Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa tektonik berkekuatan M6,7 menghantam wilayah Torue, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah pada hari Selasa (16/6/2026) pukul 10.27.44 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, gempa terjadi di kedalaman 16 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,03° LS; 120,24° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 42 km Tenggara Palu, Sulawesi Tengah. Disebutkan, gempa tersebut merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Sausu. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa bumi memiliki pergerakan turun (normal fault).
Mengutip keterangan resmi BMKG di situs resmi (Selasa, 16/6/2026), sejumlah laporan resmi mengungkapkan kerusakan infrastruktur dan bangunan di daerah terdampak gempa. Wilayah Sigi mencatat dampak kerusakan pada skala intensitas VII MMI, disusul oleh Kota Palu, Parigi Utara, dan Poso pada skala intensitas VI MMI. Kerusakan dengan skala intensitas V MMI juga terjadi di Parigi Moutong dan Banawa Selatan, sementara wilayah Sindue, Balaesang, dan Masamba melaporkan dampak pada skala IV MMI.
Sementara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan data terbaru hingga Rabu (17/6/2026) pukul 06.00 WIB, gempa berdampak terhadap 1.834 kepala keluarga (KK) atau 5.784 jiwa. Sebanyak 73 warga dilaporkan mengalami luka ringan, sementara tiga orang lainnya mengalami luka berat. Adapun jumlah korban meninggal dunia masih tercatat satu orang, tanpa adanya penambahan dari laporan sebelumnya.
Fakta-Fakta & Penjelasan Lengkap Ahli
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, gempa M6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa pagi itu diklasifikasikan sebagai gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake).
"Gempa ini lazimnya dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Kedalaman hiposenter yang dangkal menyebabkan atenuasi gelombang seismik yang minimal, sehingga konsentrasi pelepasan energi atau guncangan maksimum terkonsentrasi pada wilayah di sekitar episenter," kata Daryono, Rabu (17/6/2026).
Dalam hal ini, wilayah tersebut mencakup Kabupaten Palu, Sigi, dan Parigi Moutong. Kondisi hiposenter yang dangkal tersebut memicu fenomena near-field effect yang sangat dominan, di mana amplitudo gelombang seismik tidak mengalami peredaman signifikan sebelum mencapai permukaan tanah.
"Hal ini diperparah oleh adanya kontras impedansi akustik yang tajam antara batuan dasar dengan lapisan sedimen lunak pengisi basin, yang memicu fenomena site amplification atau resonansi lokal, sehingga durasi dan intensitas guncangan pada periode tertentu menjadi jauh lebih destruktif bagi bangunan dengan frekuensi alami yang selaras," jelas Daryono.
Gempa tersebut berlokasi di zona deformasi kompleks. Berdasarkan pemetaan tektonik, episenter gempa tersebut berada dalam zona pengaruh sistem sesar yang meliputi Sesar Sausu, Sesar Palolo, Sesar Malei, Sesar Parigi, Sesar Tokararu, Segmen Sesar Saluki, serta Lorelindu Fracture Zone.
"Gempa ini memiliki mekanisme turun (normal fault). Wilayah Palolo dan Sausu berada dalam zona tarikan (pull-apart) yang dipicu oleh dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan atau pembengkokan pada jalur sesar geser utama menyebabkan kerak bumi di area tersebut mengalami peregangan. Akibat peregangan ini, terbentuk sesar-sesar turun yang berfungsi mengompensasi tarikan tersebut," paparnya.
Karena itulah, Daryono menyebut, gempa tersebut bersifat destruktif alias merusak. Yang kemudian terlihat dari laporan BNPB yang mengungkapkan data-data kerusakan bangunan dan infrastruktur akibat gempa.
"Sesar-sesar turun inilah yang menyebabkan amblesan pada permukaan bumi, sehingga terciptalah cekungan atau basin di zona tersebut yang kemudian terisi oleh sedimen. Inilah yang menjadi kunci mengapa guncangan gempa ini menjadi sangat destruktif," tambah dia.
Di sisi lain, Daryono mengingatkan rentetan peristiwa dalam sejarah gempa di zona yang sama.
"Gempa ini bagian dari sejarah gempa signifikan. Sejarah mencatat bahwa gempa berkekuatan M4,5 pernah terjadi di zona ini pada tahun 1983, disusul oleh gempa Palu-Poso berkekuatan M5,9 pada tahun 1995. Aktivitas seismik berlanjut dengan gempa berkekuatan M4,8 pada tahun 2005. Selain itu, gempa Palu-Poso dengan magnitudo M6,6 yang terjadi pada tahun 2017," bebernya.
"Rangkaian peristiwa tersebut mengindikasikan persistensi ancaman kegempaan yang memerlukan pemahaman komprehensif terkait karakteristik tektonik di kawasan ini," ucap Daryono.
"Dengan mengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah memiliki sistem sesar yang sangat aktif dan kompleks. Mitigasi tidak boleh hanya fokus pada zona sesar utama, tetapi juga pada percabangan sesar-sesar aktif di sekitarnya yang sering kali terabaikan namun berpotensi memicu guncangan hebat," tegas Daryono.
Dia mengingatkan, gempa M6,7 itu kembali menyingkap kerentanan geologis yang mendalam di wilayah ini.
"Sebagai gempa kerak dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman seismik di Sulawesi tidak hanya bersumber dari jalur sesar utama Palu-Koro, melainkan juga dari percabangan sesar kompleks di sekitarnya," tukasnya.
Secara tektonik, sambung dia, kawasan Palolo dan Sausu merupakan zona tarikan atau pull-apart yang terbentuk akibat dinamika Sesar Palu-Koro.
"Pelajaran dari gempa ini sangat jelas, yakni perlunya pergeseran paradigma mitigasi. Kita tidak bisa lagi hanya fokus pada jalur sesar utama yang telah dikenal, namun harus segera mengakselerasi pemetaan mikrozonasi seismik hingga ke tingkat yang lebih detail," cetusnya.
"Pemerintah daerah perlu menjadikan data kerawanan ini sebagai acuan utama dalam penataan ruang, termasuk membatasi pembangunan di atas zona sesar aktif. Mengingat kompleksitas ini, kesiapsiagaan bukan lagi sebuah opsi, melainkan sebuah kebutuhan mutlak bagi kelangsungan hidup di zona seismik aktif seperti Sulawesi Tengah," pungkas Daryono.
Upaya penanganan darurat korban luka pascagempabumi M 6,7 yang mengguncang wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, Selasa (16/6). (Dok: BPBD Provinsi Sulawesi Tengah) Foto: Upaya penanganan darurat korban luka pascagempabumi M 6,7 yang mengguncang wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, Selasa (16/6). (Dok: BPBD Provinsi Sulawesi Tengah)
(dce/dce)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































