Jakarta, CNBC Indonesia - Para ekonom menilai Amerika Serikat belum berpotensi berada di ambang resesi apabila perang di Iran terus berlanjut dan memicu gangguan besar pada pasokan minyak global. Hal ini diperkirakan akan mendorong lonjakan harga energi serta komoditas lainnya.
Konsensus tersebut muncul dari survei terhadap 50 ekonom yang dilakukan pada 16-18 Maret oleh The Wall Street Journal, mencakup responden dari bank Wall Street, universitas hingga firma konsultan.
Mayoritas ekonom memperkirakan dampak utama dari lonjakan harga minyak adalah kenaikan inflasi yang bersifat sementara, sementara pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran relatif tidak banyak berubah, selama guncangan energi ini tidak berlangsung lama.
Bernard Baumohl dari Economic Outlook Group mengatakan bahwa ketahanan ekonomi AS sejauh ini cukup mengesankan di tengah tekanan perang di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, tarif tinggi, perkembangan kecerdasan buatan, serta pembatasan imigrasi.
"Namun kita tidak boleh menganggap ketahanan ini sebagai sesuatu yang biasa saja," katanya dilansir dari WSJ, Jumat (20/3/2026).
Dalam survei tersebut, probabilitas resesi dalam 12 bulan ke depan diperkirakan sebesar 32%, naik tipis dari 27% pada Januari. Ketika ditanya pada level harga minyak berapa risiko resesi bisa melampaui 50%, para ekonom memberikan jawaban beragam mulai dari US$90 hingga US$200 per barel, dengan rata-rata di US$138. Sementara itu, durasi harga tinggi yang diperlukan juga bervariasi antara empat hingga 55 minggu, dengan rata-rata sekitar 14 minggu.
Harga minyak AS sendiri ditutup di US$96,32 per barel pada Rabu, jauh di atas rata-rata Februari sekitar US$65. Robert Fry dari Robert Fry Economics bahkan menilai titik krusialnya adalah jika harga mencapai US$125 per barel selama delapan minggu. Ia menambahkan bahwa proyeksinya sangat bergantung pada apakah Selat Hormuz dapat kembali terbuka penuh untuk lalu lintas tanker pada pertengahan April.
"Jika tidak, harga minyak akan jauh lebih tinggi, dan saya akan memasukkan resesi dalam perkiraan saya," kata Robert.
Para ekonom secara rata-rata memperkirakan produk domestik bruto (PDB) riil AS akan tumbuh 2,1% pada kuartal IV-2026 dibandingkan tahun sebelumnya, sedikit turun dari proyeksi Januari sebesar 2,2%. Tingkat pengangguran diperkirakan berada di 4,5% pada Desember, sama seperti proyeksi sebelumnya, dibandingkan 4,4% pada bulan lalu.
Berbeda dengan pertumbuhan, pandangan terhadap inflasi menjadi lebih pesimistis. Indeks harga konsumen diperkirakan naik 2,9% pada Desember 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, lebih tinggi dari proyeksi Januari sebesar 2,6%.
Kenaikan ini tidak hanya didorong oleh harga bensin, karena indeks inti pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi juga diperkirakan naik 2,8%, dibandingkan proyeksi sebelumnya 2,6%. Indikator ini merupakan acuan utama target inflasi Federal Reserve.
Seiring meningkatnya tekanan inflasi, ekspektasi penurunan suku bunga pun berkurang. Federal Reserve pada Rabu mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Para ekonom memperkirakan suku bunga akan berada di sekitar 3,26% pada akhir tahun, yang berarti hanya satu hingga dua kali pemangkasan masing-masing sebesar 25 basis poin. Sebelumnya pada Januari, mereka memperkirakan level 3,08% yang mencerminkan dua kali pemangkasan.
Proyeksi ini kini lebih sejalan dengan pandangan pejabat The Fed yang memperkirakan hanya satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Meski demikian, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa proyeksi tersebut memiliki tingkat ketidakpastian tinggi akibat perkembangan perang.
"Jadi orang-orang menuliskan sesuatu yang tampaknya masuk akal bagi mereka tetapi tidak memiliki keyakinan," kata Powell.
Ketidakpastian serupa juga diungkapkan oleh banyak ekonom. Beth Ann Bovino dari U.S. Bank menyebut proyeksinya disusun saat perang baru dimulai dan kondisi bisa berubah setiap saat.
Sekitar 20 juta barel minyak, atau sekitar 20% pasokan global, biasanya melewati Selat Hormuz setiap hari. Namun kini volume tersebut menurun drastis, sehingga harga minyak sempat menembus US$100 per barel. Harga bensin eceran di AS rata-rata mencapai US$3,84 per galon pada Rabu, naik dari US$2,92 sebulan sebelumnya, menurut AAA. Sementara itu, kontrak berjangka bensin menunjukkan harga berpotensi melampaui US$4 dalam beberapa pekan ke depan.
Meski demikian, para ekonom memperkirakan harga minyak akan turun ke US$86,70 pada Juni dan berakhir di sekitar US$73,54 pada akhir tahun. Ekonom dari California Lutheran University menyatakan bahwa posisi AS sebagai produsen minyak terbesar dunia sejak 2018 membuat harga di kisaran US$80 hingga US$100 per barel tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi ekonomi. Mereka juga mengingatkan bahwa pada 2008, harga minyak WTI pernah mencapai setara US$200 per barel dalam nilai saat ini.
(fsd/fsd)
Addsource on Google

7 hours ago
4
















































