Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali melandai dalam dua hari beruntun.
Merujuk Refintiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 115,1 per ton atau turun 0,71% pada perdagangan Selasa (3/2/2026).
Harga batu bara sudah ambruk 2,04% dalam dua hari beruntun.
Harga thermal coal (batu bara termal) di China bergerak terbatas menjelang periode liburan dalam negeri, meskipun ada sedikit penguatan di beberapa titik tambang.
Faktor utama yang mempengaruhi pasar saat ini adalah kombinasi permintaan konsumen yang moderat dan perubahan aktivitas produksi di tambang.
Beberapa produsen menaikkan penawaran harga, sementara banyak yang mempertahankan level harga sebelumnya, sehingga secara keseluruhan harga tetap pada kisaran yang sempit.
Kondisi ini menunjukkan bahwa, meskipun ada pembelian kembali (pre-holiday restocking) di beberapa wilayah dan penurunan stok, permintaan akhir masih belum cukup kuat untuk mendorong tren kenaikan harga yang berkelanjutan.
Ketidakpastian permintaan dan pengaruh periode liburan kemungkinan akan terus menjaga harga batu bara termal mine-mouth di rentang terbatas selama beberapa waktu ke depan.
Pasar metallurgical coke di China juga menunjukkan kondisi stabil menjelang liburan Festival Musim Semi (Spring Festival) karena keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Produsen tetap menjaga tingkat produksi yang relatif konsisten dan stok di tingkat rendah, sementara permintaan dari sektor baja juga bersifat moderat. Kombinasi ini membuat pergerakan harga met coke tidak banyak berubah, tercermin dari pasar yang cenderung tenang dan terjaga keseimbangannya dalam jangka pendek. Tren ini diperkirakan tetap berlaku sampai pasar melewati periode liburan.
Sementara itu, Reuters melaporkan penambang Indonesia menghentikan ekspor batu bara spot setelah pemerintah mengusulkan pemangkasan produksi yang dalam, sehingga pembeli di Asia kesulitan memperoleh pasokan dari eksportir terbesar dunia, kata para pelaku industri pada Selasa.
Bulan lalu, Indonesia menetapkan kuota produksi bagi para penambang besar yang 40% hingga 70% lebih rendah dibandingkan level 2025, sebagai bagian dari rencana untuk memangkas produksi hampir seperempat dan mendorong kenaikan harga.
Asosiasi industri utama di dalam negeri menentang langkah tersebut, dengan peringatan bahwa kebijakan ini berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja dan penutupan tambang.
"Produksi masih berjalan, namun belum pada kapasitas penuh, dan pengiriman batu bara akan dibatasi hingga ada keputusan final terkait kuota pemerintah," kata H. Kristiono, Wakil Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), kepada Reuters.
Ia menambahkan bahwa tidak ada kargo spot yang ditawarkan saat ini.
Kontrak jangka panjang masih tetap dihormati, meskipun sejumlah penambang tengah mempertimbangkan pembatalan dengan alasan kondisi tak terduga, lanjut Kristiono.
Usulan ini menjadi gangguan pasokan terbaru yang dipicu kebijakan pemerintah Indonesia, yang bertujuan meningkatkan penerimaan negara di tengah melemahnya permintaan dari pembeli utama seperti China dan India. Sebelumnya, larangan ekspor singkat pada 2022 sempat mendorong harga batu bara melonjak tajam.
Menurut data Kpler, Indonesia menyumbang sekitar setengah dari total 960 juta ton metrik ekspor batu bara untuk pembangkit listrik global pada 2025. Kini, pemerintah tengah mempertimbangkan pemangkasan produksi sebesar 24% menjadi sekitar 600 juta ton, meskipun volume ekspor saja telah melampaui 510 juta ton tahun lalu.
Para pedagang memperkirakan pembatasan tersebut akan mendorong kenaikan harga dan memperketat pasokan. Seorang pedagang asal India mengatakan bahwa kargo batu bara spot Indonesia tidak ditawarkan, bahkan dengan premi US$1-US$2 per ton di atas harga saat ini, dalam ajang konferensi Coaltrans India di New Delhi.
Seorang pedagang berbasis di Singapura menambahkan bahwa pengiriman spot kemungkinan tidak akan kembali berlangsung pada kuartal ini kecuali Indonesia melonggarkan pemangkasan produksi. Kedua pedagang tersebut menolak disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media.
Dampak Kebijakan
Harga batu bara Indonesia berkalori rendah 4.200 kcal/kg naik sekitar 7% pada Januari, menurut pedagang batu bara berbasis di India, I-Energy Natural Resources, setelah muncul laporan mengenai rencana pemangkasan produksi pada pekan pertama bulan tersebut.
Batu bara berkalori rendah mendominasi ekspor Indonesia, dan harganya berpotensi naik 40% hingga 70% jika produksi dipangkas 20%. Sementara itu, harga batu bara berkalori lebih tinggi diperkirakan naik 10% hingga 20%, menurut DBX Commodities yang berbasis di London.
"Guncangan pasokan dari Indonesia mendorong premi batu bara lain ikut naik. Tawaran dari Jepang, China, dan Korea meningkat karena mereka mencari pasokan yang stabil," kata seorang pedagang batu bara di perusahaan utilitas besar Asia.
Namun, pelaku industri menilai preferensi pembeli terhadap batu bara berkalori lebih tinggi dari pemasok lain, serta lemahnya permintaan berkelanjutan dari China dan India, dapat membatasi lonjakan harga yang tajam.
"Pembalikan kebijakan akibat tekanan ketenagakerjaan atau fiskal, perlambatan ekonomi China yang lebih tajam dari perkiraan, serta harga gas yang tetap rendah bisa meredam kenaikan harga batu bara yang diharapkan," kata Alexandre Claude, CEO DBX Commodities.
Direktur I-Energy Natural Resources, Vasudev Pamnani, mengatakan ia memperkirakan akan terjadi guncangan pasokan dan harga dalam jangka pendek bagi pembeli di India.
"Namun jika pemangkasan berlanjut, India memiliki opsi untuk melakukan diversifikasi impor dari Rusia, Afrika Selatan, dan Mozambik," ujarnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)

3 hours ago
3
















































