Harga Batu bara Merosot, Ada Faktor Minyak dan Cuaca Ekstrem

1 hour ago 2

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

01 May 2026 09:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara mengalami sedikit koreksi setelah sebelumnya melonjak secara signifikan.

Berdasarkan pembaruan data terakhir pada pukul 07.10 WIB, harga batu bara acuan ditutup pada level US$ 137,75 per ton, atau terkoreksi tipis 0,04% pada perdagangan Kamis (30/4/2026).

Penurunan ini terjadi setelah harga sempat melesat hingga 3% pada hari Rabu. Posisi penutupan di hari Rabu tersebut merupakan level tertinggi yang dicapai sejak 6 April 2026, atau dalam kurun waktu lebih dari tiga pekan terakhir.

Fluktuasi harga batu bara ini utamanya dipengaruhi oleh dinamika pergerakan harga minyak global, hambatan perdagangan di wilayah Selat Hormuz, serta potensi terjadinya gelombang panas.

Untuk pergerakan harga minyak, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) saat ini terpantau berada di level US$ 105,55 per barel. Di sisi lain, harga minyak acuan global jenis Brent tercatat sebesar US$ 111,31 per barel.

Sentimen harga batu bara juga sangat dipengaruhi oleh ancaman cuaca ekstrem. Berbagai kawasan strategis seperti China, India, dan Eropa saat ini tengah mengantisipasi datangnya gelombang panas selama musim panas yang diperkirakan berlangsung antara bulan Mei hingga Agustus.

Kawasan Eropa kini sedang menghadapi tantangan yang sangat serius pada sektor energinya. Mengutip laporan Montel News, para ilmuwan serta pembuat kebijakan di Uni Eropa telah memberikan peringatan bahwa situasi saat ini sudah memasuki "skenario terburuk", mengingat dampaknya yang mulai menekan produksi energi secara langsung.

Gelombang panas, musim kemarau panjang, serta menyusutnya tutupan salju memberikan tekanan berat pada operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) seiring dengan menurunnya debit air secara drastis.

Berkurangnya sumber daya air juga mengganggu sistem pendingin pembangkit listrik, sementara lonjakan suhu udara meningkatkan risiko kerusakan infrastruktur kelistrikan.

Di Asia, dinamika pasar batu bara di China memperlihatkan tren jangka pendek yang bervariasi. Harga batu bara kokas (coking coal) mencatatkan penguatan jelang libur panjang, ditopang oleh aktivitas penambahan stok (restocking) dari pabrik baja di tengah suplai yang ketat.

Namun, kenaikan ini belum sepenuhnya solid karena permintaan yang masih selektif. Di waktu yang sama, harga batu bara termal (thermal coal) melonjak akibat aksi beli pembangkit listrik, walau pasar tetap waspada akan kemungkinan koreksi harga pasca-libur.

Sementara itu, laporan dari India menunjukkan stok batu bara non-kokas di pelabuhan utama mengalami kenaikan tipis 2,1% pada pekan ke-17 (berakhir pada 25 April) menjadi 14,60 juta ton. Hal ini mengindikasikan bahwa pasokan masih memadai di tengah permintaan yang cenderung melandai.

Secara umum, sentimen pasar saat ini masih diliputi kehati-hatian, di mana para pembeli cenderung bertransaksi secara selektif sesuai dengan kebutuhan operasional mereka masing-masing.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |