7 Update Arab: Iran Ancam Perusahaan AS-Raksasa NATO Warning Israel

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik bersenjata di Timur Tengah semakin membara dengan serangkaian serangan udara, ancaman sabotase ekonomi, hingga ketidakpastian politik di level tertinggi yang melibatkan kekuatan global. Eskalasi ini tidak hanya menghantam pusat-pusat pemerintahan dan fasilitas militer, tetapi juga mulai menyasar infrastruktur energi vital yang mengancam stabilitas pasokan minyak dunia.

Berikut adalah sejumlah perkembangan terbaru mengenai perang di Timur Tengah, pernyataan mengejutkan Donald Trump mengenai kondisi pemimpin baru Iran, hingga ancaman terhadap perusahaan Amerika Serikat sebagaimana dikutip AFP, Selasa (17/3/2026):

Trump Bicara Soal Khamenei

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan mengejutkan mengenai ketidakjelasan kepemimpinan di Teheran saat ini. Trump mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, masih hidup atau sudah tewas di tengah kecamuk perang.

"Kami tidak tahu apakah dia sudah mati atau belum," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Ketidakpastian ini membuat Washington berada dalam posisi sulit untuk menentukan langkah diplomasi. Trump menambahkan bahwa saat ini pihak Amerika Serikat merasa tidak jelas mengenai dengan siapa mereka harus melakukan negosiasi di pemerintahan Teheran.

Ancaman Garda Revolusi terhadap Perusahaan AS

Kondisi keamanan warga dan korporasi Amerika Serikat di kawasan tersebut kini berada dalam bahaya besar setelah munculnya ancaman langsung dari militer Iran. Garda Revolusi Iran secara resmi mengancam akan menargetkan perusahaan-perusahaan milik Amerika Serikat yang beroperasi di seluruh wilayah Timur Tengah.

"Karyawan perusahaan-perusahaan Amerika diminta untuk segera meninggalkan area tersebut. Wilayah-wilayah ini akan segera menjadi target Korps Garda Revolusi Islam," demikian pernyataan resmi Garda Revolusi melalui situs web Sepah News.

Serangan Hotel di Baghdad dan Ladang Minyak UAE

Ketegangan fisik meningkat pada Senin (17/03/2026), ketika sebuah proyektil menghantam atap sebuah hotel di Zona Hijau Baghdad, Irak, yang merupakan kawasan diplomatik ketat tempat Kedutaan Besar AS berada. Kementerian Dalam Negeri Irak mengonfirmasi insiden tersebut namun menyatakan tidak ada korban jiwa atau kerusakan besar akibat proyektil yang mendarat di bangunan itu.

Di tempat lain, serangan pesawat nirawak atau drone menyebabkan kebakaran hebat di ladang minyak utama milik Uni Emirat Arab (UEA). Otoritas di Abu Dhabi mengonfirmasi bahwa mereka tengah menangani kebakaran di ladang minyak Shah akibat serangan tersebut, yang terjadi di tengah rentetan serangan drone dan rudal Iran di sepanjang wilayah Teluk.

Gangguan Ekspor Minyak dan Krisis Selat Hormuz

Raksasa energi milik negara UEA, ADNOC, dilaporkan telah menghentikan proses pemuatan minyak ke tangki penyimpanan di fasilitas Fujairah. Langkah ini diambil menyusul serangan berulang yang menargetkan instalasi energi di pelabuhan strategis tersebut, yang posisinya berada tepat di pintu masuk Selat Hormuz.

Terkait jalur pelayaran vital tersebut, Donald Trump mendesak sekutu-sekutu Amerika Serikat untuk bergabung dalam upaya mengamankan Selat Hormuz setelah Iran menutup jalur tersebut. Trump meminta antusiasme lebih dari negara-negara lain, meskipun kekuatan Eropa sejauh ini menolak misi NATO untuk membuka kembali jalur air tersebut.

"Saya percaya Prancis dan Inggris pada akhirnya akan terlibat, meskipun mungkin dengan sedikit rasa enggan," kata Trump.

Raksasa NATO Warning Israel

Di perbatasan Utara, kelompok Hezbollah menyatakan telah menargetkan pasukan dan kendaraan militer Israel di tiga kota perbatasan Lebanon. Serangan ini merupakan respons atas pengumuman militer Israel yang memulai operasi darat terbatas di wilayah Lebanon.

Namun, langkah militer Israel ini mendapatkan kritik tajam dari sekutu Baratnya. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, memperingatkan bahwa serangan darat Israel ke Lebanon adalah sebuah kesalahan besar yang akan memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat tegang.

"Kami mendesak teman-teman Israel kami: Jangan menempuh jalan ini, itu akan menjadi sebuah kesalahan," tegas Merz.

Krisis Kemanusiaan dan Kerusakan di Yerusalem

Dampak kemanusiaan di Lebanon kian memprihatinkan dengan laporan pihak berwenang yang menyebut lebih dari satu juta orang telah terdaftar sebagai pengungsi sejak perang pecah pada 2 Maret lalu. Kementerian Kesehatan Lebanon juga melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah melonjak menjadi 886 orang.

Sementara itu, sisa-sisa pertempuran mulai mengotori situs-situs suci di Yerusalem. Kepolisian Israel melaporkan temuan fragmen rudal dan pencegat di Kota Tua Yerusalem, termasuk di area dekat Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Kudus.

"Selama rentetan rudal terbaru yang ditembakkan dari Iran menuju Yerusalem, beberapa pencegatan terjadi di atas kota tersebut," ungkap pihak kepolisian Israel.

Jenderal Milisi Pro-Iran di Irak Tewas

Di Irak, kelompok bersenjata kuat Kataeb Hezbollah mengumumkan kematian komandan keamanan senior mereka, Abu Ali al-Askari. Al-Askari, yang juga merupakan juru bicara utama kelompok tersebut, tewas tanpa rincian lebih lanjut mengenai penyebab kematiannya.

Selain itu, dua drone dilaporkan menargetkan ladang minyak Majnoon di Irak selatan, di mana salah satu drone menghantam menara telekomunikasi. Juru bicara kementerian perminyakan Irak, Saheb Bazoun, mengonfirmasi serangan tersebut namun memastikan tidak ada kerusakan fatal yang terjadi.

"Ladang minyak Majnoon ditargetkan oleh dua drone, satu mengenai menara telekomunikasi," jelas Bazoun.

Di wilayah barat Irak, sebuah serangan di dekat perbatasan Suriah menewaskan sedikitnya empat pejuang dari koalisi paramiliter Hashed al-Shaabi. Pejabat Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) langsung melontarkan tuduhan kepada Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan yang menyasar pos pemeriksaan tersebut.

(tps/tps)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |