Amankan Stok Domestik, RI Jajaki Tambahan Impor Minyak dari Brunei

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membidik potensi tambahan impor minyak bumi dari Brunei Darussalam untuk mengamankan ketersediaan stok energi domestik. Selain untuk mendiversifikasi sumber pasokan, ini sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah kondisi geopolitik global yang penuh dengan ketidakpastian. 

Dalam acara Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan kapasitas produksi minyak Brunei mencapai 100.000-110.000 barel per hari (bph). Hal itu membuka peluang kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

Perlu diketahui, RI selama ini juga sudah mengimpor minyak mentah dari Brunei Darussalam.

"Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman," jelas Bahlil di Tokyo, Jepang, dilansir dari keterangan resmi, dikutip Senin (16/3/2026).

Selain itu, pertemuan tersebut juga menyoroti ketertarikan Brunei terhadap transformasi energi di Tanah Air. Brunei sendiri berminat mempelajari pengalaman Indonesia dalam melakukan diversifikasi pembangkit listrik melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) guna mengurangi dominasi gas bumi.

"Ini adalah momentum emas bagi kolaborasi kawasan. Brunei melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai macam sumber energi, dimana Brunei memanfaatkan 99% dari gas untuk pembangkit listriknya dan ingin mengurangi porsi pemanfaatan gas untuk pembangkitnya," tambahnya.

Hal itu pun dinilai sejalan dengan target Brunei yang sedang bersiap meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit listrik hingga lima kali lipat, yakni menambah 4 Giga Watt (GW) dari kapasitas saat ini sebesar 1 GW.

Selain di sektor kelistrikan, Brunei juga menunjukkan minat terhadap teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang telah diterapkan oleh PT Pertamina (Persero) untuk menguras minyak dari sumur-sumur tua.

Di lain sisi, Deputy Minister (Energy) at the Prime Minister's Office Brunei Darussalam Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah mengatakan ketertarikan negaranya terhadap penerapan teknologi hulu migas tersebut.

"Kita tertarik di Indonesia, sebab ada teknologi EOR yang sudah diterapkan. Kita sudah menggunakan water flooding dan kita percaya kita bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR," ujarnya.

Merespons minat tersebut, pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi kerja sama dengan Brunei. Bahlil memastikan akan menjembatani pertukaran pengetahuan agar kedua negara dapat saling meningkatkan kapasitas produksi energi masing-masing.

"Kami siap melakukan kerja sama untuk sharing pengalaman dan pengetahuan untuk berbicara teknis, nanti akan saya siapkan dengan senang hati untuk berbagi dan belajar," ujar Bahlil.

Sebagai tindak lanjut, Indonesia juga mengundang Brunei untuk memperluas investasinya melalui kerangka Koridor Ekonomi Indonesia (KEI). Skema investasi tersebut diarahkan pada pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di wilayah terpencil (remote area) serta program peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor hulu migas hingga energi terbarukan.

(wia)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |