Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
17 June 2026 16:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Seluruh dunia sedang menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan diumumkan pada Rabu (17/6/2026) waktu AS atau Kamis (18/6/2026) dini hari waktu Indonesia.
FOMC kali ini juga menjadi penampilan perdana Kevin Warsh sebagai Ketua The Federal Reserve (The Fed). Untuk pertama kalinya, rapat kebijakan moneter bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut dipimpin oleh Warsh yang baru saja dilantik.
Warsh merupakan Ketua The Fed baru yang resmi menggantikan Jerome Powell. Dia mulai menjabat sebagai Chairman The Fed pada Jumat (22/5/2026), setelah sebelumnya dinominasikan oleh Presiden AS Donald Trump dan mendapat persetujuan dari Senat AS. Warsh bukan nama baru di lingkungan The Fed.
Dia pernah menjadi anggota Dewan Gubernur The Fed pada 2006 hingga 2011. Sebelum kembali ke The Fed, Warsh juga dikenal memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan dan pemerintahan.
Meski demikian, melansir CME FedWatch Tool, sebanyak 99,6% pelaku pasar memperkirakan The Fed masih akan menahan suku bunga acuannya di level 3,50%-3,75% dalam pertemuan kali ini.
Probabilitas Foto: CME FedWatch Tool
Berikut ini adalah beberapa hal yang paling dicermati pelaku pasar menjelang pengumuman The Fed malam ini:
1. Suku Bunga
Perhatian utama pasar tetap tertuju pada keputusan suku bunga. Pasar memperkirakan The Fed akan kembali menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%.
Namun, yang lebih penting bagi pasar saat ini bukan hanya keputusan malam ini, melainkan arah kebijakan setelahnya. Pasalnya, The Fed sedang menghadapi situasi yang tidak mudah.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama The Fed adalah inflasi AS yang kembali memanas. Pada Mei 2026, inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) naik 4,2% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 3,8%.
Secara bulanan, CPI AS juga naik 0,5%. Sementara itu, inflasi inti atau core CPI, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 2,9% secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga di AS belum benar-benar reda. Kondisi ini membuat ruang The Fed untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat semakin terbatas.
Situasi semakin rumit karena kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah berisiko membuat inflasi bertahan lebih lama. Jika harga minyak tetap tinggi, tekanan biaya bisa merembet ke transportasi, logistik, produksi, hingga harga barang dan jasa yang dibayar konsumen.
Pada saat yang sama, alasan untuk langsung menaikkan suku bunga pada pertemuan kali ini juga belum cukup kuat. Karena itu, pilihan menahan suku bunga masih menjadi skenario utama yang banyak di prediksi oleh pelaku pasar.
Dengan kondisi tersebut, pasar bukan hanya ingin tahu apakah suku bunga ditahan, tetapi juga apakah The Fed masih membuka ruang pemangkasan suku bunga tahun ini atau justru mulai memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga kembali mungkin terjadi jika inflasi sulit turun.
Jika The Fed terdengar masih hawkish, dolar AS berpotensi menguat. Sebaliknya, aset berisiko seperti saham, emas, dan mata uang negara berkembang bisa bergerak lebih volatil.
2. Proyeksi Ekonomi Terbaru
Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga menunggu pembaruan perkiraan ekonomi dari The Fed. Dalam rapat Juni ini, bank sentral AS akan merilis proyeksi terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan tingkat pengangguran dalam Summary of Economic Projections (SEP).
Pada proyeksi terakhir yang dirilis Maret 2026, The Fed memperkirakan inflasi personal consumption expenditures (PCE) naik menjadi 2,7% pada 2026, dari sebelumnya 2,4% pada proyeksi Desember 2025.
Sementara itu, proyeksi inflasi inti atau core PCE, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi yang volatil dan lebih diperhatikan The Fed, juga naik menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,5%.
The Fed juga tetap memperkirakan tingkat pengangguran berada di 4,4% pada akhir tahun, meskipun data ketenagakerjaan terbaru mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
3. Dot Plot
Selain proyeksi ekonomi, pelaku pasar juga menunggu dot plot The Fed. Dari dot plot inilah pasar membaca arah suku bunga ke depan, termasuk seberapa besar peluang pemangkasan masih terbuka pada 2026 atau pun sebaliknya, peluang naikknya suku bunga ke depan.
Dalam dot plot FOMC Maret 2026, pejabat The Fed masih memberi sinyal pemangkasan suku bunga, tetapi jumlahnya semakin terbatas. Median proyeksi menunjukkan satu kali pemangkasan pada 2026 dan satu kali lagi pada 2027.
Dari 19 peserta FOMC, tujuh orang memperkirakan suku bunga akan tetap tidak berubah sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut bertambah satu orang dibandingkan proyeksi Desember 2025.
Dot plot FOMC Foto: The Fed
Karena itu, pasar akan mencermati apakah dot plot terbaru masih menunjukkan peluang satu kali pemangkasan pada 2026, atau justru semakin banyak pejabat The Fed yang memilih menahan suku bunga hingga akhir tahun.
Sebelum konflik Timur Tengah membesar, pasar sempat memperkirakan The Fed bisa memangkas suku bunga dua kali tahun ini. Namun, kenaikan harga minyak dan inflasi AS yang masih kuat membuat ekspektasi itu turun menjadi paling banyak satu kali pemangkasan.
Jika dot plot terbaru semakin hawkish, dolar AS dan imbal hasil obligasi AS berpotensi menguat. Sebaliknya, saham, emas, dan mata uang negara berkembang bisa bergerak lebih volatil.
4. Respons The Fed terhadap Geopolitik Dunia dan Timur Tengah
Pasar juga akan mencermati bagaimana The Fed merespons perkembangan geopolitik, terutama perang AS-Israel melawan Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Konflik tersebut sempat mereda setelah gencatan senjata pada April. Namun, dampaknya terhadap pasar energi sudah terasa besar. Harga minyak dunia sempat menembus level di atas US$100 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan, sebelum akhirnya kembali turun ke kisaran US$80 per barel.
Kabar baik muncul pada awal pekan ini. Presiden AS Donald Trump pada Minggu (14/6/2026) menyatakan AS dan Iran telah mencapai titik temu untuk menyudahi perang. Perjanjian damai bahkan disebut berpeluang ditandatangani pada Jumat pekan ini di Swiss.
Karena itu, pasar ingin melihat apakah The Fed menilai kabar damai tersebut cukup untuk meredakan risiko inflasi dari energi, atau masih menganggap geopolitik sebagai ancaman yang perlu diwaspadai.
Jika The Fed masih menekankan risiko inflasi dari Timur Tengah, pasar bisa membaca bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Sebaliknya, jika The Fed melihat tekanan geopolitik mulai mereda, harapan pemangkasan suku bunga pada 2026 bisa kembali menguat.
5. Konferensi Pers Kevin Warsh
Setelah keputusan diumumkan, perhatian pasar akan beralih ke konferensi pers Kevin Warsh.
Berdasarkan kalender resmi The Fed, hasil FOMC dijadwalkan keluar pukul 2:00 siang waktu AS Timur dan konferensi pers digelar pukul 2:30 siang waktu AS Timur, atau sekitar pukul 01.00 WIB dan 01.30 WIB pada Kamis dini hari waktu Indonesia.
Konferensi pers kali ini sangat ditunggu karena menjadi konferensi pers pertama Warsh sebagai Ketua The Fed. Dari forum ini, pasar akan membaca gaya komunikasi Warsh, terutama dalam menjelaskan arah suku bunga, risiko inflasi, dan dampak geopolitik terhadap ekonomi AS.
Pasar juga ingin melihat apakah Warsh akan memberi sinyal dovish dengan tetap membuka ruang pemangkasan suku bunga, atau justru terdengar lebih hawkish karena inflasi AS masih panas.
Nada bicara Warsh bisa menjadi penentu arah pasar. Jika terdengar hawkish, dolar AS dan imbal hasil obligasi AS berpotensi menguat. Sebaliknya, jika lebih dovish, aset berisiko dan mata uang negara berkembang bisa mendapat angin segar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































