Aktivis HAM Aceh, Farhan Syamsuddin, mengingatkan potensi krisis kemanusiaan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Waspada.id/ ist
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
BANDA ACEH (Waspada.id): Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) asal Aceh, Farhan Syamsuddin, Kamis (5/3/2026), mengingatkan dunia internasional agar tidak mengabaikan dampak kemanusiaan dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Menurut Farhan, setiap bentuk provokasi militer yang mengancam kedaulatan suatu negara berpotensi memicu konflik yang lebih besar dan pada akhirnya menempatkan masyarakat sipil sebagai korban utama.
“Sebagai aktivis HAM, perhatian kita harus tertuju pada keselamatan warga sipil. Setiap konflik bersenjata selalu meninggalkan penderitaan panjang bagi masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam perang,” kata Farhan dalam keterangannya.
Ia menilai berbagai tindakan agresif yang terjadi di kawasan tersebut berpotensi melanggar prinsip hukum internasional serta mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh negara-negara di dunia.
Farhan menjelaskan, sejarah konflik di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa eskalasi militer antara negara-negara besar hampir selalu berujung pada penderitaan masyarakat sipil. Infrastruktur hancur, aktivitas ekonomi lumpuh, dan jutaan warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka demi menyelamatkan diri dari konflik bersenjata.
“Perang tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Yang terjadi justru memperpanjang rantai kekerasan, memperdalam krisis kemanusiaan, dan menambah penderitaan masyarakat yang tidak bersalah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengalaman konflik panjang yang pernah dialami Aceh menjadi pelajaran berharga mengenai dampak kemanusiaan dari perang. Bertahun-tahun konflik bersenjata di Aceh telah meninggalkan luka sosial yang tidak mudah dipulihkan, mulai dari trauma masyarakat hingga kerusakan ekonomi dan sosial.
“Sejarah Aceh mengajarkan bahwa konflik bersenjata hanya meninggalkan trauma dan penderitaan. Karena itu dunia internasional harus belajar dari pengalaman tersebut agar tragedi serupa tidak kembali terulang di tempat lain,” kata Farhan.
Lebih lanjut, Farhan memperkirakan jika konflik terbuka antara kekuatan besar benar-benar terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah. Ketegangan tersebut berpotensi memicu krisis kemanusiaan global, termasuk gelombang pengungsi baru, meningkatnya ketidakstabilan ekonomi dunia, hingga ancaman krisis pangan di berbagai negara.
Selain itu, eskalasi konflik yang melibatkan Israel juga dinilai berisiko memicu reaksi luas di dunia Islam, mengingat keterkaitannya dengan isu Palestina yang hingga kini belum menemukan penyelesaian yang adil dan berkelanjutan.
“Jika situasi ini terus memburuk, bukan tidak mungkin akan muncul gelombang solidaritas global yang semakin memperkeruh situasi politik internasional,” ujarnya.
Farhan juga menekankan pentingnya peran negara-negara besar dan lembaga internasional untuk mengedepankan dialog serta jalur diplomasi sebagai solusi penyelesaian konflik.
Menurutnya, pendekatan militer hanya akan memperluas medan konflik dan memperbesar jumlah korban sipil. Karena itu, komunitas internasional harus mengambil langkah cepat untuk menahan eskalasi ketegangan yang semakin meningkat.
Farhan pun mendesak Pemerintah Indonesia agar lebih aktif mendorong upaya diplomasi di tingkat internasional, termasuk melalui forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), guna meredam ketegangan yang terjadi.
Ia menilai Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia serta memiliki pengalaman diplomasi internasional yang cukup kuat dalam mendorong perdamaian.
“Diplomasi harus menjadi jalan utama. Dunia tidak boleh membiarkan provokasi ini berkembang menjadi konflik besar yang merugikan kemanusiaan,” tegasnya.
Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dalam ketegangan tersebut dapat menahan diri dan mengedepankan kepentingan kemanusiaan di atas kepentingan politik maupun militer. “Ketika perang terjadi, yang paling menderita bukanlah para pemimpin negara, tetapi masyarakat sipil. Karena itu, keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan politik global,” pungkas Farhan. (Id69)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































