Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengungkapkan bahwa lembaganya juga mengantisipasi lonjakan permintaan bantuan keuangan dari negara-negara terdampak konflik.
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id): Dampak konflik di Timur Tengah mulai menekan prospek ekonomi dunia. International Monetary Fund (IMF) mengisyaratkan akan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global seiring meningkatnya risiko dari perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengungkapkan bahwa lembaganya juga mengantisipasi lonjakan permintaan bantuan keuangan dari negara-negara terdampak konflik.
IMF bahkan telah menyiapkan dana dukungan hingga US$50 miliar untuk membantu negara-negara yang mengalami tekanan ekonomi akibat perang.
“Kami memperkirakan permintaan dukungan neraca pembayaran dalam jangka pendek akan meningkat antara US$20 miliar hingga US$50 miliar,” ujar Georgieva, dikutip dari The Straits Times, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, angka tersebut masih bisa berada di batas bawah apabila gencatan senjata dapat bertahan. Namun, ketidakpastian di lapangan membuat risiko tetap tinggi.
Konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu gangguan serius pada rantai pasok global, terutama di sektor energi. Lonjakan harga dan hambatan distribusi menjadi tekanan utama bagi banyak negara.
Georgieva menyoroti dampak krisis yang bersifat “asimetris”, di mana negara-negara berpenghasilan rendah yang bergantung pada impor energi menjadi pihak paling terdampak.
“Bayangkan negara-negara kepulauan Pasifik yang berada di ujung rantai pasok panjang, yang kini mempertanyakan apakah pasokan bahan bakar masih bisa sampai,” ujarnya.
Selain itu, IMF juga memastikan akan merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global dalam waktu dekat. Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, pemulihan ekonomi dinilai tidak akan berjalan mulus.
“Tidak akan ada pemulihan yang rapi kembali ke kondisi sebelumnya,” tegas Georgieva.
Ia menambahkan, kenaikan biaya energi, kerusakan infrastruktur, gangguan distribusi, hingga turunnya kepercayaan pasar menjadi faktor utama yang menekan prospek pertumbuhan global.
Dengan kondisi ini, dunia dihadapkan pada risiko perlambatan ekonomi yang lebih dalam, terutama jika konflik berkepanjangan dan disrupsi pasokan energi tidak segera teratasi. (invid)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































