Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
20 March 2026 08:15
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga emas dunia kembali melanjutkan pelemahan pada perdagangan terbaru.
Mengacu dataRefinitiv, harga emas ditutup di levelUS$4.648,23 per troy ons pada Kamis (19/3/2026), harganya ambruk 3,51%.
Harga penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 16 Januari 2026 atau dua bulan terakhir.
Pelemahan tersebut juga memperburuk catatan emas yang ambruk tujuh hari beruntun dengan melemah 10,5%.
Harga emas nyaris tidak bergerak hari ini. Pada Jumat (20/3/2026) pukul 08.04 WIB, harga emas menguat 0,001% keUS$ 4648,39 per troy ons.
Jika ditarik ke belakang, tekanan pada emas terlihat konsisten.
Pada 17-18 Maret, harga masih bertahan di kisaran US$5.000 per troy ons, sebelum akhirnya jatuh drastis pada 19 Maret ke sekitar US$4.648.
Koreksi ini menandai fase pelemahan paling panjang sejak 2023, sekaligus menghapus sebagian reli besar yang terjadi sepanjang 2025.
Sentimen utama datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang justru memicu lonjakan harga energi. Melansir Reuters, harga emas sempat anjlok lebih dari 4% dalam sehari seiring melonjaknya harga minyak di atas US$110 per barel. Kenaikan energi ini meningkatkan risiko inflasi global dan mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga.
Dalam kondisi tersebut, bank sentral utama dunia cenderung menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama. Emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga, menjadi kurang menarik di tengah lingkungan suku bunga tinggi. Menurut analis TD Securities Daniel Ghali, posisi emas yang sebelumnya kuat kini mulai kehilangan fondasi, dengan risiko penurunan masih terbuka dalam jangka pendek.
Selain faktor suku bunga, tekanan juga datang dari aksi ambil untung. Setelah reli panjang sepanjang 2025, pelaku pasar mulai merealisasikan keuntungan dan mengalihkan dana ke aset lain, terutama sektor energi yang kembali menarik di tengah lonjakan volatilitas global.
Llonjakan harga minyak dan gas akibat perang Iran telah mengurangi peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Kondisi ini menjadi kombinasi negatif bagi emas inflasi naik, tetapi suku bunga tetap tinggi, menciptakan tekanan ganda.
Sementara itu, perak ikut terseret dalam tren pelemahan, meski tidak menjadi sorotan utama. Harga perak tercatat turun sekitar 5,3% ke kisaran US$71,39 per troy ons. Bahkan dalam intraday, logam ini sempat merosot lebih dalam sebelum memangkas kerugian, mencerminkan
Arah emas akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik geopolitik dan respons bank sentral terhadap lonjakan inflasi energi. Selama ekspektasi suku bunga tinggi bertahan, ruang pemulihan emas diperkirakan masih terbatas, meski tren jangka panjangnya belum sepenuhnya berubah.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

3 hours ago
1
















































