Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id): Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa publik yang mengkhawatirkan penutupan Selat Hormuz harus bertanya kepada Amerika Serikat yang mengganggu keamanan di perairan tersebut.
“Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh ke kawasan Timur Tengah kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz,” kata Dubes Boroujerdi kepada media saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Dia juga menggarisbawahi bahwa Selat Hormuz tetap dapat dilalui oleh pihak-pihak yang mematuhi protokol yang diterapkan Iran dalam kondisi perang tersebut.
“Selat Hormuz tidak ditutup. Selat Hormuz tetap terbuka. Dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan. Di selat ini hanya diberlakukan protokol lalu lintas khusus untuk saat-saat perang. Pihak-pihak yang mematuhi protokol tersebut dapat dengan mudah melewati Selat Hormuz,” katanya menegaskan.
Diplomat itu menambahkan bahwa Selat Hormuz merupakan tempat di mana Iran menjaga keamanan sejak ratusan tahun yang lalu. Iran, lanjutnya, menjaga keamanan selat demi keamanan di seluruh negara, termasuk Iran itu sendiri, sembari memastikan bahwa tidak boleh ada negara yang memanfaatkan keamanan di selat tersebut.
Terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, Selat Hormuz berfungsi sebagai satu-satunya jalur laut dari Teluk Persia ke laut lepas, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu titik paling vital secara strategis di dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati selat tersebut.
Media Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran telah menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal, dengan menyatakan bahwa jalur air vital untuk minyak dan gas tersebut tidak aman akibat serangan AS dan Israel.
Sejak selat itu ditutup, harga minyak di pasar Asia naik sekitar 13 persen menjadi 80 dolar AS per barel dan berpotensi menembus 100 dolar AS jika penutupan berlangsung lama.
Adapun penutupan lalu lintas di Selat Hormuz turut berdampak pada dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang hingga kini masih berada di area teluk.
Misi tetap Iran untuk PBB membantah klaim bahwa Teheran menutup Selat Hormuz, menyebutnya tidak berdasar dan menuduh Amerika Serikat telah membahayakan keamanan pelayaran di kawasan.
“Klaim bahwa Iran menutup Selat Hormuz tidak berdasar dan tidak masuk akal,” tulis misi tersebut di platform media sosial AS X, menegaskan kembali bahwa Iran “tetap berkomitmen pada hukum internasional dan kebebasan navigasi.”
Menurut pernyataan tersebut fregat Dena, yang mengunjungi India sebagai tamu angkatan laut dengan 130 pelaut di dalamnya, dihantam dan ditenggelamkan “di perairan internasional oleh kapal selam AS tanpa peringatan,” hampir 2.000 mil dari pantai Iran, menewaskan lebih dari 100 pelaut.
“Serangan sembrono ini melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional dan kebebasan navigasi,” kata pernyataan itu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Kamis bahwa serangan itu terjadi pada Rabu di lepas pantai Sri Lanka.
Kapal perang itu sedang dalam perjalanan pulang setelah berpartisipasi dalam latihan angkatan laut di lepas pantai India bulan lalu. Sebanyak 32 pelaut terluka, dan banyak yang hilang.
Serangan terhadap kapal perang di Samudra Hindia ini terjadi di tengah serangan militer Israel dan AS terhadap Iran yang dimulai pada Sabtu, menewaskan sedikitnya 926 korban, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan para pejabat militer tinggi.
Iran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tempat aset militer AS berada.(rep)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































