakan harga minyak mentah dunia di atas 100 dolar AS per barel memberi tekanan besar terhadap pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Pada perdagangan pagi ini Senin (9/3), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga sekitar 5 persen, sementara nilai tukar rupiah terpuruk mendekati level 17.000 per dolar AS.
Harga minyak mentah dunia melonjak di tengah kabar penurunan produksi dari Kuwait dan Irak. Irak bahkan melaporkan produksi minyak mentahnya turun sekitar 70 persen dibandingkan sebelum pecahnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan Selat Hormuz disebut menjadi salah satu faktor utama terganggunya produksi dan distribusi minyak dunia.
Saat ini harga minyak jenis Brent dan WTI ditransaksikan di kisaran 113 dolar AS per barel. Kenaikan tajam tersebut langsung memicu sentimen negatif di pasar keuangan global. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia dibuka melemah pada sesi perdagangan pagi.
Di dalam negeri, IHSG mengalami tekanan cukup dalam. Pada pembukaan perdagangan, IHSG berada di level 7.374 dan terus bergerak turun hingga di bawah level psikologis 7.200, atau melemah sekitar 5 persen.
Sejalan dengan pelemahan pasar saham, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan signifikan. Rupiah pada perdagangan pagi ini tercatat melemah hingga di kisaran Rp16.980 per dolar AS dan berpotensi menyentuh level Rp17.000 per dolar AS jika tekanan pasar terus berlanjut.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama gejolak di pasar keuangan global saat ini.
“Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat membuat pasar sangat sensitif terhadap risiko gangguan pasokan energi dunia. Lonjakan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel jelas menjadi katalis negatif bagi pasar keuangan, termasuk IHSG dan rupiah,” ujar Gunawan.
Menurutnya, kenaikan harga minyak berpotensi memicu tekanan inflasi global yang pada akhirnya dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara.
“Jika harga minyak bertahan tinggi atau bahkan kembali meningkat, maka kebijakan moneter global kemungkinan akan kembali lebih ketat. Bank sentral akan fokus mengendalikan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi,” jelasnya.
Di tengah tekanan pada pasar saham dan mata uang, komoditas emas sebenarnya berpotensi diuntungkan oleh meningkatnya ketidakpastian global. Namun dalam jangka pendek, harga emas masih menghadapi tekanan akibat aksi jual dari sejumlah negara yang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
Saat ini harga emas dunia tercatat berada di kisaran 5.091 dolar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,79 juta per gram.
Meski demikian, Gunawan menilai secara fundamental emas masih memiliki prospek yang kuat di tengah meningkatnya risiko geopolitik global.
“Dalam kondisi ketidakpastian seperti sekarang, emas tetap menjadi aset lindung nilai yang menarik. Tekanan yang terjadi saat ini lebih bersifat sementara,” pungkasnya. (id09)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































