Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek pusat data kecerdasan buatan (AI) senilai US$16 miliar atau sekitar Rp286 triliun memicu protes dari warga di sebuah wilayah perdesaan di Michigan, Amerika Serikat (AS).
Dari Michigan Avenue, Saline Township terlihat seperti kawasan pertanian biasa. Ladang jagung dan kedelai, silo, serta elevator biji-bijian mendominasi pemandangan.
Namun, tidak jauh dari sana, sejumlah crane menjulang tinggi di balik pagar tinggi di lokasi pembangunan proyek senilai US$16 miliar. Proyek ini mengubah kota kecil berpenduduk sekitar 2.400 orang tersebut menjadi pusat konflik terbaru di AS terkait pembangunan pusat data AI.
Konsorsium pengembang yang terdiri dari Oracle, OpenAI, Related Digital, Blackstone, dan Walbridge menjuluki proyek tersebut "The Barn". Pusat data Stargate itu diperkirakan akan membentang di lahan seluas 100 hektare.
Pembangunan proyek terus berjalan meski warga menolak karena khawatir terhadap dampaknya terhadap pasokan air, jaringan listrik, dan karakter pedesaan Saline.
"Sebagian besar orang tidak tertarik dengan pembangunan besar-besaran di sini. Mereka tertarik untuk melindungi lahan pertanian," kata Tammie Bruneau, pemimpin gerakan penolakan warga, dikutip dari Reuters, Jumat (17/7/2026).
Penolakan terhadap pusat data menjadi salah satu isu yang mampu menyatukan pemilih dari berbagai spektrum politik di AS yang sangat terpolarisasi.
Survei Reuters/Ipsos pada Juni lalu menunjukkan hanya sepertiga warga AS yang menyetujui laju pembangunan pusat data saat ini. Hanya 14% responden yang mendukung pembangunan data center di komunitas mereka.
Penolakan itu semakin kuat di Michigan. Sedikitnya 13 pusat data saat ini berada dalam berbagai tahap perencanaan. Warga Saline dan sejumlah wilayah lain pun mulai melakukan perlawanan.
Pengembang bahkan menarik diri dari proyek di Washington Township setelah warga melakukan mobilisasi penolakan. Sementara itu, di Augusta, petisi warga berhasil menunda pembangunan dan memaksa dilakukannya pemungutan suara publik terkait perubahan zonasi.
Seiring meluasnya penolakan, konflik pusat data kini tidak lagi hanya menjadi urusan dewan kota. Para politisi di Michigan dan berbagai wilayah AS mulai menghadapi tekanan untuk merespons kekhawatiran masyarakat.
Isu data centerjuga mulai memengaruhi politik Michigan. Pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Senat AS akan berlangsung pada 4 Agustus. Hasilnya akan ikut menentukan keseimbangan kekuatan politik di Washington.
Para kandidat kini harus menimbang potensi ekonomi dari pengembangan AI dengan kekhawatiran pemilih.
Bagi banyak warga AS, penolakan terhadap pusat data tidak terpisahkan dari kekhawatiran yang lebih luas terhadap masa depan AI dan kekuatan perusahaan teknologi besar.
"Sepertinya perusahaan teknologi besar seperti menggilas warga," kata Jeff Samoray, 57 tahun, seorang anggota Partai Demokrat yang tinggal di Huntington Woods, dekat Detroit.
Haley Stevens, kandidat dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, mengambil posisi sebagai pendukung teknologi. Ia menyebut AI sebagai "teknologi revolusioner".
Dalam debat pekan lalu, Stevens mengaitkan pembangunan pusat data dengan penciptaan lapangan kerja. Menurutnya, proyek tersebut dapat menempatkan Michigan "di garis depan inovasi dan manufaktur". Namun, ia juga meminta perusahaan teknologi membayar biaya air dan utilitas mereka.
Sementara itu lawannya, Abdul El-Sayed, meluncurkan platform kebijakan pada bulan lalu. Ia mengusulkan agar perusahaan AI beroperasi sebagai perusahaan untuk kepentingan publik dengan pengawasan pemerintah yang lebih besar.
El-Sayed belum menyerukan moratorium nasional terhadap pembangunan pusat data, seperti yang dilakukan sejumlah kelompok sayap kiri Partai Demokrat. Namun, ia mengatakan moratorium di tingkat lokal mungkin diperlukan.
"Sering kali komunitas lokal tidak memiliki kapasitas untuk menghadapi tekanan yang dapat diberikan perusahaan-perusahaan besar kepada mereka," kata El-Sayed.
Pada akhirnya, ia menambahkan, perlindungan harus berasal dari pemerintah federal.
Samoray menilai kedua kandidat belum mengambil sikap yang cukup tegas.
"Retorikanya bagus, tetapi saya tidak tahu apakah semua itu benar-benar akan terjadi," ujarnya. Ia menggambarkan industri AI sebagai "kereta yang melaju tanpa kendali".
Pemerintahan Presiden Donald Trump, yang memprioritaskan percepatan pengembangan AI untuk bersaing dengan China, juga mulai memperhatikan perubahan sentimen pemilih.
Reuters melaporkan pada 13 Juli bahwa Gedung Putih sedang bekerja sama dengan perusahaan utilitas dan pengembang pusat data untuk membuat komitmen sukarela guna melindungi pembayar pajak dari beban biaya ekspansi AI.
"Para politisi dari kedua partai benar-benar memiliki pandangan yang sangat beragam," kata Lisa Wozniak, Presiden Michigan League of Conservation Voters.
(dem/dem)
Addsource on Google

6 hours ago
1

















































