Harga Batu Bara Jatuh Lagi Tapi Masih Ada Kabar Bahagia Buat RI

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melandai terus setelah sempat terbang di tengah perang.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 135 atau anjlok 1,7% pada perdagangan Senin (16/3/2026).

Harga batu bara sudah jatuh 2,7% dalam dua hari perdagangan terakhir.

Sebelumnya, harga batu bara sempat terbang hingga mencapai US$ 143,8 per ton pada 9 Maret 2026 di tengah panasnya perang dan melonjaknya harga minyak.

Pasar batu bara termal Asia saat ini menunjukkan tren yang beragam. Harga batu bara dengan kalori tinggi menguat dalam beberapa minggu terakhir, sementara pasar batu bara kelas menengah dan rendah masih lebih volatil.

Aktivitas perdagangan tetap berlangsung di seluruh kawasan, namun para pembeli semakin berhati-hati karena ketidakpastian biaya pengiriman, ketersediaan batu bara domestik di negara konsumen utama, serta risiko geopolitik di pasar energi global.

Pergerakan harga paling kuat terlihat pada segmen batu bara berenergi tinggi. Namun, harga batu bara kalori menengah masih jauh lebih rendah tetapi relatif stabil.

Dikutip dari Bigmint, pasar Indonesia menunjukkan rentang harga yang cukup lebar tergantung kualitas batu bara. Harga ekspor saat ini kira-kira dari 3.400 kcal/kg GAR sekitar US$35-36 per ton FOB menjadi 6.500 kcal/kg GAR: sekitar US$110-111 per ton FOB Indonesia.

Kualitas-kualitas ini banyak digunakan di seluruh Asia tergantung pada jenis pembangkit listrik dan struktur biaya masing-masing perusahaan utilitas.

Di kawasan Atlantik, harga juga tetap kuat. Batu bara termal yang dikirim ke Eropa Barat Laut diperdagangkan sekitar US$120 per ton untuk batu bara 6.000 kcal, sementara harga ekspor dari Amerika Serikat dan Kolombia umumnya berada pada kisaran US$90-95 per ton FOB.

Bagi pembeli di Asia Selatan, harga batu bara yang dikirim masih sangat dipengaruhi oleh biaya pengiriman.

Secara keseluruhan, pasar menunjukkan perbedaan yang jelas: harga batu bara berenergi tinggi tetap kuat, sementara pasar batu bara kelas rendah lebih sensitif terhadap permintaan regional dan biaya pengiriman.

Beberapa faktor utama membentuk pasar batu bara termal saat ini. Faktor paling penting adalah konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Hal ini meningkatkan risiko di jalur pelayaran utama dan menyebabkan volatilitas harga minyak. Kenaikan biaya bahan bakar kapal serta kekhawatiran keamanan bagi kapal juga menyebabkan fluktuasi tarif pengiriman.

Tarif pengiriman di beberapa rute utama dari wilayah eksportir ke Asia telah meningkat, membuat banyak pembeli berhati-hati untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar.

Faktor penting lainnya yang mendukung permintaan batu bara adalah peralihan bahan bakar dari gas ke batu bara.

Kekhawatiran tentang gangguan pasokan gas dan kenaikan harga LNG mendorong sebagian produsen listrik kembali lebih bergantung pada batu bara. Pergeseran ini terutama terlihat di beberapa wilayah Asia di mana pembangkit listrik tenaga batu bara masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan.

Perusahaan listrik di Korea Selatan, Taiwan, dan beberapa negara Asia Tenggara aktif mencari kargo batu bara kalori menengah dan tinggi untuk memastikan pasokan bahan bakar yang aman. Permintaan dari Vietnam, Filipina, dan Bangladesh juga tetap stabil seiring meningkatnya konsumsi listrik.

Di sisi lain, kondisi pasokan di Indonesia juga membantu menopang harga batu bara. Beberapa produsen mengalami keterlambatan dalam memperoleh persetujuan produksi akhir dan kuota ekspor, sehingga volume batu bara yang tersedia untuk ekspor pada awal tahun menjadi terbatas.

Hal ini membantu menjaga harga batu bara Indonesia kelas menengah tetap kuat.

Namun tidak semua pembeli utama aktif di pasar.

Permintaan China terhadap batu bara impor melemah karena harga batu bara domestik saat ini lebih murah dibandingkan batu bara impor. Perusahaan listrik dan pedagang di China lebih memilih membeli batu bara lokal, bahkan beberapa pedagang menawarkan kembali kargo impor ke pasar.

India juga menunjukkan minat beli yang terbatas, tetapi dengan alasan berbeda. Produksi batu bara domestik meningkat tajam dan pembangkit listrik saat ini memiliki stok yang tinggi. Karena persediaan yang cukup nyaman, banyak pembeli India menawar harga lebih rendah dari yang ditawarkan eksportir.

Kombinasi antara permintaan kuat di beberapa pasar dan lemah di pasar lain menciptakan pasar regional yang terfragmentasi.

'Prospek pasar batu bara termal Asia sangat bergantung pada perkembangan pasar energi global dalam beberapa bulan ke depan.

Jika ketegangan di Timur Tengah terus mengganggu pasar minyak dan gas, harga LNG dapat naik lebih lanjut. Harga gas yang lebih tinggi akan mendorong lebih banyak produsen listrik beralih ke batu bara sebagai bahan bakar yang lebih murah dan andal. Peralihan ini akan mendukung permintaan batu bara berenergi tinggi, khususnya batu bara Newcastle Australia.

Batu bara Indonesia kalori menengah juga bisa mendapat manfaat karena menawarkan opsi bahan bakar yang lebih ekonomis bagi banyak negara berkembang di Asia.

Namun ada beberapa faktor yang dapat membatasi kenaikan harga yang terlalu kuat. Di antaranya produksi batu bara domestik di China dan India masih tinggi sehingga kebutuhan impor mereka terbatas.

Biaya pengiriman tetap volatil dan dapat menahan pembelian besar juga berdampak.

Secara keseluruhan, pasar batu bara termal Asia tampaknya memasuki periode keseimbangan, bukan keketatan pasokan ekstrem.

Permintaan batu bara tetap kuat secara struktural di Asia, tetapi kecepatan pembelian akan sangat dipengaruhi oleh biaya pengiriman, ketersediaan batu bara domestik, dan perkembangan pasar energi global.

Jika ketidakpastian pasar energi terus berlanjut, batu bara dapat kembali memainkan peran penting dalam menjaga pasokan listrik di Asia, sehingga permintaan dan harga tetap relatif kuat dalam beberapa bulan mendatang.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |